Viral “Garam dan Madu” Sinyal Pudarnya Sastra dalam Permusikan Indonesia?
Fenomena Musik Hipdut Tak Tahan Lama

Menurut dosen seni drama, tari, dan musik (Sendratasik) Universitas Negeri Surabaya, Arif Hidajad, kemunculan genre seperti hipdut bukanlah hal yang mengejutkan jika melihat bagaimana sejarah musik di Indonesia terus bergerak mengikuti arus zaman.
“Setiap generasi punya sejarahnya sendiri. Dulu dangdut itu bahkan tidak disukai, tapi sekarang digemari karena ada sentuhan baru,” ujar Arif.
Lagu Garam dan Madu adalah contoh bagaimana musik dangdut bisa diremajakan dengan sentuhan genre yang lebih global seperti hip-hop. Namun Arif mengingatkan, musik seperti ini umumnya bersifat segmented dan temporer, terutama karena sangat bergantung pada selera pasar.
“Sekarang muncul lagi dengan nuansa yang lebih segar, dangdut dipadukan dengan hip-hop. Kalau ini nanti masuk industri, pasti akan berubah lagi. Karena musik-musik seperti ini sifatnya segmented dan temporer,” jelasnya.
Arif menyoroti, meski musik seperti hipdut mudah viral dan diterima generasi muda, namun ketahanannya belum tentu kuat. Pasar musik bergerak cepat, dan audiens muda seperti Generasi Z dikenal cepat berpindah selera.
“Musik yang mengikuti pasar tidak akan bertahan lama. Beda dengan lagu-lagu yang lahir dari sentuhan dan dedikasi seniman seperti lagu Bongkar-nya Iwan Fals di era 1980-an itu bertahan lintas generasi, anak muda zaman sekarang masih tahu dan bisa menyanyikannya. Lagu-lagu seperti itu lahir dari dedikasi dan kesadaran seniman, bukan dari kejaran pasar,” tambahnya.
Namun, kata Arif, tak bisa dipungkiri, hipdut berhasil menyentuh hati pendengar, khususnya Gen Z. Beat dinamis hip-hop yang dibalut melodi dangdut yang melankolis menciptakan pengalaman musik tersendiri. Unsur tradisi tetap hadir melalui instrumen kendang, yang memberi ruang nuansa khas musik lokal.
“Ketika kendang masuk, itu seperti memberikan napas pada lagu. Ada sentuhan budaya yang kuat, bahkan ketika dibalut beat hip-hop yang berbasis elektronik. Kendang menjadi semacam simbol keterikatan pada akar budaya, meski konteks musiknya sangat kontemporer,” jelas Arif.
Arif menyebutkan, fenomena seperti ini bisa dibaca sebagai bentuk enkulturasi dan inkulturasi. Hipdut mencerminkan upaya anak muda untuk menciptakan sesuatu yang baru tanpa kehilangan jejak budaya. “Seperti campursari dan dangdut koplo, itu bentuk perimbangan budaya. Tidak berat ke modernitas, tidak juga ke tradisionalitas. Masih seimbang,” ujarnya.
Namun, Arif juga menyayangkan bahwa musik-musik yang bersifat reflektif atau mengandung kritik sosial cenderung tak mendapat tempat di industri musik masa kini. Menurutnya, musik yang mengikuti pasar hanya akan menyesuaikan tren, bukan menyuarakan keresahan atau kesadaran sosial.
“Musik yang punya unsur kritik biasanya punya penggemar loyal, tapi kehilangan pasar. Industri tidak mengakomodasi itu. Lirik lagu kini ramai-ramai menyesuaikan tren pasar. Tak salah. Tapi porsinya seharunya berimbang,” pungkasnya. (tim redaksi)
Tampilkan SemuaTags: hari musik, hipdut, irama riang, lirik vulgar, superradio.id, tren musik
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.




