Viral “Garam dan Madu” Sinyal Pudarnya Sastra dalam Permusikan Indonesia?

Rudy Hartono - 16 April 2025

Terjadi Penurunan Estetika

Redy Eko Prastyo, Pengurus Dewan Kesenian Jawa Timur Bidang Departemen Musik (foto:ist)

Pengurus Dewan Kesenian Jawa Timur Bidang Departemen Musik, Redy Eko Prastyo mengatakan, dalam perkembangannya, kualitas musik, utamanya di estetika dan moralitas mengalami penurunan. Saat ini, mencari seniman musik yang idealis sulit sekali. Dengan perkembangan internet dan teknologi, siapapun bisa menjadi composer.

“Saat ini yang diperkuat hanya pada proses industrinya saja, misalnya saja soal royalti. Harusnya yang dibangun adalah perspektif sosial. Karya harus membentuk pasar, bukan karya yang mengikuti pasar atau sekadar popularitas semata,” ujarnya.

Dosen Fakultas Vokasi, Departemen Industri Kreatif dan Digital, Program Studi Design Grafis Universitas Brawijaya Malang menambahkan, harusnya perlu disadari bahwa  musik memiliki pengaruh dalam membangun afirmasi dan perilaku.

“Misalnya saja anak-anak sekarang yang banyak konsumsi lagu-lagu vulgar seperti Mendem Wedokan (Mabuk Perempuan) atau Bojo Loro (Punya Dua Istri). Lirik lagu yang kontroversial itu  bisa dianggap sebagai hal yang normal dan celakanya bisa menjadi perilaku dalam kehidupan,” jelasnya.

Menurutnya, perlu ada regulasi, baik di tingkat pusat maupun daerah yang mengatur tentang lirik lagu, utamanya lirik yang mengandung bahasa ibu. Hal ini penting, karena audio atau apa yang didengarkan jauh lebih berbahaya pengaruhnya dibanding visual. Dalam efek jangka panjang, akan menimbulkan  kebiasaan di alam bawah sadar dan menjadi perilaku yang dibiasakan. Hingga akhirnya menjadi normalisasi yang melanggar kaidah nilai.

“Perlunya adanya lembaga sensor terhadap lirik lagu. Selama ini yang ada hanya film dan visual. Adakah intervensi teknologi di bidang itu? Sayangnya, musik masih dianggap bukan media yang strategis dan masih dinilai sekunder atau semacam hiburan semata. Harusnya dikuatkan kaidah nilainya,” pria yang juga sebagai penggiat Jaringan Kampung Nusantara ini.

Pekerjaan rumah terberat saat ini, kata Redy adalah kualitas lirik musik. Pada era musik 60-an hingga 90-an, lirik musik yang dihasilkan memiliki tingkat refleksi dan bahasa estetik yang tinggi, mulai dari jenis lagu cinta hingga fenomena sosial. Di era sekarang,  lirik musik lebih bersifat instan dan cenderung memenuhi pangsa pasar.

Yang perlu disadari, musik memiliki peran sebagai media penyampai atau media komunikasi yang sangat signifikan pengaruhnya. Misalnya saja dalam lirik musik yang dibawakan Sukatani. “Saat ini lirik banyak yang dikesampingkan. Lirik saat ini hanya untuk kebutuhan mudah didengar dan bertujuan hanya sekadar supaya cepat laku,” tegasnya.

Tampilkan Semua

Tags: , , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.