Sambut Tamu, Begini Tata Kramanya Menurut Tradisi Jawa

Yovie Wicaksono - 10 March 2023

SR, Surabaya – Tata krama adalah suatu aturan yang diwariskan turun temurun untuk mengatur hubungan antar individu dengan tujuan untuk menghormati, menunjukkan pengertian dan penghargaan menurut adat yang berlaku di suatu masyarakat.

Tata krama umumnya mengandung nilai lokal. Artinya, hanya berlaku pada daerah tertentu saja, sehingga tata krama satu suku bangsa dan yang lainnya bisa berbeda-beda.

Dalam tata krama Jawa, ada etika dan sopan santun yang harus dipenuhi. Hal ini tidak terlepas dari sifat halus dan kasar. Tata krama Jawa mengatur semua hubungan mencakup antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan lingkungan dan manusia dengan manusia yang lainnya. Etika yang ada antara manusia dan manusia dibedakan dalam tata krama Jawa.

Tata krama yang akan kita ulas kali ini adalah tata krama Jawa dalam konteks menerima tamu. Terdapat sejumlah etika menyambut tamu yang biasa dilakukan masyarakat Jawa.

1. Gupuh

Kata gupuh berasal dari “tergopoh-gopoh” atau “tergesa-gesa”. Dalam konteks ini, gupuh bermakna¬† perasaan antusias dan gembira dalam menerima tamu.

Tidak jarang tamu yang datang mendadak, membuat tuan rumah seakan tergesa-gesa dalam menyambut dan memberikan yang terbaik untuk tamu, hingga rela meninggalkan pekerjaan rumah yang sedang dilakukan.

2. Rengkuh

Kata rengkuh di sini bermakna menarik tamu dengan kehangatan. Tuan rumah mempersilakan tamu untuk masuk ke dalam rumah dan menyambutnya dengan ramah.

3. Lungguh

Tidak sekadar mempersilakan tamu untuk masuk ke dalam rumah saja, semestinya tuan rumah juga mempersilakan tamu untuk “lungguh” atau duduk dalam bahasa Indonesia.

Dalam adat Jawa, jika tamu belum diajak untuk duduk, artinya belum “disumanggakne” atau dipersilakan.

4. Aruh

Setelah duduk, umumnya sang tuan rumah akan “aruh”¬† yang bermakna menyapa, menanyakan kabar atau membuka pembicaraan.

Sebagai tuan rumah, hendaknya bersikap “nguwongne uwong” atau menghargai orang lain. Misalnya dengan membuka percakapan agar silaturahmi dapat berjalan dengan hangat.

5. Suguh

Istilah ini sepertinya sudah mengakar di seluruh wilayah Indonesia. Tamu yang datang, biasanya akan diberikan suguhan atau hidangan oleh tuan rumah. Hal ini sebagai bentuk penghargaan kepada tamu yang rela datang dan telah menempuh perjalanan demi bertamu ke rumah kita.

Demikian lima tata krama masyarakat Jawa dalam menyambut tamu. Kita bisa mengimplementasikan kelima tata krama tersebut saat kedatangan tamu di rumah. (*/vi/red)

Tags: , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.