Puan Hayati Belajar Sejarah ke Bupati Pertama Gresik K.T Poesponegoro

Rudy Hartono - 2 June 2026
Kegiatan HUT ke -9 Puan Hayati di Makam K.T Poesponegoro, Jalan Pahlawan, Kecamatan Gresik, Senin, (1/6/2026).

SR, Gresik – Perempuan Penghayat Kepercayaan (Puan Hayati) Indonesia memiliki cara tersendiri untuk merayakan hari ulang tahun (HUT) ke-9. Anggota Puan Hayati berdoa dan belajar sejarah di Makam Kyai Tumenggung (K.T) Poesponegoro yang tidak lain merupakan Bupati Pertama Gresik, di Jalan Pahlawan, Kecamatan Gresik, Senin, (1/6/2026).

Para anggota Puan Hayati Gresik diajak untuk mendoakan Kyai Tumenggung Poesponegoro sebelum mendengarkan perwakilan Yayasan Kyai Tumenggung. Poesponegoro bercerita sosok dan sejarah Kyai Tumenggung Poesponegoro menjadi Bupati Pertama Gresik.

Ketua Puan Hayati Kabupaten Gresik, Suparni mengatakan, sebagai perempuan penghayat harus mengenang dan melestarikan budaya yang ada di Kabupaten Gresik.

“Salah satunya yaitu dengan mengenal sejarah dan perjalanan Bupati pertama Gresik yaitu Kyai Tumenggung Poesponegoro. Nantinya, ketika berada di luar Gresik bisa cerita, bagaimana sejarah di Gresik ini kepada orang lain dan nantinya untuk anak cucu kita nanti,” kata Suparni.

Lebih lanjut Suparni mengatakan, suasana di lingkungan makam K.T Poesponegoro. Sehingga membuat semangat dari masyarakat minoritas untuk menyelenggarakan kegiatan.

“Jujur, suasana di sini sangat menyentuh dan bisa mendoakan leluhur adalah kewajiban kita sebagai orang yang masih hidup. Selain itu, kami sebagai Puan Hayati ingin menunjukkan bahwa kami bisa menyelenggarakan kegiatan positif kepada masyarakat,” imbuhnya.

Dalam merayakan Hari ulang tahun ke-9, Puan Hayati mengusung tema “Niti Lampah Leluhur” dengan makna bahwa manusia yang masih hidup harus mengingat leluhur yang telah tiada.

“Niti Lampah Leluhur ini dihadiri oleh ibu-ibu Puan Hayati, perwakilan Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI), Formagam dan Yayasan Kyai Tumenggung Poesponegoro,” katanya.

Kegiatan HUT ke -9 Puan Hayati di Makam K.T Poesponegoro, Jalan Pahlawan, Kecamatan Gresik, Senin, (1/6/2026).

Sementara Perwakilan Yayasan K.T Poesponegoro, Raden Ngabehi Ahmad Rifai, mengatakan, kegiatan ini merupakan kunjungan pertama. Sehingga, Yayasan menyambut di makam Kyai Tumenggung Poesponegoro.

“Memang dari Bupati Gresik pertama dulunya sebagai penguasa pastinya mengayomi rakyatnya, apapun kepercayaannya. Tentunya, kami sebagai trah keturunan Kyai Tumenggung Poesponegoro, pastinya menyambut dengan baik kedatangan Puan Hayati untuk belajar sejarah Bupati Gresik Pertama,” kata Ahmad Rifai.

Ahmad Rifai.menambahkan, makam K.T Poesponegoro terbuka bagi siapapun masyarakat yang ingin belajar sejarah.

“Sebenarnya, masih banyak masyarakat Gresik yang belum tau asal usul dan sejarah mengenai Bupati Gresik Pertama yaitu Kyai Tumenggung Poesponegoro. Oleh karena itu, monggo (Silahkan) untuk masyarakat datang langsung dan menyelenggarakan kegiatan dengan izin dan sekaligus belajar sejarahnya,” imbuhnya.

Begitu juga disampaikan Ketua Forum Masyarakat Gresik Pecinta Keberagaman, Djoko Pratomo, mengatakan ikut mendorong Puan Hayati untuk mengingat para pahlawan dan pemimpin Gresik, bahwa ada sesuatu yang luar biasa di sekitarnya yang jarang orang lain perhatikan.

“Salah satunya yaitu melakukan Niti Lampah Leluhur yang merupakan kearifan lokal ke Cagar budaya seperti ke makam Kyai Tumenggung Poesponegoro. Di jaman sekarang sangat perlu ditonjolkan kembali kepada generasi muda agar tidak dilupakan,” kata Djoko Pratomo.

Oleh karena itu, Djoko menyambut baik kegiatan kedua pihak untuk bekerjasama dalam menyelenggarakan kegiatan.

“Terimakasih kepada Yayasan Kyai Tumenggung Poesponegoro yang menyambut baik kegiatan Puan Hayati berkunjung untuk belajar sejarah. Sehingga kegiatan ini bisa bermanfaat bukan hanya untuk anggota tetapi juga untuk masyarakat luas,” kata Djoko Pratomo.

Di hari ulang tahun ini, Djoko berharap Puan Hayati bisa berperan aktif untuk menyelenggarakan kegiatan positif untuk aspek keberagaman umat beragama di Gresik.

“Semoga, Puan Hayati bukan hanya menjadi komunitas, tetapi juga berperan aktif berkegiatan untuk masyarakat dan mencerminkan salah satu keberagaman beragama yang ada di Indonesia khususnya di Gresik,” pungkasnya. (giy/red)

Tags: , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.