Perayaan Suro Bersamaan dengan Muharam? Motif Politik ataukan Akulturasi?

Rudy Hartono - 8 July 2024
Ketua Persada Kabupaten Malang, Hari Nugroho

SR, Surabaya – Tanggal 7 Agustus 2024 merupakan   peringatan 1 Suro 1958  merupakan penanda dimulainya tahun yang baru dan sakral bagi masyarakat jawa. Bertepatan itu kaum muslimin juga merayakan pergantian tahun 1 Muharam 1446 Hijriah. Mengapa ini bisa terjadi?

Ketua Persada Kabupaten Malang, Hari Nugroho menjelaskan, terjadinya kesamaan tersebut tak lepas dari sejarah kerajaan Islam.

Kala itu raja Mataram Sultan Agung pada tahun 1555 (8 Juli 1633 M) menetapkan perayaan 1 Suro untuk dilangsungkan bersamaan dengan 1 Muharam yang ditandai dengan condrosengkolo (simbolisasi angka) Hana Danawa Pangawak Satrio. Penggabungan itu, dilakukan berdasar beberapa pertimbangan, salah satunya terkait persatuan.

“1 suro yang bertepatan dengan hari jumat, kala itu dipergunakan oleh sultan agung untuk berkumpulnya para penghulu kabupaten untuk melaporkan pemerintah setempat sekaligus pengajian, haul dan ziara kubur ke makam Sunan Ampel dan Sunan Giri,” ujarnya saat dikonfirmasi di superradio.id.

Hari bercerita, di era itu Kerajaan Mataram sedang menyusun kekuatan, untuk menggempur Batavia. Karena membutuhkan dukungan, pihak kerajaan berencana menggabungkan kekuatan antara kaum abangan atau biasa disebut kejawen dan para santri yang berada dalam binaan sunan.

Untuk kepentingan politik melawan penjajah di Batavia, maka dibuatlah suatu perayaan yang bisa dirayakan bersamaan yakni peringatan 1 Suro bersamaan dengan 1 Muharam. Taktik strategi itu boleh dibilang berhasil karena masyarakat semakin simpati dengan kepemimpinannya sebagai raja. Hingga akhirnya rencana menyerang Batavia berjalan lancar karena didukung seluruh masyarakat.

“Upaya perayaan bersama 1 Suro dan 1 Muharam karena Sultan Agung menginginkan persatuan antara para santri dan kaum abangan dalam rencana untuk mengempur Batavia. Dengan persatuan ini rakyat tidak terpecah belah,” tuturnya.

Beberapa penyesuaian pun dilakukan. Penghitungan hari dalam tradisi Jawa diganti menggunakan metode penghitungan bulan, hingga penyamaan istilah dalam bahasa jawa.

“Disamakan tanggalnya dengan 1 Muharam 1043 H dengan mengganti perhitungan matahari menjadi perhitungan bulan,” ucapnya.

Meski demikian, modifikasi tak menghilangkan nilai-nilai kejawen yang dianut masyarakat. Tahun Jawa yang disebut sebagai aboge tetap dijalankan sesuai penghitungannya.

“Perhitungan hari menurut asapon  atau tahun hijriah memiliki selisih sehari dengan cara perhitungan hari menurut aboge,” jelasnya.

“Dalam satu tahun ada 12 bulan. Di bulan pertama jawa namanya Sasi Kartika diganti Suro, Puso diganti Sapar, Manggasri diganti Mulud, Siro diganti Bakdo Mulud, dan sebagainya,” pungkasnya. (hk/red)

Tags: , , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.