Peran Penting Pers di Tengah Pandemi Corona

Yovie Wicaksono - 30 April 2020
Ilustrasi. Foto : (Net)

SR, Jakarta – Media memiliki peranan penting dalam menyampaikan informasi secara akurat dan berimbang di tengah pandemi virus corona (Covid-19) yang saat ini sedang mewabah.

Ketua Komisi Pemberdayaan Organisasi Dewan Pers, Asep Setiawan mengatakan, sejak diumumkannya kasus pertama virus corona di Indonesia, pihaknya telah mengingatkan kepada seluruh stakeholder media untuk memegang teguh kode etik jurnalistik.

“Peran pers menurut kami di Dewan Pers ini diharapkan kembali kepada kode etik jurnalistik, dia harus akurat, berimbang, tidak menghakimi, tapi dia juga harus menyampaikan pesan yang memang kepada pemerintah dan kepada masyarakat ini yang memang harus kita lakukan,” ujar Asep dalam diskusi online terkait kebebasan pers dan etika dalam jurnalisme, Kamis (30/4/2020), jelang peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia.

Kemudian, lanjut Asep, bagaimana pers ini tidak membuat masyarakat menjadi panik maupun membuat pemberitaan yang berlebih di tengah situasi saat ini.

“Disini media memerankan peran penting dalam mengkonstruksikan apa yang benar terjadi dan apa jalan keluarnya, dibandingkan memfasilitasi perdebatan hal-hal yang tidak relevan dengan apa yang menjadi isu. Kita harapkan, media juga memeranankan dalam post rekonstruksi, karena nanti setelah covid inilah permasalahan sosial itu juga banyak terjadi,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Abdul Manan mengatakan, peran penting pers dalam situasi ini memang berada di antara dua sisi, yakni sisi yang mewakili kepentingan publik dan sisi mewakili keinginan pemerintah untuk menyelesaikan masalah ini.

Ia mencontohkan, dimana publik ingin mengetahui informasi secara terbuka terkait corona agar mereka bisa mengantisipasinya, namun disisi lain pemerintah tidak ingin adanya kepanikan di masyarakat.

“Saya kira media itu berada di tengah-tengah itu. Kalau ada kecondongan yang harus diambil media, maka media harusnya ada di sisi kepentingan publik, karena saya kira aspirasi publik itu lebih murni,” ujar Manan.

Manan menambahkan, amanat Undang-Undang telah menjelaskan bahwa tugas pers adalah menegakkan kebenaran, sekalipun terkadang kebenaran itu pahit. Namun hal tersebut dibutuhkan untuk menuju hal yang lebih baik.

“Kalau ingin pemberitaan yang baik-baik saja, itu bukan tugas pers. Karena amanat Undang-Undang sudah jelas, tugas pers adalah menegakkan kebenaran, sekalipun terkadang kebenaran itu pahit,” ujarnya.

Terkait apakah pemberitaan tersebut dapat mengakibatkan adanya kecemasan di masyarakat, Manan mengatakan, hal tersebut tergantung pada pengemasan dan juga konten.

“Kita bicara soal kemasan dan konten. Kadang-kadang bukan isinya yang membuat cemas, tapi pengemasannya atau kulitnya yang membuat cemas. Menurut saya, berita yang sangat mencemaskan tetap bisa dibuat dengan membuat orang tidak cemas kalau dikemas dengan cara yang benar,” katanya.

“Karena kan kadang ada media yang meminta jurnalisnya membuat berita bombastis, ya itu medianya. Akhirnya bergantung pada tujuannya,” imbuhnya. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.