Cak Awi dari Jurnalis hingga Pemimpin yang Terus Bekerja dengan Hati

Rudy Hartono - 12 February 2026

SR, Surabaya – Langit Surabaya seolah ikut merunduk khidmat saat kerumunan pelayat memadati gedung DPRD, memberikan penghormatan terakhir bagi sang nakhoda, Dominikus Adi Sutarwijono. Pria yang akrab disapa Cak Awi ini bukan sekadar pejabat bagi warga Kota Pahlawan; ia adalah kawan bicara yang hangat dan pemimpin yang bekerja dengan hati.

Isak tangis pecah di antara barisan karangan bunga, menandai kepulangan sosok yang telah mendedikasikan hidupnya untuk melayani masyarakat hingga napas terakhirnya di usia 57 tahun pada 10 Februari 2026.

​Suasana haru mencapai puncaknya saat Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, meminta persaksian dari seluruh hadirin mengenai kepribadian almarhum. Jawaban “Baik!” yang menggema serentak menjadi bukti tak terbantahkan atas integritas pria kelahiran Blitar ini.

Eri mengenang bagaimana Cak Awi selalu mengajarkan jiwa untuk merangkul dan menyatukan berbagai elemen demi kepentingan warga Surabaya. Kehilangan ini terasa begitu nyata, menyisakan ruang kosong di kursi pimpinan yang selama dua periode ia tempati dengan penuh tanggung jawab.

Di balik setelan rapinya sebagai Ketua DPRD, Cak Awi menyimpan keteguhan yang luar biasa; ia tetap memimpin rapat-rapat penting meski kondisi fisiknya mulai digerogoti sakit sejak November. Sang istri, Ibu Luki Handayani, menceritakan dengan tegar bahwa suaminya tidak pernah mengeluh soal rasa sakitnya agar tidak menghambat pekerjaannya. Baginya, tugas panggilan adalah sebuah berkat yang harus dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, tanpa mempedulikan kondisi susah maupun senang.

Perjalanan hidup Adi Sutarwijono berakar dari nilai-nilai disiplin yang ditanamkan ayahnya, seorang guru SD di Blitar. Fondasi akademik yang ia bangun di Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga membekalinya dengan pemahaman politik yang tajam.

Sebelum terjun ke kancah politik praktis bersama PDI Perjuangan pada 2003, Cak Awi adalah seorang jurnalis andal di Harian Surya (Kelompok Kompas Gramedia) dan Majalah Tempo. Dunia pers itulah yang membentuk kemampuannya untuk mendengarkan dan menyuarakan aspirasi rakyat dengan jernih.

Kisah tentang kebaikannya terus mengalir dari warga yang merasa kehilangan. Seorang ibu dari Rungkut menangis sesenggukan menceritakan bagaimana Cak Awi membantu biaya sekolah anaknya yang hampir putus, sementara warga lain mengenang bantuan cepatnya saat mereka membutuhkan operasi medis darurat. Tidak ada urusan yang terlalu kecil bagi Cak Awi; mulai dari kebijakan publik besar hingga urusan pemotongan pohon yang mengganggu pemukiman, semuanya ia eksekusi dengan kepedulian yang sama.

​Bagi Cak Awi, rumahnya adalah ruang publik kedua di mana tamu seringkali masih diterima hingga pukul sepuluh malam. Ia seolah tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri, karena sumber semangat hidupnya adalah bertemu dan membantu orang lain. Rekan-rekannya bersaksi bahwa Cak Awi akan terlihat tidak bersemangat jika tidak berinteraksi dengan warga, karena baginya 100 persen hidupnya adalah untuk Surabaya dan PDI Perjuangan.

​Sisi spiritual Cak Awi menjadi pelabuhan terakhirnya saat menghadapi masa-masa sulit dalam mengambil keputusan. Gedung Mojopahit 17 (M17) menjadi saksi bisu di mana ia sering mengajak istrinya untuk mengikuti misa privat demi mencari jawaban dari Tuhan atas kegelisahannya. Iman Katoliknya yang mendalam memberinya kekuatan untuk memandang penderitaan sakitnya sebagai penyempurna tugas panggilannya di dunia.

​Sebuah momen mengharukan terjadi di akhir hayatnya saat Bapak Uskup Didik menjenguknya di rumah sakit. Meskipun Cak Awi sudah tidak bisa berbicara sejak pagi, ia secara ajaib membuka mata dan memberikan respons saat sang Uskup menyemangatinya. Kejadian itu dianggap sebagai mukjizat kecil dan penghiburan luar biasa bagi keluarga yang mendampinginya dalam doa-doa sakramen perminyaan terakhir.

​Kini, tugas sang wartawan, politisi, dan pemimpin itu telah selesai. Ia dilepas dengan penuh hormat untuk beristirahat dalam damai abadi di TPU Keputih, Surabaya. Warisan yang ia tinggalkan bukan hanya sekadar catatan legislasi, melainkan teladan tentang bagaimana seorang manusia seharusnya memberikan makna bagi sesamanya. Namanya akan terus dikenang dalam setiap sudut kebijakan yang ia perjuangkan bagi kenyamanan warga Surabaya.(js/red)

 

 

Tags: , , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.