Penyebab Bunuh Diri di Usia Remaja

Yovie Wicaksono - 22 November 2019
Ilustrasi. Foto : (Halodoc)

SR, Surabaya – Bunuh diri merupakan suatu krisis atau krisis eksistensial yang sangat ekstrem, dimana seseorang menyangkal dirinya sendiri. Bahkan salah satu psikoanalisis, Sigmund Freud mengatakan, bunuh diri merupakan bentuk agresi (penyerangan) paling tinggi yang bisa dilakukan manusia karena agresinya dilakukan kepada dirinya sendiri.

Menurut data WHO, sebanyak hampir 800.000 orang meninggal karena bunuh diri setiap tahunnya dan rata-rata setiap 40 detik ada satu kematian akibat bunuh diri di dunia. Di balik satu kematian akibat bunuh diri juga ada sebanyak 20 percobaan bunuh diri yang tidak terdata. Bunuh diri menjadi penyebab kematian nomor dua untuk masyarakat berusia 15 – 29 tahun. Selain itu, prevalensi bunuh diri di Indonesia 3.7 per 100.000 penduduk setiap tahun.

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, Michael Seno Rahardanto mengatakan, penyebab kecenderungan remaja usia 15 hingga 29 tahun melakukan bunuh diri adalah masa transisi dari anak-anak menjadi dewasa awal yang kadang kurang dilengkapi dengan strategi coping (mengelola stres).

“Usia 15 sampai 29 tahun itu tidak hanya masa remaja, tapi ada remaja dan dewasa awal dimana dalam usia itu terjadi proses transisi, disatu sisi sudah bukan anak-anak lagi, tapi satu sisi juga belum dewasa. Itu membuat mereka kadang kurang diperlengkapi dengan strategi coping, strategi mereka untuk menghadapi stres belum sekuat orang yang sudah matang dan dewasa,” ujar pria yang akrab disapa Danto ini kepada Super Radio, Jumat (22/11/2019).

Stres tersebut dapat muncul dari masalah dalam dirinya sendiri, seperti penyalahgunaan narkoba, masalah seksual, kemudian permasalahan dalam keluarga seperti perceraian dan masalah dengan lingkungan sekitar seperti pergaulan dan relasi.

Berbagai permasalahan yang dialami tanpa dilengkapi strategi mengelola stres, membuat stres bagi banyak remaja tidak terkontrol, apalagi kalau mereka tidak memiliki tempat yang membuatnya merasa aman dan nyaman.

“Diperberat lagi kalau mereka tidak punya role model atau contoh yang bisa menunjukkan mereka bagaimana cara mengatasi tekanan itu. Diperberat lagi kalau stressornya dari mana-mana dan mereka tidak punya jalan keluar,” imbuhnya.

“Akibatnya, stressor yang bertumpuk-tumpuk itu bisa jadi berkontribusi pada keputusan mereka untuk bunuh diri. Tapi tidak semua stressor juga menyebabkan bunuh diri,” tandasnya. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.