Penantian Panjang Situs Sendang Agung Menjadi Cagar Budaya Sidoarjo

Yovie Wicaksono - 31 August 2025
Informasi enam titik temuan situs yang ada di areal Situs Sendang Agung, di Desa Urang Agung, Kecamatan Kota, Sidoarjo, Kamis (21/8/2025). (foto: rudy hartono/superradio.id)

SR, Sidoarjo – Sendang Agung bakal ditetapkan sebagai salah satu Cagar  Budaya Kabupaten Sidoarjo. Kabar kepurbakalaan sendang itu mengundang perhatian banyak kalangan, tidak hanya warga Sidoarjo, tapi warga dari luar kota, kelompok spiritual keagamaan, sejarawan, juga budayawan.

Akses menuju Sendang Agung mudah ditempuh dengan kendaraan bermotor roda 2 ataupun roda 4. Letak Sendang Agung beraa di Desa Urangagung tidak jauh dari Alun-alun Kota Sidoarjo. Akses menuju sendang juga tidak sulit, hanya sekitar 15-20 menit dengan kendaraan bermotor. Sepanjang perjalanan menuju lokasi terasa suasana desa yang akrab dan tenang.

Lokasi Sendang Agung berada di tengah areal persawahan alih alih jauh dari kebisingan. Sejumlah tanaman keras menaungi bangunan-bangunan di areal Sendang Agung dari sorotan sinar matahari. Di musim kemarau, lahan sawah ditanami kacang hijau sehingga bangunan sendang agung mudah dilihat dari kejauhan. Namun ketika musim hujan, sejauh mata memandang tampak hijau sawah yang subur.

Struktur bata yang berisi mata air yang disebut Sendang Agung, temuan pertama warga Urang Agung. (foto: rudy hartono/superradio.id)

Tim Super Radio memasuki areal Sendang Agung, Kamis (21/8/2025) sekitar pukul 14.00 WIB. Kendati matahari terik di atas ubun ubun, namun angin sepoi sepoi mengusir panas dan gerah saat bersapa dengan beberapa personel Paguyuban Sendang Agung.

“Sendang Agung buka 24 jam, tidak ada retribusi, siapa saja bisa bertandang ke mari dan boleh beraktivitas apa saja,  yang positif tentunya,” seloroh Siswa Adi Cahyono,  Ketua Paguyuban Sendang Agung sambil mempersilakan Super Radio untuk berkeliling areal sendang.

Jujugan pertama ke bangunan cungkup ukuran cukup besar  yang di pintu gerbangnya dijaga 2 arca dwarapala. Sekeliling cungkup dibiarkan tidak berdinding langsung menyatu dengan  lingkungan persawahan, sehingga suasana teduh dan adem di ruangan itu.  Apalagi terdapat struktur bangunan kolam persegi panjang  yang di dalamnya memancar sumber air yang mengalir terus menerus –tidak ada matinya. Diyakini  kolam itu tak pernah kering  meski pernah dicoba dikuras habis.  Di sebelah timur kolam –masih dalam cungkup– ada ruangan kecil yang didalamnya tergantung  dua gong dan bokor tempat dupa. Ruangan ini dapat dipergunakan untuk berdoa atau berkontemplasi.

“Inilah yang dinamakan Sendang Agung, ini merupakan temuan pertama warga di tahun 2015 dan sempat viral. Saat ini ada enam temuan struktur bata kuno dan sumur tua di areal Sendang Agung ini,” kata pria yang akrab disapa Siswo itu.

Dijelaskan Siswo, temuan kedua berupa sumur kuno sekitar 50 meter di sebelah utara sendang atau kolam air pertama. Sumur itu berbentuk oval ditemukan pada 2016. Sumur ini sudah diberi cungkup dan terasnya cukup nyaman untuk  tempat berdialog 4-6 orang.

Sebulan kemudian, Januari 2016, warga kembali menemukan struktur bata berada di antara temuan pertama dan temuan kedua. Struktur bata sebagai temuan ketiga ditemukan dalam kondisi tergenangi air.  11 bulan kemudian, pada bulan Desember 2016, kembali ada temuan yang keempat berupa sumuran letaknya berada di sebelah barat temuan ketiga.

Temuan demi temuan itu semakin menjadikan warga semangat mengali sekitar sendang, hingga warga kembali menemukan titik ke lima berupa struktur bata dengan area cukup luas pada bulan November 2017. Dan, temuan ke enam berupa sumur kuno yang terkuak setelah penyelenggaraan Kirab Tujuh Tumpeng pada 2018.

Berdebat Era Majapahit atau Airlangga

dr Sudi Haryanto, Ketua Komunitas Sidoardjo Masa Kuno. (tangkapan layar you tube smc mediavisitama)

Sejak ditemukan pertama kali pada 1 Oktober 2015 pukul 17.00 WIB oleh Sugiantono, petani desa setempat. Saat itu Sugiantono tengah menggali sumur tujuan mengairi tanaman jagung  miliknya tidak sengaja menemukan struktur bata kuno di kedalaman enam meter. Atas temuan  itu berbagai kalangan menengarai bahwa temuan itu merupakan benda kuno yang terpendam di dalam tanah  bertahun-tahun silam.

Sayangnya, hingga kini belum ada instansi atau ahli yang berani menyebut usia struktur bata dan sumur tua yang ditemukan di areal situs Sendang Agung. Berbagai spekulasi bermunculan, ada yang menyebut peninggalan era Kerajaan Majapahit karena bata  batu bata yang ditemukan ukurannya panjang dan tebal berdimensi 36x20x7 cm, mirip temuan-temuan pada peninggalan Majapahit di beberapa daerah. Namun ada juga yang memperkirakan strukur bata itu ada di era Kerajaan Jenggala.

“Spekulasi terkait usia struktur bata di sendang agung cukup wajar. Mengingat banyaknya temuan candi atau situs di kabupaten Sidoarjo,” kata dr Sudi Haryanto,  Ketua Komunitas Sidoardjo Masa Kuno ketika dihubungi Super Radio, Jumat (29/8/2025). Disebutkannya, Candi Pari di Kecamatan Porong dan Candi Dermo di Kecamatan tulangan, keduanya merupakan candi peninggalan era Kerajaan Majapahit. Kemudian Candi Watu Tulis di Kecamatan Prambon dan Prasasti Kalamagyan di Kecamatan Krian ditengarai peninggalan masa Raja Airlangga.

Namun dalam penentuan usia sebuah benda purbakala, kata Sudi, diperlukan uji karbon atau laser yang sudah berkembang saat ini. “Material bata yang dilihat kasat mata  tidak bisa memberi informasi apa apa karena bata itu merupakan tren, bisa saja struktur itu bikinan zaman Belanda, tapi bisa juga zaman sebelum Belanda. Untuk mengetahui usianya harus ada uji fisik seperti uji karbon atau laser,” terang Sudi.

Atas temuan struktur bata di Sendang Agung, Sudi sependapat bahwa itu adalah peninggalan kuno berupa saluran air atau irigasi. “Sayangnya,  di Sendang Agung, tidak ada literasi pendukung seperti  manuskrip (naskah kuno), prasasti, lingga, yoni, koin , relief dan sebagainya sehingga sulit memperkirakan usia pastinya,” kata Sudi.

Di tengah ketidakpastian soal usia kepurbakalaan Sendang Agung, sesungguhnya warga yang menamakan Paguyuban Sendang Agung sudah sering berkirim surat kepada Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah (BPKW) 11 (dulu Balai Pelestarian Cagar Budaya/BPCB -Red), namun respons yang diberikan kurang memuaskan. Harapan masyarakat dengan pemberitahuan temuan galian itu agar pihak BPKW 11 melakukan penelitian lapangan untuk memastikan status temuan itu sebelum dilakukan ekskavasi.

Akibat tidak jelasnya status Sendang Agung maka polemik soal lokasi, peruntukkan atau pengelolaan lokasi tidak bisa dihindarkan. Sementara itu banyak masyarakat yang datang dan pergi berkunjung ke Sendang Agung.  Belum lagi mitos-mitos yang juga disematkan di situs tersebut sehingga menambah kompleksitas masalah di sana.

Bahkan di awal Sendang Agung ditemukan dan menjadi viral di media sosial maupun pemberitaan, beredar mitos kalau air di sumber itu punya banyak manfaat sebagai air minum maupun untuk penyembuhan. Mitos itu diperkuat dengan testimoni warga yang telah mengkonsumsi air dari Sendang Agung.

Viralnya kabar soal air dari Sendang Agung sehingga aparat keamanan setempat melarang orang mengambil air. Dalihnya, kualitas air belum diketahui persis sehingga dikhawatirkan tidak layak minum dan berakibat ada gejala yang tidak diinginkan. Beberapa bulan kemudian, atas desakan warga akhirnya petugas Dinas Kesehatan datang untuk   menguji kualitas air Sendang Agung, dan hasilnya telah diketahui kualitas kadar keasaman airnya (pH) 7,8, artinya netral, aman untuk dikonsumsi manusia.

Berkat Jasa Penelitian Skripsi Mahasiswa

Ketua Paguyuban Situs Sendang Agung saat presentasi temuan dihadapan Tim Ahli Cagar Budaya Sidoarjo dan Dinas Kebudayan Sidoarjo, Desember 2024. (foto: istimewa)

Lebih kurang setahun keberadaan Sendang Agung dalam status kontroversi yang menimbulkan polemik di kalangan masyarakat. Beberapa yang mencuat terkait air dari mata air, kekunoan struktur bata, aktivitas budaya di areal sendang, dan lain-lain.

Ketua Paguyuban Siswo kepikiran untuk menghentikan polemik dengan mencoba menepis mitos-mitos yang berkembang seputar Sendang Agung. Pasalnya, pihak pemerintah daerah juga BPK-11 tidak tertarik denga mitos-mitos itu. Mereka lebih mempertimbangkan adanya bukti-bukti yang kongkret untuk bertindak lebih lanjut, seperti menurunkan tim ke lapanga hingga ekskavasi.

Keinginan Siswo seakan dijawab oleh Sang Pencipta, ketika ada dua orang mahasiswa Fakultas Geofisika Insitut Teknologi Sepuluh November (ITS) yang tertarik dengan pemberitaan Sendang Agung. Siswo yang juga alumnus ITS tidak melepas kesempatan itu dan segera memfasilitasi adik almamaternya ketika menyatakan ingin menjadikan Sendang Agung sebagai obyek penelitian skripsi.

“Tahun 2016 dua adik kelas saya  berminat teliti Sendang Agung dan bagusnya  usulan skripsi itu disetujui oleh Fakultas Geo Fisika. Yang satu meneliti perkiraan umur batu bata dan yang lain mencari tahu seberapa luas sebaran batu-bata di areal persawahaan di sekitar sendang.  Saya temani adik-adik itu selama di lapangan memeriksa sendang dan sumur tua juga meneliti tanah di lokasi,” ungkap Siswo.

Dari penelitian kedua mahasiswa itu, Siswo dan anggota Paguyuban Situs Sendang Agung semakin yakin dan mantap untuk mempertahankan dan memperjuangkan Sendang Agung sebagai sebuah Cagar Budaya, agar areal itu terbebas dari incaran investor perumahan atau industri lainnya. Pasalnya dari penelitian oleh mahasiswa ITS itu ditemukan banyak titik yang diduga batuan kuno serupa dengan enam temuan yang terdahulu.

“Mahasiswa ITS dalam penelitiannya menggunakan metode geo listrik. Dari metode ini ditemukan sekitar 40 titik yang jika digali akan ditemukan batu bata yang tersebar luas hingga areal sawah warga,” ungkap Siswo.

Tidak hanya itu, pada peneraan menggunakan metode  geo listrik, di dalam bawah tanah areal sendang agung terdapat fluida (benda cair) yang mengalir di bawah tanah. “Lagi-lagi fluida yang ditemukan di beberapa titik ternyata sama serupa dengan temuan pertama yaitu Sendang Agung. Ini memberi petunjuk bahwa di dalam tanah diduga masih akan banyak ditemukan struktur kuno lainnya,” kata Siswo

Terkait usia struktur bata, menurut Siswo, peneliti mahasiswa ITS melakukan pengukuran terhadap bata sendang agung didapat ukuran berat 700 lebih Ohm. Lantas mereka membandingkan dengan batuan purbakala di beberapa tempat seperti Trowulan dan juga Kediri. “Ternyata hasil komparasi bata di Sendang Agung sama persis dengan bata di masa Kerajaan Dhoho, Kediri, maka perkiraannya bata itu peninggalan Airlangga. Mahasiswa ITS juga berandai-andai jika sebaran batu kuno itu sebagai sebuah alun-alun di masa Kerajaan dulu,” urai Siswo kepada Super Radio.

Bermodalkan salinan skripsi yang ditinggalkan oleh dua mahasiswa ITS itu, Siswo kembali  mendekati Pemkab Sidoarjo melalui Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Sidoarjo untuk menjajagi kemungkinan agar Situs Sendang Agung berstatuskan: Cagar Budaya. Status itu penting karena demi perlindungan kawasan dari gangguan orang yang tak bertanggungjawab serta pengelolaan kawasan yang selama ini dilakukan swadaya oleh paguyuban dan warga setempat.

Dengan bantuan beberapa pihak dari Dinas Kebudayaan Sidoarjo, akhirnya datang juga kesempatan Paguyuban Situs Sendang Agung menunjukkan bukti-bukti kongkret dan ilmiah dihadapan TACB. Pada bulan Desember 2024, TACB meminta Paguyuban untuk presentasi dihadapan personel dari TACB dan juga  beberapa pihak yang diundang seperti pegiat kebudayaan, dewan kesenian sidoarjo, akademisi dan beberapa pihak lainnya.

“Untuk presentasi itu saya siapkan bahan presentasi. Utamanya bahan presentasi saya ambil dari hasil skripsi mahasiswa ITS. Alhamdulillah saya presentasi hanya sebentar, lima menit sambil menunjukkan temuan ilmiah, pihak TACB terkesan dan langsung setuju untuk diusulkan sebagai Cagar Budaya Kabupaten Sidoarjo,” kata pria berkacama minus itu.

Metode Geo-listrik Mencari Peninggalan Kuno di Bawah Tanah

Prof Amien Widoo, peneliti senior Fakultas Geo Fisika ITS. (foto: its)

Peneliti Senior Geofisika ITS, Prof Amien Widodo membenarkan bahwa ada mahasiswa ITS yang meneliti Sendang Agung di Sidoarjo. Bahkan Amien juga pernah ke Sendang Agung untuk mengetahui kondisi lapangan dimana situs berada.

“Dari hasil yang diteliti itu memang ada pola struktur di bawah sendang agung yang terbilang kuno. Apalagi di dalam struktur ada air bersihnya, maka jika ada peninggalan lain di dekatnya yang kemudian  bisa disatukan, hal itu bisa diputuskan sebagai cagar budaya,” kata  Amien kepada Super Radio, Jumat (29/8/2025)

Adapun metode yang digunakan mahasiswa ITS di Sendang Agung saat itu penelitian adalah Geo-listrik. “Geo-listrik itu semacam alat untuk mengetahui kondisi lapisan yang ada di bawah sana, terdiri dari apa saja lapisan di bawa tanah itu. Apakah ada bata, batu, fluida dan lain-lain,  tapi geo-listrik tidak bisa melihat umur,” terang pakar mitigasi bencana alam itu.

Dalam metode geo-listrik, dilakukan pengukuran menggunakan kabel panjang jadi makin panjang maka jangkauannya semakin ke dalam, misalkan kabelnya panjang 100 meter maka jangkauannya bisa 20 meter ke bawah tanah.

Yang dikaji biasanya tidak satu titik, tapi dibuat banyak lintasan, dengan demikian peneliti akan bisa memetakan dimana saja ada benda serupa di bawah tanah. Dengan banyak titik yang diteliti maka peneliti bisa juga membuat pola benda apa di bawah tanah itu, apakah polanya kotak, atau berkelok memanjang, dan lain-lain.

“Jadi metode geo-listrik ini dalam pencarian benda purbakala hanyalah merupakan petunjuk awal adanya benda di bawah tanah dan seperti apa pola benda tersebut. Untuk mencari tahu lebih jauh bangunan apa dan umur berapa benda di bawah tanah itu harus digali oleh pihak berwenang terkait kepurbakalaan,” kata Amien Widodo.

Bukan Sekedar Situs Tapi Warisan Budaya Leluhur

Siswa Adi Cahyono, Ketua Paguyuban Sendang Agung. (foto: rudy hartono/superradio.id)

Anggota TACB Kabupaten Sidoarjo, Muhammad Tri Kusnowo Hadi saat dihubungi Super Radio, Jumat (29/8/2025) membenarkan bahwa pihaknya telah merekomendasikan Situs Sendang Agung sebagai Cagar Budaya Kabupaten Sidoarjo. Rekomendasi telah disampaikan kepada Bupati Sidoarjo pada Desember tahun 2024. Adapun pertimbangan rekomendasi karena memenuhi kriteria yakni dari aspek keaslian, arti penting, dan usia.

“Kami sudah mengkaji misal keaslian, struktur sendang timbul setelah penggalian; usia memang belum dipastikan tapi kami yakini sudah tua ditinjau dari batu bata yang ditemukan dan ditemukan lebih dari satu titik yakni 6 titik; fungsi struktur diperkirakan petirtaan,” papar Tri.

Dalam rekomendasi TACB juga menyarankan untuk dilakukan penelitian lanjutan atas temuan cagar budaya tersebut sebelum dilakukan ekskavasi. “Kami juga sarankan untuk lakukan kajian lebih dalam sebelum ekskavasi agar bisa diketahui jati diri Sendang Agung itu,” imbuhnya.

Selain kriteria cagar budaya, TACB juga mencermati animo masyarakat, baik masyarakat lokal atau masyarakat luar daerah yang luar biasa. Sehingga kalau itu dilihat dari aspek wisata, aspek kebudayaan, maka itu ada magnet tersendiri. “Datangnya pengunjung, datangnya orang dari lokal maupun luar daerah ke Sendang Agung merupakan hal yang terpenting dalam konteks perlindungan dan perawatan sebuah situs cagar budaya,” kata Tri

Dengan adanya penetapan status Cagar Budaya, harapan kami masyarakat yang datang ke Sendang Agung bisa mendapatkan portfolio atau riwayat atau penjelasan yang utuh, penjelasan yang memang bisa ditularkan kepada khalayak yang lain. “Syukur-syukur kalau informasi yang ada di Sendang Agung menjadi acuan bagi siswa-siswi yang masih di tingkat SD, MI, SMP, MTS, baik di tingkat SMA dan MA, bahkan mahasiswa dari perguruan tinggi,” harap Tri.

Terkait kunjungan pelajar dan mahasiswa, Ketua Paguyuban Situs Sendang Agung Siswo mengkonfirmasi kunjungan siswa sangat intens. Karena sekarang ini lokasi ini sudah jadi konsumsi  publik.  Pun dari warga setempat dan anggota paguyuban sangat terbuka dengan  hadirnya begitu  banyak berbagai kelompok yang datang.  “Program atau kurikulum sekolah seperti P5 itu menjadi pintu masuk kami untuk mengeksplorasi kekayaan kebudayaan, eksplorasi warisan-warisan leluhur kepada siswa-siswi,”terang Siswo

Demikian halnya  mahasiswa juga sudah banyak yang melakukan berbagai aktivitas seperti riset kecil, observasi untuk tugas misalnya penulisan artikel tentang tradisi tumpeng pitu di sendang agung, atau observasi sosial masyarakat sekitar situs dan semacamnya. “Dari semua siswa atau mahasiswa yang datang memberi apresiasi positiif, itu bisa dilihat dari kesan dan pesan yang ditulis mereka di buku tamu. Justru banyak yang mempertanyakan peran dan kepedulian pemerintah yang belum optimal,”sindir Siswo.

Dalam kesempatan ini, Tri juga memberika apresiasi yang tinggi kepada Paguyuban Situs Sendang Agung yang begitu sabar dan tangguh mempertahankan keberadaan situs di tengah gempuran masalah selama 10 tahun silam.

“Saya mengapresiasi betul Paguyuban Sendang Agung karena selama ini paguyuban mempertahankan situs dengan dana swadaya. Selain itu menjadikan  areal situs sebagai sebuah tempat untuk berkumpulnya semua aktivitas budaya dan kesenian, sehingga kawasan ini bukan hanya sekedar sebuah situs tapi juga pembelajaran bagi semua masyakarat,” puji Tri.

Penemuan struktu bata yang digenangi air merupakan temuan titik ke lima di areal Situs Sendang Agung, Kamis (21/8/2025). (foto: rudy hartono/superradio.id)

Harapan TACB, setelah mendapat status resmi Cagar Budaya, hendaknya Pemkab Sidoarjo bisa berperan dalam memajukan dan melestarikan situs Sendang Agung yang merupakan peninggalan leluhur bangsa Indonesia. “Kalau mengacu undang-undang semua elemen wajib untuk bertanggung jawab, baik masyarakat, komunitas, juga pemerintah yang memang diberi amanah oleh warga untuk menjadi penopang utama. Sebab jika mengandalkan murni swadaya masyarakat maka perkembangannya lambat. Jadi pemerintah harus hadir,” tegasnya.

Terkait pelestarian Cagar Budaya, lanjut Tri, hendaknya terjadik kolaborasi lintas dinas setidaknya oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Pariwisata, dan Dinas Koperasi UMKM. “Out put dari kolaborasi lintas dinas dan paguyuban setidaknya menjadikan Situs Sendang Agung sebagai Wisata Budaya,”cetus Tri, “Sebagai destinasi wisata budaya, paling praktis hari ini kan minimal bisa dipakai untuk tempat selfie,” candanya tapi serius.

Selain itu sebagai situs, Sendang Agung bisa dijadikan tempat untuk pengembangan keilmuan, di antaranya ilmu geologi, pertanian karena diduga situs merupaka irigasi kuno, termasuk ilmu kepurbakalaan.

Lebih dari itu, Situs Sendang Agung sudah menjadi tempat berkumpulnya berbagai komunitas.  Berbagai agama kerap menjalankan ibadah atau ritual di lokasi situs, demikian halnya diskusi-diskusi tentang sejarah, sosial ekonomi juga kerap digelar. Dan, yang tidak kalah penting, adalah aktivitas warga sekitar dalam uri-uri budaya merupakan usaha pelestarian Cagar Budaya yang efektif.

“Adanya tradisi peringatan 1 Suro dengan menyelenggarakan sedekah bumi, kirab tujuh tumpeng, aktivitas ruwatan masyarakat, tradisi tirakatan, tahlilan di lokasi Sendang Agung merupakan bukti kongkret upaya pelestarian cagar budaya,” pungkasnya. (rudy hartono)

Tags: , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.