Penampil Lintas Generasi Raff Dance Tanamkan Optimisme lewat Petualangan Timun Emas

Rudy Hartono - 16 July 2025
Sebanyak 60 penampil dari lintas generasi dari anak-anak SD, SMP, SMA hingga mahasiswa dari Raff Dance Company pentaskan opera anak (operet) bertajuk bertajuk “Petualangan Timun Emas” di Gedung Kesenian Cak Durasim, Surabaya, Minggu (13/7/2025). (foto: anton/superradio.id)

SR, Surabaya – Raff Dance Company Indonesia pentaskan pertunjukan operet atau drama musikal  bertajuk “Petualangan Timun Emas” di Gedung Kesenian Cak Durasim, Surabaya, Minggu (13/7/2025). Operet yang mengambil cerita panji ini merupakan produksi Sanggar Raff Dance yang ke-6.

Salah satu adegan dramatik pada operet “Petualangan Timun Emas” ketika Nenek Bidadari melindungi Timun Emas (kiri) dari sergapan raksasa Buto Ijo, di Gedung Kesenian Cak Durasim, Surabaya, Minggu (13/7/2025). (foto: anton/superradio.id)

Disutradarai oleh pendiri sanggar, Dr Arief Rofiq MSi, operet ini menampilkan kolaborasi lintas generasi dari anak-anak SD, SMP, SMA hingga mahasiswa. Sedikitnya  60  anak ikut serta dalam opera anak yang berdurasi hampir 60 menit itu.

Olah gerak yang apik didukung sound system dan permainan lampu yang selaras dengan musik, memberikan nuansa dramatik  cukup menegangkan. Adegan demi adegan mengalir lancar.

Di awali suasana mencekam  di sebuah desa karena hadirnya Buto Ijo, raksasa  rakus pemangsa manusia. Adalah Timun Mas, bayi perempuan mungil terlahir. Tak pelak Buto Ijo yang bergerak atraktif dan beringas, memburu dan merampas Timun Mas dari tangan ibunya.

Adegan raksasa Buto Ijo terkurung di hutan bambu jelmaan jarum yang ditebarkan Timun Emas dalam opera anak karya Raff Dance Company di Gedung Kesenian Cak Durasim, Surabaya, Minggu (13/7/2025). (foto: anton/superradio.id)

Sebelum bayi Timun Emas dimangsa, bidadari dari kahyangan menyamar sebagai nenek tua turun ke bumi berniat menyelamatkan Timun Emas, agar generasi pemelihara bumi tidak punah. Melalui diplomasi, nenek bidadari berhasil membujuk Buto Ijo menunda niatnya memakan bayi Timun Emas hingga nanti Timun Emas sudah dewasa.

Saatnya Buto Ijo menagih janji akan memangsa Timun Emas, nenek bidadari segera menyuruh Timun Emas melarikan diri sejauh mungkin dari kejaran Buto Ijo. Tak lupa nenek memberinya tiga benda wasiat yang dapat menolong timun emas di saat darurat. Benda wasiat yang dimaksud: biji timun, jarum, dan air. Dalam pelariannya dikejar Buto Ijo, Timun  Emas yang dikenal baik hati dan pandai  bergaul selalu lolos berkat bantuan  teman-temannya.

Penampil bidadari turun ke bumi untuk menghentikan keserakahan raksasa Buto Ijo dalam opera anak “Petualangan Timun Emas” di Gedung Kesenian Cak Durasim, Surabaya, Minggu (13/7/2025). (foto: anton/superradio.id)

Saat timun emas terdesak, benda pemberian nenek ditebar ke arah Buto Ijo. Buah timun yang ditebar berubah menjadi berbagai tanaman pangan yang  dapat menghambat lari Buto Ijo. Berikutnya, Timun Emas menebar jarum yang berubah menjadi hutan bambu yang lebat berakibat melukai tubuh Buto Ijo sehingga kondisinya melemah. Dan, hidup Buto Ijo berakhir  lantaran tenggelam dalam air yang tercipta dari bekal air dari nenek.

Latihan Tak Lebih 3 Bulan

Atas penampilan anak didiknya, Rofiq mengaku senang dan puas karena semua adegan berjalan mulus, tidak ada kesalahan. Selain itu para pemain terlihat semangat, optimistis, dan gembira. “Soal waktu pementasan sore hari, bagi anak-anak ternyata membawa pengaruh lebih bugar dibandingkan manggung malam hari. Saya berharap penonton juga senang, terhibur dan menangkap pesan dari Petualangan Timun Emas ini,” kata Pendiri Sanggar Raff Dance Company saat ditemui usai pagelaran.

Penonton telah mengisi sebagian besar kursi di Gedung Kesenian Cak Durasim, Surabaya, menonton pertunjukkan operet “Petualangan Timun Emas”, Minggu (13/7/2025). (foto: anton/superradio.id)

Rofiq mengatakan persiapan pementasan Petualangan Timun Emas relatif tidak terlalu lama, yakni sekitar 2 hingga 3 bulan, tidak nonstop. Sebab dasar tari yang dimainkan sebenarnya sudah lama dikuasai siswa Raff Dance. Misalnya, tari Garuda yang ditampilkan di salah satu babak pada operet Timun Emas sesungguhnya kreasi gerak tarinya dibuat awal tahun 2000.

“Di operet ini ada penambahan  narasi dan peran yang harus dijalankan penampil. Untuk itu para penampilnya akan melakukan improvisasi gerak tanpa meninggalkan gerak pokoknya,” kata praktisi seni bergelar doktor bidang ilmu manejemen itu, ”Kabar baiknya, improvisasi bisa dilakukan dengan  baik, karena penampil Raff Dance sudah sering tampil dengan berganti-ganti peran, setidaknya tiga tahun terakhir tidak putus Raff Dance rutin memproduksi dan mementaskan operet, jadi saya tinggal mengarahkan saja,” imbuh pria kelahiran Kabupaten Jombang itu.

Dua penampil Buto Ijo adalah penampil jaranan profesional dari sanggar Bagaskara, Banyuwangi, yang dihadirkan dalam dalam opera anak “Petualangan Timun Emas” di Gedung Kesenian Cak Durasim, Surabaya, Minggu (13/7/2025). (foto: anton/superradio.id)

Dikatakan Rofiq, Raff Dance tidak kesulitan mendapatkan penampil dalam jumlah banyak, karena Raff Dance memiliki tiga tempat latihan berbeda yang lokasinya menyesuaikan domisili siswa siswi tarinya. Tiga tempat berlatih tari: di mal Citi Tomorrow Surabaya, Trans Icon Jalan Ahmad Yani Surabaya, dan Taman Budaya Jawa Timur. “Kalau kurang pemain, kami sudah berjejaring dengan berbagai sanggar seni dan budaya. Seperti tokoh Buto Ijo di Petualangan Timus Emas, kami hadirkan penampil jaranan profesional dari sanggar Bagaskara di Banyuwangi,” aku mantan kepala UPT Taman Wilwatikta, Pandaan, Kabupaten Pasuruan itu.

Penonton operet Petualangan Timun Emas cukup banyak, sebagian besar kursi Cak Durasim terisi penonton yang kebanyakan anak-anak berikut orang tuanya. Mereka bukan hanya dari Surabaya, tapi ada yang dari daerah seperti Bangkalan-Madura, Ponorogo, dan Sidoarjo. Penonton terlihat antusias menikmati pertunjukkan, sesekali emosional ketika ada adegan konflik antara Timun Emas lawan Buto Ijo.

Kepala UPT Taman Budaya Jawa Timur, Ali Ma’ruf dan beberapa pemilik sanggar tari, para seniman dan budayawan ikut hadir dan mendukug pentas opera anak “Petualangan Timun Emas” karya Raff Dance Company, di Gedung Kesenian Cak Durasim, Surabaya, Minggu (13/7/2025). (foto: anton/superradio.id)

 Didukung Komunitas Seniman Jatim

Apresiasi atas karya kreasi Raff Dance dalam sebuah operet diungkapkan secara terbuka oleh  Kepala UPT Taman Budaya Jawa Timur, Ali Ma’ruf. Dalam sambutannya, Ali memuji konsistensi Raff Dance Company yang dipimpin Rofiq dalam mendidik dan membina anak-anak berkesenian. Termasuk mengembangkan karya seni budaya lokal agar selalu relevan dengan generasi kini.

“Saya sudah kenal lama sama Pak Rofiq. Beliau kolega saya waktu di Taman Candra Wilawatikta dan memang sangat luar biasa yang selalu mengajarkan kami bagaimana berkesenian yang kreatif,”ungkap Ali.

Sebagai pengampu Taman Budaya Jatim, Ali memastikan instansinya akan mendukung dan memfasilitasi aneka karya kreasi seni budaya dalam bentuk pagelaran-pagelaran. “Taman Budaya Pemprov Jatim terbuka bagi semua seni, seperti pameran seni rupa, pagelaran seni budaya, karawitan, juga seni tari seperti hari ini,” tegasnya.

Selain Ali Ma’ruf, pegiat seni budaya lain yang ikut hadir menonton operet Petualangan Timun Emas di antaranya Samad Widodo yang lama menjabat Kepala Anjungan Jawa Timur di Taman Mini Indonesia, Hendri Nur Cahyo ahli cerita panji dan berhasil mengantarkan Sastra Panji masuk Memory  of the World dan menjadikan Sastra Panji sebagai Warisan Budaya Tak Benda, dan kolega sanggar tari di Surabaya dan sekitarnya.

Dr Arief Rofiq MSi, pendiri Raff Dance Company Indonesia yang juga sutradara opera anak “Petualangan Timun Emas” di Gedung Kesenian Cak Durasim, Surabaya, Minggu (13/7/2025). (foto: anton/superradio.id)

Melawan Kesalahpahaman di Era Digital

Kendati operet Petualangan Timun Emas  ini mengambil cerita dongeng anak, namun Rofiq, Sang Sutradara, memasukkan pesan mendalam tentang nilai optimistis, kecintaan terhadap budaya lokal, dan nilai kebangsaan di tengah tantangan era post-truth, suatu era dimana banyak kebohongan atau kejahatan seolah-olah seperti kebenaran.

“Cerita ini  membawa misi membangunan peradaban yang simbolnya diwakili dua tokoh, yakni, Timun Emas seorang gadis sebagai simbol generasi emas (bibit unggul di masa depan). Satu lagi Buto Ijo (raksasa) adalah simbol kerakusan yang merusak. Ini refleksi dari kondisi bangsa saat ini,” ungkap seniman lulusan pascasarjana Ilmu Budaya Universitas Udayana, Denpasar-Bali itu.

Rofiq  memandang penting memberi bekal pengetahuan anak-anak di tengah gelombang  informasi yang tak  terbendung. Agar anak-anak bisa membedakan mana informasi yang benar mana yang salah. “Istilah  post truth belakangan mendominasi di media sosial yang juga dikonsumi  anak-anak, sehingga membentuk perilaku anak yang mudah membenci orang lain, keras hati, mengolok olok teman atau bullying. Saya terganggu dan ini sangat berbahaya,” keluh ayah dari dua anak yang sudah dewasa itu.

Karena itu, Rofiq memilih ‘bermain’ dengan anak-anak untuk membekali rasa optimistis kepada dirinya, keluarganya, lingkungan  temannya, dan bangsanya. Sebagian besar karya-karya seni tari Rofiq didedikasikan untuk anak-anak.

“Tiga tahun terakhir memang karya operet saya  berputar pada generasi emas yang tertatih tatih menghadapi keadaan. Termasuk hari ini, Petualangan Timun Emas masih bercerita tentang generasi emas yang tetatih-tatih juga. Tapi mudah-mudahan kita segera mendapati generasi emas beneran: yang tangguh, optimistis, tidak mudah mengolok-olok temannya,”katanya.

Selain operet Petualangan Timun  Emas, Rofiq telah mementaskan lima operet terdahulu, di antaranya Keong Emas dan Ninik Sihir (2024), Si Kuning Miss Univers Negeri Jenggala (2023), Bawang Merah dan Bawang Putih (2014), dan Kancil Mencuri Timun.

Penampil anak-anak ikut andil dalam operet“Petualangan Timun Emas” di Gedung Kesenian Cak Durasim, Surabaya, Minggu (13/7/2025). (foto: anton/superradio.id)

Luncurkan Buku Opera Anak

Sebagai praktisi dan pegiat seni budaya, Rofiq berharap Surabaya yang telah berpredikat sebagai kota ramah anak mendukung tumbuh kembangnya kesenian anak-anak. Ia memimpikan hadirnya sebuah tempat yang mementaskan pertunjukkan opera anak-anak secara berkala dan dikelola secara profesional.

“Saya membayangkan, wuih, di Surabaya kota ramah anak, ada opera anak-anak yang  di-manage profesional, dikenakan tiket masuk dengan panggung yang keren sehingga wisatawan tak dapat melupakan kekhususan Surabaya,” usul Rofiq yang mencontohkan negara Jepang yang bangga dengan seni Kabuki, ”Wisatawan  berasa belum sampai ke Jepang jika belum nonton Kabuki,”tambahnya.

Ditanya obsesinya setelah pementasan Petualangan Timun Emas,  Rofiq berharap penampil dan penonton opera anak itu timbul kegairahan untuk berkesenian dalam  bidang apa saja, kesenian tari khususnya, seni budaya pada umumnya.  “Harapan saya sederhana bahwa anak-anak ini tetap punya gairah untuk berlatih berkesenian,” tutur alumnus mahasiswa Sekolah Tinggi Karawitan Wilwatikta (STKW) Surabaya.

Penampil anak-anak ikut andil dalam operet“Petualangan Timun Emas” di Gedung Kesenian Cak Durasim, Surabaya, Minggu (13/7/2025). (foto: anton/superradio.id)

Selain banyak menciptakan kreasi seni tari dan opera anak, Rofiq juga rajin menulis dan membukukan berbagai opera yang telah diproduksinya. Setiap kali mementaskan karya tarinya, Rofiq membuat catatan-catatan tentang banyak hal untuk memperbaiki teknik, tata panggung, pengorganisasian penampil, promosi, hingga manajemen pementasan.

“Beberapa karya buku yang saya buat itu  bagian dari minat saya sekaligus membantu saya untuk menyemangati diri. Ada beberapa buku sudah saya cetak secara terbatas. Insya Allah bulan depan saya akan meluncurkan buku tentang opera anak. Semoga buku itu bisa menginspirasi pegiat seni budaya dan sumbangsih saya bagi kemajuan seni budaya Bangsa Indonesia,” pungkas Rofiq. (ton/red)

 

 

Tags: , , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.