Pegiat Seni Surabaya Saweran Gelar Panggung Hiburan Rakyat

Rudy Hartono - 15 May 2025
Koordinator Forum Pegiat Kesenian Surabaya, Jil Kalaran saat membuka acara Panggung Hiburan Rakyat di Teras Dewan Kesenian Surabaya, Rabu (14/5/2025). (foto: anton/superradio.id)

SR, Surabaya – Seniman seniwati tergabung dalam Forum Pegiat Kesenian Surabaya menggelar panggung hiburan kesenian rakyat di Balai Pemuda Surabaya, Selasa (13/5/2025) . Kegiatan spontanitas yang didanai secara saweraan  bertujuan  menggerakan kembali kesenian Surabaya yang mati suri beberapa tahun belakangan.

Panggung hiburan di teras Dewan Kesenian Surabaya dibuka dengan ensemble biola kawula muda, ludruk besutan, pembacaan puisi, musik dan orasi kebudayaan.

Para seniman senior di Kota Pemuda Surabaya hadir, Prof Rubi Castubi salah satu personel grup musik D’Professor yang terdiri dari musisi bergelar doktor dan profesor, seniman Meimura mementaskan monolog, musisi  B Jon, Pardi Artin, Arul Lamandau, Heru Parsetyono. Selain itu juga tampil sejumlah penyair muda di antaranya Alfian Bahri, Aming Aminoedhin Autar Abdillah, Tri Wulaning Purnami, Denting Kemuning dan masih banyak lagi.

Koordinator Forum Pegiat Kesenian Surabaya, Jil Kalaran (70), mengatakan gagasan mengumpulkan para seniman Surabaya bermula dari keresahan tercerai berainya seniman Surabaya sehingga dilakukan pertemuan dan diskusi kecil selama sekitar satu bulan, sehingga terwujud pentas seni oleh forum pegiat kesenian Surabaya.

“Gagasan ini mulai dari keresahan dan sekaligus kecintaan seniman terhadap kesenian Surabaya. Selama ini ekosistem kesenian Surabaya berjalan sendiri-sendiri. Pemerintah berjalan sendiri, seniman berjalan sendiri,” kata Jil Kalaran dalam acara pentas seni.

Dari pentas seni yang pertama kali diadakan Forum Pegiat Kesenian Surabaya, pegiat Bengkel Muda Surabaya itu berharap bisa terjadi pentas seni setiap bulan. Sehingga seniman di Surabaya bisa terus eksis.

“Forum ini banyak menampilkan kegiatan kesenian. Kalau bisa tiap bulan kita adakan pentas kesenian. Pentas ini berada di ikon balai Pemuda Surabaya yang jarang dilirik masyarakat. Sehingga kita adakan pentas seni. Ada sastra, ludruk, teater penyair sastra dan musisi. Nanti bulan depan bisa tari dan lain-lain. Dan ke depan bisa digelar festifal kesenian Surabaya,” harap Jil Kalaran.

Pegiat seni budaya, Kuncarsono Prasetyo orasi budaya di teras Dewan Kesenian Surabaya Selasa (13/5/2025). (foto: anton/superradio.id)

Di sela hiburan musik, puisi dan monolog, tampil pegiat seni dan budaya, Kuncarsono Prasetyo didapuk untuk orasi budaya. Mengenakan t-shirt dengan jas hitam lengkap topi koboi, Kuncar mengkritik penataan Kota Surabaya yang lebih mengedepankan kepentingan penguasa dibandingkan mengakomodasi suara masyarakat budaya dan seniman Surabaya.

“Ruang publik yang seharusnya estetis dan milik bersama ditertibkan. Saya ambil contoh, saya mau cari gule kacang ijo, di Jalan KH Mas Mansyur,  dulu banyak makanan gule kacang ijo, sate kambing, susu kambing, banyak PKL. Ekosistem ekonomi lokal nuansa Arab -Timur Tengah, sekarang hilang semuanya, tidak ada lagi PKL karena dipindah digusur ke Jalan Kalimas. Ekosistem lama yang dibangun masyarakat lalu diubah oleh pemerintah. Kebijakan ini membuat banyak orang beranggapan, bahwa kota ini (Kota Surabaya) dibangun bukan atas keinginan publik, tapi atas keinginan penguasa,” kata mantan jurnalis itu. (soe).

 

 

 

 

Tags: , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.