Mengenal Sunan Botoputih, Penyebar Islam di Surabaya

Yovie Wicaksono - 19 May 2021
Makam Sunan Botoputih di Jalan Pegirian, Surabaya. Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

SR, Surabaya – Selain Sunan Ampel, Pangeran Lanang Dangiran atau yang sering disapa Sunan Botoputih juga memiliki peran penting dalam menyebarkan agama Islam di Surabaya.

Salah satu tokoh di kompleks makam Botoputih, Hanafi mengatakan, Sunan Botoputih merupakan pangeran dari kerajaan Blambangan dan putra dari Pangeran Kedawung yang berperan menyebarkan Islam di Surabaya pada abad ke-15.

“Beliau meninggalkan kerajaan dan melaut selama berbulan-bulan diatas sebuah beronjong (alat penangkap ikan), tanpa makan atau minum, sampai terbawa ombak di Laut Jawa dan ditemukan di pantai dekat Sedayu oleh Kyai Kendil Wesi,” ujarnya, Rabu (19/5/2021).

Saat ditemukan, seluruh badannya telah dilekati oleh karang, keong serta karang-karang (remis), sehingga badannya seolah-olah ditempeli dengan bakaran jagung, yang dalam bahasa Jawa disebut “Brondong”, dan dari sanalah beliau mendapat julukan Kyai Ageng Brondong.

Setelah itu, Pangeran Lanang Dangiran dirawat oleh Kyai Kendil Wesi serta istrinya hingga sadar kembali dan menjadi sehat seperti sedia kala.

Pandainya Sunan Botoputih dalam mendalami dan menyebarkan agama Islam dilihat oleh Kyai Kendil Wesi. Akhirnya beliau diminta pergi ke Ampel Dento Suroboyo, dan meluaskan ajaran Agama Islam dengan menetap di kawasan Pegirian, tepatnya di Dukuh Boto Putih. Hingga julukan Sunan Botoputih melekat padanya.

“Wilayah yang dijadikan persebaran Islam oleh Sunan Botoputih mulai Pegirian hingga Kapasan serta ujung Utara Surabaya. Banyak warga yang datang berguru dan mengaji pada Sunan Botoputih,” kata imam Langgar Waqaf Sentono Botoputih ini.

Sunan Botoputih akhirnya wafat pada tahun 1638 dan dimakamkan di Jalan Pegirian Surabaya, tak jauh dari makam Sunan Ampel.

Makam Sunan Botoputih ini bersebelahan dengan makam Maulana Mohammad Syaifuddin (Sultan Banten ke XVII-terakhir) yang wafat pada 3 Rajab 1318 H/11 November 1899.

Hanafi mengatakan, setiap harinya selalu ada peziarah yang datang. Kebanyakan yang datang usai dari Sunan Ampel.

“Terutama kalau malam Jumat Legi selalu ramai. Biasanya peziarah setelah dari Sunan Ampel selalu kesini,” tandasnya. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.