Sejarah Klenteng Boen Bio, Salah Satu Tempat Ibadah Tertua di Surabaya

Yovie Wicaksono - 19 January 2023
Klenteng Boen Bio, Salah Satu Tempat Ibadah Tertua di Surabaya. Foto : (Super Radio/Hamidiah Kurnia)

SR, Surabaya – Sebagai Kota Pahlawan, Surabaya memiliki banyak peninggalan sejarah yang masih lestari, salah satunya Klenteng Boen Bio.

Tempat ibadah agama konghucu itu merupakan salah satu tempat ibadah tertua yang menjadi simbol pendidikan dan perkembangan ajaran Tiongkok di Surabaya.

Wakil Ketua II bidang eksternal Klenteng, Liem Tiong Yang mengatakan, awalnya  klenteng tersebut bernama Boen Tjiang Soe yang memiliki arti mewarisi dan menggemilangkan kesusastraan.

Bangunan yang tercatat sebagai salah satu cagar budaya sejak 2012 ini, dibangun pada 1883 atas inisiatif Go Tiek Lie dan Co Toe Siong. Kala itu mereka kesulitan menemukan tempat ibadah untuk orang Tionghoa, sehingga atas bantuan Majoe The Boen didirikanlah klenteng di daerah pemukiman Kapasan dalam.

Namun dikarenakan sulitnya akses masuk, maka pada 1906 klenteng tersebut dibongkar dan dipindahkan di tempat yang lebih luas ke Jalan Kapasan nomor 131 Kecamatan Simokerto.

Pembangunan selesai pada 1907 dan diresmikan dengan nama yang kini dikenal sebagai Boen Bio yang memiliki arti kuil para terpelajar. “Dianggap oleh pengurus klenteng sebaiknya klenteng itu ada di pinggir jalan maka 1906 lokasinya yang ada di belakang itu dibongkar dan dipindahkan di Jalan Kapasan,” ujarnya, Kamis (19/1/2023).

Meski telah berdiri puluhan tahun, namun bangunan tersebut tidak banyak berubah. Ornamen dan bentuk khas arsitektur Tiongkok juga masih terjaga dan dirawat oleh para pengurus klenteng.

Pilar-pilar dengan ukiran naga sebagai simbol berkah dan anugerah menjadi doa dan harapan agar Klenteng tersebut membawa kebaikan untuk semua orang.

“Bangunan ini tidak dipugar tapi hanya dirawat. Jadi sejak diresmikan 1907 kita merawat mulai dari pengecatan, perbaikan dan ini jadi salah satu cagar budaya destinasi wisata religi sejak 2012,” tuturnya.

Selain itu, untuk menghormati para leluhur dan meneruskan tradisi Tionghoa, maka di belakang klenteng tersebut didirikan gedung 3 lantai dengan fungsi bermacam-macam. 

“Makanya disini klentengnya yang belakang dibangun sekolah umum. Ada 3 lantai, lantai pertama untuk parkir, kedua untuk sekolah,  ketiga untuk hall sehingga kegiatan tidak di klenteng semua agar tidak mengganggu kekhusyukan,” ucapnya. (hk/red)

Tags: ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.