Panen Raya Serentak, Jatim Jadi Barometer Nasional

Rudy Hartono - 8 April 2025
Gubernur Jawa Timur beserta Direktur SDM & Umum Perum BULOG, Kapolda Jawa Timur dan Pangdam V Brawijaya menuju lokasi panen raya di Ngawi. (sumber:rri)

SR, Ngawi –  Sebanyak 5.500 hektare sawah di 38 kabupaten/kota se-Jatim, dipanen serentak dalam Panen Raya Padi, yang dipusatkan di Desa Kartoharjo, Kecamatan Ngawi, Kabupaten Ngawi, Senin (7/4/2025). Dalam kegiatan ini turut hadir Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Direktur SDM & Umum Perum BULOG, Sudarsono Hardjosoekarto, Dewan Pengawas Perum BULOG, Frans BM Dabukke dan Pemimpin Wilayah Perum BULOG Kanwil Jatim, Langgeng Wisnu A.

Tak hanya itu, dihadiri juga Kapolda Jatim Irjen Pol Nanang Avianto, Pangdam V Brawijaya Mayjen TNI Rudy Saladin, Plt Kajati Jatim Setiawan Budi Cahyono, Bupati Ngawi Ony Anwar Harsono dan Direktur Perlindungan Tanaman Pangan Kementan RI Rachmat.

Istimewanya, panen raya kali ini juga berlangsung serempak di 14 Provinsi lain di Indonesia, dipimpin langsung oleh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto secara virtual. Ini menjadi bagian dari strategi besar pemerintah untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.

Direktur SDM dan Umum Perum BULOG, Sudarsono Hardjosoekarto, menegaskan posisi strategis Jatim dalam mendukung program swasembada pangan nasional yang digagas Presiden Prabowo Subianto. “Jawa Timur ini barometer nasional, baik dari sisi produksi maupun penyerapan. Sampai hari ini, dari target 593 ribu ton, sudah terserap 152 ribu ton atau 25 persen. Ini sejalan dengan capaian nasional,” ujar Sudarsono.

Keunggulan lain terlihat di Kabupaten Ngawi tersebut, Dengan kadar air gabah rata-rata 25 persen, kualitas hasil panen tahun ini dinilai sangat baik. Petani juga mendapatkan harga beli sesuai dengan HPP (Harga Pokok Penjualan) Rp6.500 per kilogram sesuai dengan instruksi presiden Prabowo.

“Ini sangat menggembirakan, khususnya di Ngawi ini, kita lihat tadi dengan Ibu Gubernur (Khofifah Idar Parawansa) juga, gabah yang dibeli sangat bagus, dalam arti kadar air ini bisa 25 persen, itu suatu hal yang sangat bagus dan bersih, dan ini pasti nanti rendemenya juga bagus,” kata Sudarsono.

Sedangkan untuk pola tanam di Ngawi sendiri tergolong unik, yang mana membuat para petani di daerah ini mampu menanam padi hingga tujuh kali dalam dua tahun, bahkan langsung mulai menanam benih baru sebelum panen selesai.

“Dan yang menarik adalah setelah mereka panen, bahkan sebelum panen mereka sudah menanam benih dulu, sehingga begitu panennya selesai, langsung diolah, langsung tanam lagi,” ucapnya.

Selain itu, Sudarsono juga menyebutkan bahwa petani di Ngawi saat ini cenderung menggunakan pupuk organik untuk tanaman padi mereka. Tren penggunaan pupuk organik kian meningkat di seluruh kalangan petani Ngawi.

Meski di awal penerapan hasilnya belum maksimal, namun diperkirakan ke depan produktivitas akan semakin meningkat. “Baru di tahun kedua dan seterusnya itu makin subur, makin produksinya makin tinggi. Nah, ini luar biasa, bisa juga akan menjadi contoh nasional,” kata Sudarsono.

Sementara itu, Pimpinan Wilayah Bulog Jatim, Langgeng Wisnu A, memastikan kapasitas gudang Bulog di Jawa Timur masih sangat aman untuk menampung hasil serapan gabah petani. Bahkan, jika penuh, akan segera dipindahkan ke wilayah defisit, seperti Indonesia Timur.

“Aman, kami juga disupport oleh kantor pusat untuk memindahkan barang, karena memang kita secara Jawa Timur kan surplus, kita pindahkan ke daerah-daerah defisit mungkin ke Indonesia Timur, seperti itu,” ujar Langgeng. (*/rri/red)

 

 

Tags: , , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.