Pakar UNTAG Ungkap Tantangan Jurnalis di Era AI
SR, Surabaya – Maraknya penggunaan AI dalam proses produksi jurnalistik, Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya, Maulana Arief, S.Sos., M.I.Kom., mengungkapkan bahwa tekanan struktur kerja dan tuntutan ekonomi menjadi alasan utama para jurnalis memanfaatkan teknologi AI.
Maulana menjelaskan berdasarkan hasil penelitian terbarunya mengenai penggunaan AI oleh jurnalis di berbagai tingkatan, Maulana menjelaskan bahwa tekanan kecepatan dan kuantitas produksi berita yang tinggi memaksa jurnalis dan editor memanfaatkan AI sebagai alat bantu.
“Jadi semua ini terjadi bukan tanpa sebab. Saya pernah melakukan penelitian, faktanya adalah misalnya editor media online yang harus mengedit hingga 120 naskah per hari. Secara manual itu sulit dikejar dengan ritme media digital yang membutuhkan kecepatan tinggi. Akhirnya, mereka menggunakan AI untuk menjawab tantangan tersebut,” ujar Maulana, Kamis (8/10/2026).
Kendati demikian, ia menegaskan bahwa penggunaan AI tidak lantas menghilangkan peran penting manusia. AI seharusnya diposisikan sebagai partner atau asisten, bukan pengambil alih peran utama jurnalis. Proses verifikasi, evaluasi, hingga pertimbangan etika tetap menjadi tanggung jawab penuh jurnalis.
“AI memiliki potensi bias khususnya pada aspek pemaknaan karena bergantung pada algoritma dan prompt yang digunakan. Di sinilah dibutuhkan reflexivity dan epistemic judgment dari jurnalis untuk memastikan produk yang dihasilkan bebas dari bias, akurat, serta mematuhi kode etik jurnalistik,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti tantangan besar bagi jurnalis pemula yang belum memiliki pengalaman lapangan yang kuat dalam verifikasi data dan pemahaman etika. Tuntutan target berita yang tinggi sering kali membuat jurnalis pemula mengambil jalan praktis dengan langsung menyajikan hasil AI tanpa kurasi yang memadai.
Menurutnya, isu ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan menilai apakah penggunaan AI “baik atau buruk”, melainkan perlu dilihat dari struktur industri media secara lebih luas. Sistem kontrol kualitas (quality control) di internal media serta edukasi penggunaan AI yang bertanggung jawab di lingkungan akademis menjadi kunci keberhasilan adaptasi ini.
“Masyarakat tetap lebih menyukai narasi dan karya yang dirasakan memiliki sentuhan manusia. Tantangan jurnalis ke depan bukan lagi sekadar mencari dan menulis berita, melainkan bagaimana memperdalam verifikasi dan menjaga integritas serta kredibilitas informasi,” ucapnya. (*/rri/red)
Tags: jurnalisme, kecerdasan buatan, maulana arief, Pakar komunikasi, superradio.id
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





