“Dengar Isyaratku” Ukir Sejarah Teater Musikal Inklusif Pertama di Jawa Timur
SR, Surabaya — Pusbisindo bersama Gerkatin dan selompok seni Fantasi Tuli mengukir sejarah baru di Jawa Timur melalui pementasan teater musikal inklusif bertajuk “Dengar Isyaratku” yang digelar di Amphitheater Universitas Kristen Petra (UK Petra) Surabaya, Sabtu (26/9/2026).
Pertunjukan karya drama musikal insan tuli ini menjadi momentum penting dalam rangkaian perayaan Hari Bahasa Isyarat. Menyelaraskan diri dengan tema global yang disepakati oleh World Federation of the Deaf (WFD) serta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yakni mendeklarasikan Hak Asasi Manusia (HAM) bagi komunitas Tuli di seluruh belahan dunia.
Ketua Panitia Acara, Adhin, menegaskan bahwa teater musikal ini dihadirkan untuk mendobrak persepsi publik yang kerap memandang sebelah mata kapasitas para penyandang disabilitas rungu.
Melalui seni peran dan ekspresi musikal, komunitas Tuli ingin membuktikan bahwa mereka memiliki potensi artistik serta hak kreasi yang sejajar dengan masyarakat dengar.
“Alasan memilih teater karena di sini kami ingin menunjukkan bahwasanya kami tuli juga bisa berteater, kami bisa berkreasi. Jadi bukan hanya orang dengar, ternyata kita juga setara, kita juga memiliki momen yang sama untuk berkreasi,” ujar Adhin.
Alur cerita pementasan teater musikal pun dibuat sejalan dengan apa yang dialami para disabilitas tuli. Menggambarkan perlakuan tidak adil yang menimpa anak-anak tuli di dunia pendidikan sekaligus menyuarakan pentingnya pemenuhan hak komunikasi.
“Jadi nanti teman-teman bisa melihat bagaimana pementasan dari pov teman tuli. Nanti akan ada cerita anak sekolah yang seperti didiskriminasi seperti itu,” jelasnya.

Tak sekadar pememtasan. Adhin menyebut, karya teater musikal itu membawa misi sosial yang mendalam agar masyarakat global tidak lagi mengabaikan keberadaan komunitas tuli. Hak komunikasi melalui bahasa isyarat (Bisindo) dinilai sebagai kebutuhan mendasar yang wajib dipenuhi tanpa adanya diskriminasi di berbagai lini kehidupan.
“Tentu kita berharap bahwa masyarakat di seluruh dunia itu bisa sadar bahwa bahasa isyarat itu penting. Pentingnya dukungan bahasa isyarat kepada komunitas Tuli. Jadi jangan sampai adanya diskriminasi atau meninggalkan komunitas tuli,” tegasnya.
Lebih lanjut terkait konsep dan teknis, Adhin mengaku hal tersebut telah dikoordinasikan dengan tim Fantasi Tuli. “Naskah pertunjukan disiapkan oleh tim Fantasi Tuli dari Jakarta yang kemudian diselaraskan persepsinya bersama panitia lokal jauh-jauh hari,” sebutnya.
Tak berhenti disini. Guna memperkuat advokasi hak-hak tuli, pihaknya juga menyoroti pentingnya respons aktif dari pihak pemerintah serta masyarakat luas.
“Jadi harapannya pemerintah sadar untuk mendukung. Jadi dengan usaha advokasi yang kita lakukan selama ini harapannya adalah ada respon baik dari pemerintah dalam usaha advokasi,” ungkapnya.

Selain menikmati karya seni, masyarakat luas diajak untuk berkontribusi aktif dalam meruntuhkan sekat komunikasi melalui berbagai kegiatan inklusif yang diadakan komunitas, salah satunya dengan mempelajari bahasa isyarat melalui lembaga seperti Pusbisindo.
Pihaknya pun berharap pementasan “Dengar Isyaratku” dapat menjadi titik balik terciptanya ruang inklusif yang setara bagi seluruh lapisan masyarakat.
“Sebenarnya banyak cara ya untuk mendorong kepada masyarakat bisa ikut kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh tempat agar tetap bentuk kesadaran itu tadi, dapat juga mengikuti belajar bahasa isyarat dan lain sebagainya. Dari situ muncullah kesadaran dari masyarakat, kita bisa saling mendukung dan terciptanya kesempatan yang setara,” pungkasnya. (hk/red)
Tags: hari bahasa isyarat, penyandang tuli, superradio.id, teater musikal inklusif, uk petra
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





