Kisah Spiritualis Asing Menyatu dalam Tradisi Sembrani Bumi Lidah Wetan
SR, Surabaya – Di tengah riuh rendah deru kendaraan yang sejenak berubah menjadi lautan manusia di kawasan Lidah Wetan, Surabaya, prosesi budaya bertajuk “Kembalinya Jati Diri Sembrani Nusantara”, Minggu (4/10/2026) berlangsung penuh khidmat.
Di antara ribuan warga yang memadati jalur kirab dari pelataran Gedung Serbaguna Suryo Broto menuju Tugu Ayam Jago, tampak dua sosok asing yang melangkah dengan rasa takjub. Mereka adalah Ruth Grijalva asal Meksiko dan Alejandra asal Kolombia, dua spiritualis mancanegara.
Bagi Ruth Grijalva, perjalanan menuju Surabaya ini merupakan bagian dari penjelajahan batin yang mendalam setelah sebelumnya menyinggahi Bali. Perempuan berusia 26 tahun tersebut mengaku sangat bersyukur dan merasa terhormat dapat diundang langsung untuk menghadiri perhelatan kebudayaan ini.
Meski berasal dari kultur yang sangat berjarak, Ruth menemukan akar persamaan yang kuat antara tradisi spiritual di negaranya dengan kearifan lokal di Indonesia. Ia menyebutkan bahwa persamaan tersebut terletak pada kesamaan nilai untuk menghormati orang tua serta keterhubungan dengan bumi, alam semesta, elemen, hingga pahlawan utara dan selatan.
Di sisi lain, Alejandra membawa misi serupa dari Kolombia untuk merajut jejaring spiritualitas masyarakat adat dunia. Perempuan yang aktif menghubungkan tradisi-tradisi leluhur di Amerika Selatan ini memandang keikutsertaannya di Lidah Wetan sebagai bagian dari jejaring global yang saling terhubung.
Bagi Alejandra, kearifan tua dari tanah kelahirannya justru menjadi sumber kekuatan untuk melangkah ke penjuru dunia dan membagikan pesan kesadaran akan pentingnya hubungan manusia dengan alam.

Pengalaman pertama merasakan getaran energi di tanah Jawa memberikan kesan spiritual yang amat kuat bagi Alejandra, terutama saat merasakan energi gunung berapi. Ia menilai bahwa tradisi lokal di Nusantara memiliki keistimewaan dalam menjaga ingatan manusia untuk senantiasa kembali menghormati Sang Pencipta.
Semangat dan kekhusyukan kedua spiritualis ini kian bergelora saat mengikuti setiap tahapan acara, mulai dari teatrikal, penyatuan air dari tujuh mata air suci, hingga tarian kolosal Remo yang dibawakan oleh sekitar 1.500 penari.
Ketua panitia, Andi Bocor, mengakui tak menyangka acara yang awalnya dikonsep untuk warga lokal ini mendapat tempat istimewa di mata para delegasi asing. Kehadiran mereka membuktikan bahwa nilai-nilai kebudayaan lokal yang dirawat dengan tulus mampu menyentuh ikatan kemanusiaan dan meruntuhkan batasan geografis.
Rangkaian perhelatan budaya itu akhirnya ditutup dengan prosesi pengibaran bendera merah putih serta penancapan tujuh bendera keraton, meninggalkan kesan mendalam yang akan dibawa pulang oleh kedua tamu tersebut. (js/red)
Tags: lidah wetan, sembrani bumi, spiritualis mancanegara, superradio.id
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





