Gerkatin & Pusbisindo: Penyandang Tuli Sulit Tembus Lapangan Kerja Daerah
SR, Surabaya – Peringatan Hari Bahasa Isyarat Internasional (HBII) dimaknai berbeda oleh Dewan Pengurus Daerah (DPD) Gerakan Kesejahteraan untuk Tuli Indonesia (Gerkatin) Jawa Timur.
Tak hanya fokus di perayaan. Ketua DPD Gerkatin Jawa Timur, Maskurun Yuyun turut menjadikan momentum itu untuk menyuarakan penghapusan hambatan di bidang pekerjaan, pelayanan kesehatan, hingga pendidikan demi mewujudkan kesetaraan hak yang utuh.
Salah satunya, sektor ketenagakerjaan yang yang belum inklusif bagi kelompok Tuli. “Menurut saya, ini adalah hak untuk semua teman-teman tuli untuk mendeklarasikan hak asasi manusia untuk teman tuli pada masyarakat,” ujarnya, saat ditemui usai Seminar Hari Bahasa Isyarat Internasional (HBII) yang digelar di Universitas Kristen (UK) Petra, Surabaya, Sabtu (26/9/2026).

Yuyun menyebut, meski dukungan Pemprov Jawa Timur mulai mengalir, penyerapan tenaga kerja di tingkat kabupaten dan kota masih berjalan sangat lambat. Ketiadaan fasilitas aksesibilitas pendukung masih jadi hambatan utama yang menyebabkan lamaran kerja masyarakat Tuli ditolak.
“Salah satunya ini bagaimana di bagian dunia kerja, untuk sekarang ini belum terlalu inklusif kalau setelah saya mengadakan penelitian,” kata Yuyun saat ditemui usai seminar di UK Petra.
Yuyun menegaskan, mayoritas pencari kerja tuli lebih memilih berburu peluang di kabupaten atau kota asal demi dekat dengan keluarga. Pilihan ini diambil guna menghindari tingginya biaya hidup merantau yang menguras pendapatan harian mereka.

“Kalau di luar kota itu nanti uang juga termasuk boros untuk keperluan keseharian. Akhirnya uang yang didapat pun sangat sedikit dan minim,” tuturnya.
Terlebih, lanjutnya, penyerapan tenaga kerja tuli baru menyasar kota-kota besar seperti Surabaya, Sidoarjo, dan Malang. Khususnya di lingkungan instansi pemerintah daerah serta BUMN.
Sedangkan persentase keterlibatan pekerja tuli di wilayah kabupaten atau kota kecil di Jawa Timur, di lingkungan kerja resmi masih sangat minim.
Dan penyerapan tenaga kerja di sektor industri swasta maupun pabrik-pabrik daerah pun belum memadai. “Kalau di kota besar seperti Surabaya dan Sidoarjo sudah ada yang diterima di BUMN atau pemerintahan. Tetapi untuk kabupaten atau kota lain masih sedikit, belum ada lima persen,” ungkapnya.

Menyikapi ketimpangan tersebut, DPD Gerkatin Jawa Timur terus menginstruksikan seluruh pengurus cabang di kabupaten dan kota untuk gencar melakukan advokasi lokal. Tujuannya, guna mendorong pemerintah daerah setempat agar membuka ruang kesempatan kerja yang seimbang bagi penyandang disabilitas.
Yuyun menegaskan pentingnya kolaborasi antara masyarakat Tuli dan masyarakat dengar agar hak-hak disabilitas dapat terpenuhi secara bertahap di seluruh Jawa Timur.
“Saya harus mendorong mereka membuka pikiran supaya mendeklarasikan hak asasi manusia teman Tuli ke masyarakat. Semoga hak-hak teman Tuli bisa terpenuhi di seluruh Jawa Timur meskipun prosesnya pelan,” tegas Yuyun.
Pihaknya pun akan terus menggencarkan advokasi ke pemerintah daerah dan pusat guna membuka ruang kerja yang seimbang. “Saya harus mendorong mereka membuka pikiran supaya mendeklarasikan hak asasi manusia teman Tuli ke masyarakat. Semoga hak-hak teman Tuli bisa terpenuhi di seluruh Jawa Timur meskipun prosesnya pelan,” jelasnya.
Hal serupa dirasakan Pusat Bahasa Isyarat Indonesia (Pusbisindo). Ketua Pusbisindo, Kesumo Yoga Prawira mengungkapkan, dari perkiraan 1,92 juta jiwa populasi Tuli di Indonesia, baru sekira 500 orang yang menjadi juru bahasa isyarat.
Rasio perbandingan yang sangat jauh ini memicu kendala komunikasi yang masif, baik di lingkungan instansi kerja, pelayanan umum, hingga ruang publik. Terlebih keterlibatan penyandang Tuli dalam perumusan kebijakan serta pengambilan keputusan masih sangat minim.
“Kami sedang membuat suatu kajian tentang bahasa isyarat Indonesia dan juga tentang ekosistem pekerjaan, ternyata banyak sekali gap yang terjadi ketika mereka bekerja tanpa adanya paparan bahasa,” kata Kesumo membeberkan fakta di lapangan.
Ia pun menekankan, bahwa persoalan di dunia kerja ini berakar dari minimnya paparan bahasa isyarat sejak usia dini dan belum tersedianya pendidikan bahasa formal bagi anak Tuli.
“Ketertinggalan penguasaan bahasa sejak awal berimbas pada hambatan kognitif dan kesiapan kompetensi saat memasuki usia produktif,” tandasnya. (hk/red)
Tags: Gerkatin, hari bahasa isyarat internasional, penyandang tuli, pusbisindo, superradio.id, surabaya
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





