Migrant Care Harap Pemerintah Tak Tebang Pilih Selamatkan PMI di Timur Tengah
SR, Surabaya – Eskalasi perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel yang memanas mengundang kekhawatiran, tak terkecuali pada nasib Warga Negara Indonesia yang bekerja sebagai pekerja migran Indonesia (PMI) di negara konflik.
Seperti diketahui, tercatat hingga 4 Maret 2026 kondisi perang antar tiga negara tersebut memasuki fase kritis. Saling balas rudal hingga kerusakan bangunan dan korban tak terelakkan.
Untuk itu, Project Officer Migrant Care Jember, Bambang Teguh Karyanto berharap pemerintah tak tebang pilih maupun bias dalam menangani nasib PMI. Baik yang legal maupun unprocedural.
Bukan tanpa alasan. Bambang menyadari, Keputusan beberapa PMI ke negara orang dengan non prosedural maupun melanggar aturan, memang salah. Namun di kondisi darurat, mereka tetaplah WNI yang perlu perlindungan penuh dari negara.
Karena itu pemerintah perlu melihat PMI non-prosedural sebagai warga negara yang harus dilindungi. Bukan sekadar pelanggar administrasi.
“Pemerintah tidak boleh bias menanganinya, ini tetap warga negara kita. Ini kan warga negara indonesia jadi harus melebihi yang sifatnya administratif, tidak boleh membebankan juga,” ujarnya saat dikonfirmasi super radio, Selasa (3/3/2026).
Disisi lain, Mingrant Care juga terus berkomunikasi dengan para PMI yang terjebak di kawasan konflik Timur Tengah. Berbagai upaya dilakukan. Mulai dari update jumlah PMI, kanal pengaduan, konsultasi, hingga platform untuk menghubungkan PMI dengan keluarga di Indonesia.
Memastikan keamanan WNI dengan berbagai jejaring. Seperti KP2MI, Disnaker, hingga Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di timur tengah.
“Kami membuka kanal pengaduan konsultasi. Beberapa hari lalu saat situasi timur tengah meletus kita buat kanal untuk kita hubungkan jika butuh info misal terhubung pada KJRI, KBRI, atau keluarga di desa kami sudah bersiap diri,” ucapnya.
Terkhusus di Jember, lanjutnya, secara internal telah dilakukan konsolidasi dengan 10 desa yang memiliki kapasitas terkait mengidentifikasi warga, untuk cek situasi.
Dan per Selasa (3/3/2026) sore didapatkan info bahwa para PMI masih dalam kondisi aman, menghindari wilayah konflik. “Ini juga keprihatinan bersama, kami ambil inisatif dengan itu tadi meminimalisir korban atau PMI yang butuh bantuan,” jelasnya.
Adapun, berdasarkan data Migrant Care Jember per 1 Maret 2026 total sebanyak 41.701 PMI berada di luar negeri. Dengan rincian 35.887 orang di Asia dan Afrika, 5.581 orang di Timur Tengah dan 233 PMI tersebar di Amerika dan Pasifik.
“KP2MI per 1 Maret jumlah PMI yang bekerja di Arab Saudi sebangak 472,886 orang, UEA 181.707 orang, Qatar 77.705 orang, Oman 63.425 orang, Kuwait 28.614 orang, Bahrain 27.133 orang,” tandasnya. (hk/ng/red)
Tags: amerika, Iran, migrant care, perang, superradio.id
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





