Merayakan Perbedaan melalui Kesenian

Yovie Wicaksono - 17 May 2022

SR, Surabaya – Gereja St. Aloysius Gonzaga di Jalan Satelit Indah I Surabaya menggelar pameran lukisan dan pentas seni budaya dengan tajuk “Berjalan Bersama Mendengarkan dan Merayakan Perbedaan” mulai Minggu (15/5/2022) hingga Jumat (20/5/2022).

Sebanyak delapan stan UMKM juga turut meramaikan acara melalui bazar sebagai salah satu upaya untuk mendorong kebangkitan perekonomian umat pasca pandemi Covid-19.

Selain itu, ada juga talkshow dan workshop sketcher yang melibatkan pelajar tingkat SD hingga SMA disekitar paroki. Lalu pentas seni mulai dari Barongsai, Tari Pendet, Tari Topeng, Tari Ja’i, live music hadir secara bergantian setiap hari mulai pukul 17.00 – 21.00 WIB dan dihari terakhir akan ditutup dengan puisi teatrikal yang akan dibawakan oleh Romo Siga.

Salah satu penanggung jawab acara, Elfira Herawati mengatakan, gelaran ini merupakan rangkaian untuk menandai Sinode Keuskupan sekaligus memperingati Hari Komunikasi Sedunia pada 16 Mei.

Melalui berbagai lukisan hasil karya pelukis nasional serta umat disabilitas, hingga pertunjukan seni yang dihadirkan sebagai alat komunikasi ini, pihaknya ingin mengajak semua orang merayakan perbedaan, mewujudkan kerukunan dengan berpegangan tangan, membangun Indonesia menjadi lebih baik lagi.

“Melalui pameran seni lukis dan pentas seni ini kami ingin menunjukkan bahwa perbedaan adat istiadat, ungkapan hati itu boleh berbeda, tapi kami satu disini. Sama. Itu yang ingin kami sampaikan di Hari Komunikasi Sedunia bahwa perbedaan itu bukan untuk di kotak-kotakkan tetapi untuk menjadi indah seperti pelangi,” ujarnya, Senin (16/5/2022).

Ketua Hari Komunikasi Sedunia ke-56 di Kevikepan Surabaya Barat, Romo Siga menambahkan, pameran lukisan ini sebagai tanda bahwa gereja itu terbuka dengan siapa saja. Terlebih, semua karya lukis itu nyawa yang di percikkan di kanvas supaya orang bisa menikmati, tergugah, hingga menggerakkan orang untuk semakin mencintai kehidupan.

“Oleh sebab itu temanya berjalan bersama dalam kehidupan, mendengarkan kehidupan, lalu ketika merayakan perbedaan itu ya kehidupan. Kita beda tapi jangan melukai, menyakiti, atau mencela. Ngerasani aja tidak boleh, karena itu daya kematian. Tapi kalau mengapresiasi itu ya pameran,” pungkasnya.

Semua lukisan yang dipamerkan akan dijual dan dilelang untuk kemudian disalurkan bagi kepentingan sosial, salah satunya pendidikan. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.