Festival Reog Ponorogo 2026 Rayakan Pengakuan UNESCO
SR, Ponorogo – Gema pecut dan suara gamelan khas Ponorogo kembali membahana di pusat kota sebagai tanda dimulainya perhelatan budaya paling dinanti tahun ini. Pemerintah Kabupaten Ponorogo secara resmi menyelenggarakan Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) sebagai puncak rangkaian perayaan Grebeg Suro 2026. Perhelatan budaya bergengsi ini dijadwalkan berlangsung selama empat hari berturut-turut, mulai dari tanggal 11 hingga 14 Juni 2026, bertempat di Panggung Utama Alun-Alun Ponorogo, Jawa Timur.
Festival tahun ini mengusung tema besar “Reogvolution”, yang merefleksikan semangat transformasi dan pelestarian seni tradisi di era modern . Penyelenggaraan kali ini terasa jauh lebih istimewa karena sekaligus menjadi momentum perayaan atas status Reog Ponorogo yang telah diakui secara resmi sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia oleh UNESCO. Hal ini menjadikan festival tersebut bukan sekadar tontonan, melainkan wujud syukur atas pengakuan global terhadap identitas budaya masyarakat Ponorogo.
Tokoh-tokoh Reog Hadir
Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Ponorogo, Bunda Lisdyarita, menegaskan bahwa perhatian publik terhadap Grebeg Suro tahun ini meningkat drastis berkat pengakuan internasional tersebut. Beliau juga menyebutkan kehadiran tokoh-tokoh penting untuk menambah kemeriahan acara.
“Sejumlah tokoh nasional sudah kami undang dan beberapa telah memberikan respons yang baik. Kami berharap mereka bisa hadir dalam rangkaian Grebeg Suro tahun ini,” ujar Bunda Lisdyarita dalam sambutannya pada malam pembukaan.
Lebih lanjut, Bunda Lisdyarita menekankan bahwa status hukum internasional dari UNESCO menjadi magnet kuat bagi wisatawan dari berbagai penjuru. Daya tarik ini diharapkan mampu membawa nama Ponorogo lebih jauh di kancah pariwisata dunia.
“Status Reog sebagai warisan budaya dunia menjadi daya tarik tersendiri sehingga perhatian terhadap Grebeg Suro semakin besar,” tambahnya, menekankan nilai prestisius dari festival tahun ini.
Persiapan teknis dan jadwal kegiatan pun telah dipastikan matang oleh jajaran panitia pusat untuk melayani puluhan agenda yang ada. Sekretaris Daerah (Sekda) Ponorogo, Agus Sugiarto, menyatakan bahwa seluruh agenda telah disusun untuk memastikan kenyamanan pengunjung dan peserta.
“Pembukaan Grebeg Suro telah dilaksanakan mulai 11 Juni di panggung utama Alun-Alun Ponorogo dan seluruh rangkaian kegiatan telah dipersiapkan sesuai jadwal,” jelas Agus Sugiarto saat memberikan laporan kesiapan final(11/6/2026).

Motor Penggerak Ekonomi Lokal
Selain aspek budaya, pemerintah daerah juga menitikberatkan pada dampak ekonomi yang dihasilkan bagi warga lokal melalui mekanisme multiplier effect. Festival ini diharapkan menjadi motor penggerak bagi UMKM dan sektor perhotelan di Ponorogo.
“Kami berharap seluruh rangkaian kegiatan berjalan sukses dan memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat. Dukungan pihak ketiga juga terus kami optimalkan untuk menyukseskan Grebeg Suro tahun ini,” kata Agus Sugiarto lebih lanjut.
Pada hari pertama pelaksanaan Festival Nasional Reog Ponorogo, yakni Kamis, 11 Juni 2026, panggung utama telah menampilkan deretan grup reog legendaris dan potensial.
Berdasarkan data resmi, terdapat tujuh grup yang memberikan penampilan memukau, yaitu Sardhulo Kridho (Ex-PB Somoroto), Sardhulo Djoyo Gendhilo (PSHWTM Pusat Madiun), Manggolo Projo Arjowinangun (Ex-PB Arjowinangun), Reyog Krida Satria Tama (Komisariat PSHT Pusat Madiun), Taruno Jayengrono (SMAN 1 Pulung), Gembolo Sardulo (Ex-PB Jebeng), dan Singo Mudo Kepuhrubuh (Desa Kepuhrubuh, Siman).
Penampilan para peserta di hari pertama ini menunjukkan betapa luasnya sebaran pelestari seni Reog, yang tidak hanya berasal dari wilayah Ponorogo tetapi juga melibatkan partisipasi aktif dari wilayah sekitar seperti Madiun. Keanekaragaman grup, mulai dari perwakilan institusi pendidikan hingga organisasi masyarakat, memperkuat narasi bahwa Reog adalah milik bersama yang lintas generasi dan latar belakang. Hal ini selaras dengan tujuan pelestarian nilai spiritualitas dan tradisi luhur yang diusung dalam Grebeg Suro.

Sinergi Lintas Sektor Kunci Sukses
Kunci keberhasilan festival berskala nasional ini terletak pada kolaborasi yang apik di antara berbagai instansi pemerintah kabupaten. Kepala Disbudparpora Ponorogo, Judha Slamet Sarwo Edi, dalam rapat koordinasi teknis menyampaikan pentingnya sinergi lintas sektor untuk mengelola total 29 agenda kegiatan.
“Keberhasilan acara ini membutuhkan sinergi dari seluruh pihak terkait. Kami optimis Grebeg Suro 2026 akan berjalan sukses dengan adanya kolaborasi matang ini,” ungkap Judha dengan penuh optimisme (11/6/2026).
Dari sisi promosi pariwisata, Humas Pemerintah Kabupaten Ponorogo melalui rilis resmi Diskominfo menargetkan lonjakan kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara yang signifikan. Pemerintah meyakini bahwa festival ini adalah investasi jangka panjang untuk kemandirian ekonomi daerah.
“Semakin banyak wisatawan yang datang, maka semakin besar pula dampak ekonomi bagi masyarakat. Harapan kami, pariwisata Ponorogo bisa menjadi salah satu penggerak utama ekonomi daerah,” tulis pihak Diskominfo dalam keterangan persnya (11/6/2026).
Alun-Alun Ponorogo yang menjadi pusat lokasi acara pun telah disulap menjadi area festival yang megah sebagai jantung kota. Lokasi ini tidak hanya menampung panggung utama FNRP, tetapi juga menjadi saksi sejarah digelarnya berbagai upacara sakral dan Festival Reog Remaja yang telah mendahului acara utama. Dengan berakhirnya hari pertama yang sukses, Ponorogo kembali meneguhkan posisinya sebagai “Kota Reog” yang mampu menjaga warisan leluhur di tengah arus modernisasi.(js/red)
Tags: alun-alun ponorogo, festival reog ponorogo 2026, reogvolution, superradio.id
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





