Mengenal Tunadaksa, Gangguan Sistem Gerak Tubuh Manusia

Rudy Hartono - 12 June 2026
Ilusrtrasi

SR, Surabaya — Pernahkah Anda mendengar istilah “tunadaksa”? Meskipun terdengar cukup teknis, tunadaksa sebenarnya adalah istilah untuk menggambarkan kondisi seseorang yang memiliki hambatan pada sistem gerak tubuhnya.

Lailatul Badriyah SPsi. MA dan Hermi Pasmawati MPd. Kons. dalam buku mereka yang berjudul “Problematika Pada Anak Berkebutuhan Khusus: Sebagai Panduan bagi Pendampingan ABK”, menjelaskan bahwa kondisi ini terjadi karena adanya gangguan pada tulang, otot, maupun sendi yang tidak berfungsi secara normal.

Menurut kedua penulis tersebut, “Tunadaksa merupakan suatu keadaan rusak atau terganggu sebagai akibat gangguan bentuk atau hambatan pada tulang, otot, dan sendi dalam fungsinya yang normal,”.

Penyebab dari kondisi tunadaksa ini pun sangat bermacam-macam. Ada yang memang sudah mengalaminya sejak dalam kandungan atau saat lahir, namun ada juga yang disebabkan oleh serangan penyakit tertentu atau akibat kecelakaan yang dialami saat dewasa.

Data dari Kementerian Sosial menunjukkan bahwa pada tahun 2010 saja, sudah ada lebih dari 3 juta penyandang tunadaksa di Indonesia, dan angka ini diperkirakan terus bertambah seiring meningkatnya kasus kecelakaan.

Secara medis, tunadaksa dibagi menjadi tiga kelompok besar agar lebih mudah dipahami. Pertama adalah gangguan yang bersumber dari saraf pusat atau otak yang memengaruhi cara tubuh bergerak dan menjaga keseimbangan. Kedua adalah masalah pada sistem otot dan rangka, contohnya seperti kondisi polio. Ketiga adalah kelainan tulang atau anggota gerak yang memang sudah ada sejak lahir.

Tingkat keparahan hambatan gerak ini juga dibagi menjadi tiga tingkatan:

  • Tingkat Ringan: Seseorang masih bisa melakukan aktivitas fisik, namun membutuhkan terapi untuk meningkatkan kemampuannya.
  • Tingkat Sedang: Seseorang memiliki keterbatasan gerak motorik dan gangguan pada koordinasi sensorik tubuhnya.
  • Tingkat Berat: Kondisi di mana seseorang memiliki keterbatasan gerak secara total dan tidak mampu lagi mengontrol gerakan tubuhnya sendiri.

Memahami apa itu tunadaksa menjadi sangat penting karena keterbatasan fisik ini sering kali berdampak langsung pada mental seseorang. Lailatul Badriyah dan Hermi Pasmawati menegaskan bahwa kesulitan bergerak sering kali membuat penyandangnya merasa kurang percaya diri, malu, atau merasa berbeda dari orang lain.

Melalui pemahaman yang lebih sederhana ini, masyarakat diharapkan tidak lagi memandang tunadaksa sebagai sebuah “penyakit”, melainkan sebagai variasi kondisi fisik yang membutuhkan dukungan serta penerimaan yang tulus agar mereka bisa tetap mandiri dan bahagia. (*/red)

 

 

Tags: , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.