Masjid Tertua di Surabaya, Jadi Rujukan Kumandang Adzan

Yovie Wicaksono - 11 May 2021
Masjid Rahmat Surabaya. Foto : (Super Radio/Hamidia Kurnia)

SR, Surabaya – Jika anda sedang berada di wilayah Surabaya dan ingin mengunjungi tempat wisata bernuansa religi, Masjid Rahmat bisa menjadi pilihan. Terletak di kawasan Kembang Kuning, Masjid ini adalah yang tertua di kota Surabaya.

Wakil Ketua Pengurus Yayasan Masjid Rahmat, Mansur mengatakan,  Masjid ini sebagai salah satu bukti peninggalan Raden Sayyid Ali Rahmatullah atau yang dikenal sebagai Sunan Ampel dalam menyebarkan syiar Islam di tanah Jawa.

Uniknya, Masjid seluas 800 meter ini menjadi rujukan Adzan di Jawa Timur. Hal ini disebabkan, para pengurus yang secara konsisten menjaga waktu shalat melalui radio Yasmara (Yayasan Masjid Rahmat) sejak tahun 1970.

“Lewat radio kita radio Yayasan Masjid Rahmat (Yasmara) dan karena istiqomah nya itulah akhirnya masjid Rahmat menjadi kiblatnya shalat bagi Surabaya dan sekitarnya, Sidoarjo, Bangil, dan daerah lain itu kiblatnya masih ikut sini. Kita punya ciri khas sendiri, ada bacaan Qur’an sebelum adzan shalat lima waktu, kalau dhuhur Al-Qasas, ashar Al- Qasas, Maghrib Al-Hujurat, kalau Isya’ Ar-Rahman,itu rutin sampai sekarang,” jelasnya, Selasa (11/5/2021)

Ditambahkan, pada awalnya Masjid Rahmat tidak semegah sekarang. Dulu, Masjid Rahmat masih berbentuk langgar kecil yang beratapkan bambu dan jerami. Hingga akhirnya direnovasi pada 1967 agar bisa menampung jamaah lebih banyak.

“Tahun 1966 itu ada tokoh-tokoh Kembang Kuning bertemu Menteri Agama IAIN. Jadi tokoh-tokoh ini berkumpul dan mengumpulkan uang untuk bangun Masjid ini. Pada 1967 diresmikan oleh Menteri Agama Porf.Dr.Syaifudin Zuhri,” kata Mansur.

Desain beberapa sudut Masjid disesuaikan dengan nuansa lokal Surabaya. Seperti gerbang dan lima pintu pilar berbentuk semanggi yang disertai beragam filosofi di dalamnya.

“Masjid ini punya ciri khas tersendiri yaitu gerbang yang berbentuk semanggi yang berdaun lima. Semanggi itu menjadi ikon kota Surabaya. Lima artinya dimaknai sama seperti rukun Islam, falsafah negara kita juga lima, banyak sekali falsafah yang saya kaitkan dengan itu,” terangnya.

Sejarah Masjid Rahmat

Asal mula berdirinya Masjid Rahmat berawal dari abad ke-14. Saat itu Raden Sayyid Ali Rahmatullah yang hendak menyebarkan agama islam di Majapahit, ditolak oleh Raja Brawijaya dan diarahkan ke daerah Surabaya untuk berdakwah.

“Waktu itu Jaman Majapahit saat beliau mengunjungi bibinya yang jadi permaisuri Raja Brawijaya minta izin menyebarkan agama islam di daerahnya. Namun saat itu, niatnya belum disambut baik dan Raden Rahmat hanya dipinjami tanah di ujung galuh Surabaya Utara yang sekarang menjadi kawasan Ampel,” kata Mansur.

Setelah mendapatkan mandat, Raden Rahmat melanjutkan perjalanannya dan setibanya di Surabaya, ia melewati kawasan Kembang Kuning dan singgah untuk menyebarkan ajaran Islam.

Di Kembang Kuning, ia bertemu dengan mBah Wiro Sroyo, salah satu tokoh agama Hindu setempat yang tidak setuju dengan kedatangannya.  Singkat cerita, terjadilah adu ilmu diantara keduanya.

Dalam adu ilmu ini, Raden Rahmat menang yang kemudian mBah Wiro Sroyo yang juga disebut  Ki Kembang Kuning, mulai tertarik dengan spiritual Raden Rahmat, hingga akhirnya menjadi mualaf dan menikahkan putrinya yang bernama Dewi Karimah dengan Raden Rahmat.

Ki Kembang Kuning terus belajar mengenai Islam pada Raden Rahmat, dan setelah bisa menyebarkan agama Islam, barulah Raden Rahmat pergi ke tempat tujuan yakni Ujung Galuh Utara dan terciptalah langgar tiban Rahmat.

“Sebelum ke Ujung Galuh, gak tahu pagi-pagi sudah ada langgar itu. Orang mengatakan itu langgar tiban karena keyakinan orang di wilayah itu yang Islam hanya Raden Rahmat. Mereka yakin yang membuat itu Raden Rahmat, jadi dinamakan langgar tiban Rahmat,” pungkasnya. (hk/red)

 

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.