Lindungi 486 Ribu Santri, Jatim Gagas Pesantren Tangguh Bencana

Rudy Hartono - 25 June 2026
Kegiatan "Kick Off Meeting Pesantren Tangguh Bencana" di Surabaya, Jawa Timur, Rabu (24/6/2026). (foto: kominfo jatim)

SR, Surabaya  – Pemerintah Provinsi Jawa Timur mengembangkan program Pesantren Tangguh Bencana (Pestana) untuk memperkuat perlindungan terhadap lebih dari 486 ribu santri melalui peningkatan kesiapsiagaan, mitigasi, dan pengurangan risiko bencana di lingkungan pesantren.

Program tersebut digagas Pemprov Jawa Timur melalui Biro Kesra Sekretariat Daerah dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jatim dengan dukungan Program SIAP SIAGA setempat.

“Tentu semua membutuhkan adanya penguatan kemitraan yang saling bersinergi untuk mengembangkan Pestana. Sebab, penanggulangan bencana bukan semata tugas BPBD,” kata Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur Agung Subagyo di Surabaya, Rabu.

Berdasarkan data Pemprov Jatim, terdapat sekitar 7.425 pondok pesantren dengan lebih dari 36 ribu tenaga pendidik di Jawa Timur.

Keberadaan pesantren dinilai strategis karena tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga menjadi bagian penting kehidupan sosial masyarakat.

Agung mengatakan forum pengembangan Pestana diharapkan menghasilkan rekomendasi untuk penyusunan konsep ketangguhan pesantren, termasuk mendorong keterlibatan organisasi perangkat daerah sesuai kewenangannya.

Menurut dia, kehidupan komunal di pesantren dengan ribuan santri yang tinggal di asrama bertingkat memerlukan sistem mitigasi yang lebih komprehensif karena proses evakuasi saat terjadi bencana relatif lebih kompleks.

Oleh karena itu, penghuni pesantren perlu dibekali rencana kontingensi, simulasi, gladi, dan sosialisasi mitigasi sesuai karakteristik ancaman bencana di wilayah masing-masing.

Kepala Bidang Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kantor Wilayah Kementerian Agama Jatim Imam Turmidi mengatakan pesantren perlu menjadi lembaga yang tangguh terhadap bencana karena aktivitas berlangsung selama 24 jam.

Sementara itu, Ketua Tim Pencegahan BPBD Provinsi Jatim Dadang Iqwandy menyebut sekitar 70 persen pesantren di Jatim berada di kawasan berisiko bencana.

Melalui program yang berlangsung hingga akhir 2026 tersebut, pemerintah menargetkan tersusunnya peta risiko pesantren, kajian faktor pembentuk risiko, indikator ketangguhan, policy brief, serta panduan teknis Pestana yang dapat diterapkan secara mandiri.

Program Pestana juga mencakup perlindungan perempuan dan anak, kesehatan lingkungan, pengelolaan sampah, pola hidup bersih dan sehat, serta pemenuhan gizi santri guna memperkuat ketahanan komunitas pesantren terhadap bencana. (*/red)

 

 

Tags: , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.