Lebaran Membawa Berkah Pedagang Anyaman Ketupat

Yovie Wicaksono - 12 June 2019
Salah satu penjual anyaman ketupat di Pasar Wonokromo Surabaya, Sri (45). Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

SR, Surabaya – Tujuh hari setelah Hari Raya Idulfitri, Rabu (12/6/2019), masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia, khususnya di Surabaya, Jawa Timur, merayakan tradisi Lebaran Ketupat.

Tradisi tersebut, dimanfaatkan oleh para pedagang untuk menjual janur yang telah dianyam menjadi sebuah ketupat maupun anyaman untuk lepet (jajanan tradisional yang terbuat dari beras ketan dan kacang).

Salah satu penjual anyaman ketupat di Pasar Wonokromo Surabaya, Sri (45) mengaku berjualan sejak Lebaran kedua atau Kamis (6/6/2019).

“Hari biasa saya disini jualan pisang, karena Lebaran Ketupat ini kan setahun sekali ya jadi tiap Lebaran juga jualan anyaman ketupat disini (musiman). Tahun ini saya jualan mulai hari Kamis (6/6/2019) kemarin, dan terakhir hari ini,” ujar perempuan yang sudah berjualan di Pasar Wonokromo sejak 15 tahun lalu ini.

Sri mengatakan, satu ikat anyaman ketupat yang berisi 10 biji ini dijual dengan kisaran harga Rp7-10 ribu, tergantung tingkat kerapian anyaman.

“Kalau anyaman ketupatnya bagus, janurnya bagus, satu ikat ini harganya Rp10 ribu, tapi kalau jelek ya harganya jadi Rp7 ribu,” imbuh perempuan asal Madura ini.

Sri mengatakan, bagus tidaknya anyaman ketupat tergantung dari lebar janurnya. Semakin lebar janur akan semakin bagus hasil anyamannya. Kemudian jika warna janur terlalu hijau juga tidak bagus.

Dalam sehari, jika dirata-rata Sri dapat menjual 50 ikat anyaman ketupat atau sebanyak 500 biji anyaman. Namun saat sedang ramai, ia bisa menjual hingga 700 anyaman ketupat.

“Kemarin (11/6/2019) itu paling ramai, bisa menjual sampai 700 anyaman, biasanya rata-rata menjual 500 anyaman,” imbuhnya.

Selain anyaman ketupat, dalam sehari Sri juga membuat 50 anyaman lepet yang tiap anyamannya dijual Rp700 rupiah.

“Kalau lepet gak banyak, sehari cuma bikin 50. Karena kan yang lebih banyak dicari ya anyaman ketupatnya,” ujarnya.

Sri mengaku, penjualan anyaman ketupat dan lepet tahun ini tidak seramai tahun-tahun sebelumnya. “Tahun ini sepi, gak seramai tahun sebelumnya. Mungkin karena liburan panjang dan banyak masyarakat yang memilih untuk berlebaran di kampung halamannya,” tandasnya. (fos/red)

 

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.