Kisah Pernikahan Difabel, Komitmen Jadi Kunci

Yovie Wicaksono - 3 May 2021
Nur Aini dan Kuncoro. Foto : (Super Radio/Nirwasita Gantari)

SR, Surabaya – Bagi Kuncoro (51), pria asal Bogen, Surabaya, menikah dengan Nur Aini (34) bukan hal mudah. Butuh perjuangan besar untuk bisa mewujudkan keinginannya agar bisa menikahi pujaan hatinya itu. 

Kuncoro adalah pria dengan difabel daksa akibat polio. Sedangkan Nur Aini adalah perempuan non difabel. Hal itulah, yang membuat keluarga besar Nur Aini sempat tak memberi restu hubungan mereka. Perlu waktu empat tahun untuk bisa meyakinkan, sekaligus menerima kondisi Kuncoro. 

Kuncoro dan Nur Aini menjalin hubungan sejak 2010 dan baru mendapat restu menikah menikah pada 2014. 

“Iya siapa sih yang mau kalau anaknya menikah dengan pria difabel? Tapi karena kami saling cinta, kami berjuang bersama untuk bisa meyakinkan keluarga saya sampai 4 tahun lamanya, akhirnya orang tua saya luluh dan merestui kami untuk menikah,” ujar Nur Aini, saat ditemui Super Radio, Senin (3/5/2021). 

Pasangan yang memiliki panggilan kesayangan ‘Tul’ ini tak menampik banyak pihak yang meremehkan hubungan mereka. Bahkan saat di pelaminan, tamu undangan banyak yang memotret mereka lantaran heran mengapa pengantin perempuan mau menikah dengan pengantin lelaki difabel.

Seiring berjalannya waktu, kasih sayang dan romantisme dalam pernikahan mereka tak pernah luntur. Kebahagiaan mereka terasa lengkap, setelah kehadiran sang buah hati yang kini telah berusia 6 tahun. 

“Kami kemana-mana selalu bersama, kalau saya ada acara yang mengharuskan datang sendiri, saya justru lebih memilih untuk tidak datang kalau tidak bersama istri. Makan pun selalu sepiring berdua. Jadi ibaratnya satu paket yang tidak bisa terpisah,” ujar pria yang akrab disapa Ryan ini.

Termasuk saat mereka berjualan telur di pasar krempyeng di daerah Kenjeran Surabaya mulai setengah 5 pagi sampai 10 siang.

Dalam berumah tangga, keluarga kecil ini selalu berbagi tugas rumah bersama. Saat Nur Aini lelah, Ryan tak segan melakukan pekerjaan rumah seperti mencuci baju, menyapu, dan lainnya. Tak ada yang mendominasi di antara keduanya, melainkan saling melengkapi satu sama lain. Termasuk dalam hal mengurus anak, mereka kompak berbagi peran.

Hal inilah yang membuat sang buah hati tak pernah malu memiliki ayah seorang difabel. Ia justru ingin lekas tumbuh menjadi pria dewasa yang akan mendorong kursi roda sang ayah hingga  menggendongnya. 

Bagi pasangan ini, saling percaya satu sama lain menjadi kunci penting dalam sebuah pernikahan. Adanya kepercayaan diantara keduanya, membuat pernikahan tetap terjaga meskipun diterpa berbagai cobaan hidup yang menguji keduanya.

“Bagi saya, Mas Ryan adalah suami yang sangat mengerti saya, sabar dan mandiri,” ujar Nur Aini.

“Dan ini adalah perempuan hebat yang mau mendampingi saya,” imbuh Kuncoro sambil tersenyum.

Karya tulisan Kuncoro untuk sang istri. Foto : (Super Radio/Nirwasita Gantari)

Meski difabel dan tidak sempat mengenyam pendidikan formal. Kuncoro sejatinya adalah pria yang memiliki bakat di bidang seni dan sastra. Hal ini ditunjukkan dengan ragam karya seni miliknya dan kumpulan puisi yang dibuat untuk sang istri dan buah hati. 

“Ini adalah karya suami untuk saya maupun untuk buah hati,” kata Nur Aini sembari menunjukkan puisi tentang ulang tahun karya Kuncoro. 

Tampilkan Semua

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.