Kisah Pernikahan Difabel, Komitmen Jadi Kunci
SR, Surabaya – Bagi Kuncoro (51), pria asal Bogen, Surabaya, menikah dengan Nur Aini (34) bukan hal mudah. Butuh perjuangan besar untuk bisa mewujudkan keinginannya agar bisa menikahi pujaan hatinya itu.
Kuncoro adalah pria dengan difabel daksa akibat polio. Sedangkan Nur Aini adalah perempuan non difabel. Hal itulah, yang membuat keluarga besar Nur Aini sempat tak memberi restu hubungan mereka. Perlu waktu empat tahun untuk bisa meyakinkan, sekaligus menerima kondisi Kuncoro.
Kuncoro dan Nur Aini menjalin hubungan sejak 2010 dan baru mendapat restu menikah menikah pada 2014.
“Iya siapa sih yang mau kalau anaknya menikah dengan pria difabel? Tapi karena kami saling cinta, kami berjuang bersama untuk bisa meyakinkan keluarga saya sampai 4 tahun lamanya, akhirnya orang tua saya luluh dan merestui kami untuk menikah,” ujar Nur Aini, saat ditemui Super Radio, Senin (3/5/2021).
Pasangan yang memiliki panggilan kesayangan ‘Tul’ ini tak menampik banyak pihak yang meremehkan hubungan mereka. Bahkan saat di pelaminan, tamu undangan banyak yang memotret mereka lantaran heran mengapa pengantin perempuan mau menikah dengan pengantin lelaki difabel.
Seiring berjalannya waktu, kasih sayang dan romantisme dalam pernikahan mereka tak pernah luntur. Kebahagiaan mereka terasa lengkap, setelah kehadiran sang buah hati yang kini telah berusia 6 tahun.
“Kami kemana-mana selalu bersama, kalau saya ada acara yang mengharuskan datang sendiri, saya justru lebih memilih untuk tidak datang kalau tidak bersama istri. Makan pun selalu sepiring berdua. Jadi ibaratnya satu paket yang tidak bisa terpisah,” ujar pria yang akrab disapa Ryan ini.
Termasuk saat mereka berjualan telur di pasar krempyeng di daerah Kenjeran Surabaya mulai setengah 5 pagi sampai 10 siang.
Dalam berumah tangga, keluarga kecil ini selalu berbagi tugas rumah bersama. Saat Nur Aini lelah, Ryan tak segan melakukan pekerjaan rumah seperti mencuci baju, menyapu, dan lainnya. Tak ada yang mendominasi di antara keduanya, melainkan saling melengkapi satu sama lain. Termasuk dalam hal mengurus anak, mereka kompak berbagi peran.
Hal inilah yang membuat sang buah hati tak pernah malu memiliki ayah seorang difabel. Ia justru ingin lekas tumbuh menjadi pria dewasa yang akan mendorong kursi roda sang ayah hingga menggendongnya.
Bagi pasangan ini, saling percaya satu sama lain menjadi kunci penting dalam sebuah pernikahan. Adanya kepercayaan diantara keduanya, membuat pernikahan tetap terjaga meskipun diterpa berbagai cobaan hidup yang menguji keduanya.
“Bagi saya, Mas Ryan adalah suami yang sangat mengerti saya, sabar dan mandiri,” ujar Nur Aini.
“Dan ini adalah perempuan hebat yang mau mendampingi saya,” imbuh Kuncoro sambil tersenyum.

Meski difabel dan tidak sempat mengenyam pendidikan formal. Kuncoro sejatinya adalah pria yang memiliki bakat di bidang seni dan sastra. Hal ini ditunjukkan dengan ragam karya seni miliknya dan kumpulan puisi yang dibuat untuk sang istri dan buah hati.
“Ini adalah karya suami untuk saya maupun untuk buah hati,” kata Nur Aini sembari menunjukkan puisi tentang ulang tahun karya Kuncoro.
Kekuatan cinta dan komitmen nyatanya tidak hanya milik Kuncoro dan Nur Aini saja. Di kawasan Medokan Ayu, Super Radio berhasil menemui Sapari dan Sunarti.
Mereka adalah suami istri yang harus berjuang dalam menghadapi ujian hidup di tengah pernikahannya yang awalnya baik-baik saja, sampai suatu hari, Sapari mengalami kecelakaan saat hendak berangkat bekerja yang mengubah hidupnya.
“Tahun 1994 saya berumah tangga dan dikaruniai anak pertama pada tahun 1995, kemudian anak kedua lahir pada 2003. Tidak ada kendala apapun dalam pernikahan kami, sampai pada tahun 2014, sebuah kejadian yang tidak mengenakkan terjadi pada saya,” ujar Sapari.

Kejadian tersebut bermula dari kecelakaan motor yang dialaminya pada Oktober 2014 ketika hendak berangkat bekerja, dimana kaki kirinya di atas lutut tergencet motor dengan bibir saluran air sehingga ia tak sadarkan diri dan harus dibawa ke rumah sakit.
Setelah menjalani perawatan selama 5 bulan, kaki kirinya semakin membengkak lantaran ada infeksi di tulang sumsumnya dan pada 13 Maret 2015, sekira 18.00 WIB, kaki kiri Sapari terpaksa harus di amputasi karena penyakit yang dialaminya semakin parah dan dikhawatirkan menyebar ke organ tubuh lainnya.
“Saat itulah saya merasa bahwa semuanya hancur seketika. Apalagi saya ini kepala keluarga, satu-satunya tulang punggung keluarga,” kata pria berusia 48 tahun ini.
Setelah mengalami kecelakaan itu, Sapari dan istri menarik diri dari lingkungan sekitar lantaran malu dan lain sebagainya. Butuh waktu sekira satu tahun lamanya untuk keduanya bisa saling menerima kondisi dan keadaan yang ada.
“Dulu saya malu kalau dibonceng suami kemana mana pakai motor roda 3, tapi kemudian saya pikir lagi, bahwa kondisi ini tidak terjadi hanya untuk satu dua bulan saja, tapi ini terjadi selamanya, lalu saya harus merasa malu sampai kapan. Toh dulu saat suami saya baik-baik saja saya mau menerima, masa sekarang saat kondisinya seperti itu saya tidak mau menerima. Akhirnya saya mengikuti kata hati saya, menerima apa adanya dan berusaha ikhlas, bahwa ini semua adalah takdir,” ujar Sunarti, perempuan asal Kediri ini.
Meski kehilangan satu kaki, dan harus istirahat selama satu tahun dari pekerjaan, rezeki tak pernah berhenti mengalir untuk keluarganya. Bahkan, perusahaan tempatnya bekerja tetap memberikan gaji meski tidak penuh, dan mau menerima Sapari kembali bekerja sebagai teknisi.
Sapari beruntung karena rekan kerja, dan tetangga juga tak lelah dalam memberi dukungan untuknya. Begitu juga dengan istri dan kedua anaknya yang mampu memberikan kekuatan baru bagi Sapari untuk bangkit kembali dalam menjalani hidup.
“Ujian ini terlalu berat bagi saya, mungkin kalau bukan istri saya, saya sudah ditinggal dan tidak mau menerima kondisi saya. Karena banyak kasus seperti itu, orang yang awalnya non difabel kemudian menjadi difabel ditinggalkan oleh pasangannya karena tidak bisa menerima kondisinya,” ujar Sapari sambil tersenyum melihat istrinya.

Di usia pernikahannya yang menginjak 27 tahun, Sapari dan Sunarti telah melewati banyak kerikil kehidupan. Bagi mereka, apapun yang terjadi kepada pasangan, harus bisa menerima meskipun tidak mudah. Karena itu sudah menjadi pilihan sekaligus konsekuensi saat memutuskan untuk menikah.
Bagi Sapari, Sunarti adalah perempuan luar biasa yang selalu setia, sabar, pengertian, dan mendukung dirinya. Begitu pula sebaliknya, dimata Sunarti, Sapari adalah suami yang tangguh, pekerja keras, dan selalu sabar.
“Menikah itu asyik, bagaimana dengan karakter yang berbeda tapi harus jalan bersama, tak melihat kelebihan maupun kekurangannya. Bagaimana kita saling mengingatkan saat salah satu ada yang berjalan menyimpang, saling mengisi dan mendukung, serta beribadah dan taat kepada Allah,” tandas pria asal Banyuwangi ini.
Pentingnya Sistem Keluarga
Perjalanan pernikahan Kuncoro – Nur Aini dan Sapari – Suparti adalah contoh bagaimana pentingnya saling mengisi, mendukung, komitmen, dan juga komunikasi yang baik. Apalagi dalam teori psikologis, pernikahan memerlukan suatu sistem yang bekerja dengan baik dalam sebuah keluarga.
Ketika terdapat suatu permasalahan yang membuat sistem tidak terlaksana dengan baik, maka diperlukan adanya sistem yang baru. Seperti pada kasus Sapari dan Sunarti yang di pertengahan pernikahan mereka, Sapari mengalami kecelakaan yang mengakibatkan dirinya menjadi seorang difabel.
Ketika dihadapkan pada situasi tersebut, maka hal pertama yang harus dilakukan adalah menyadari bahwa nantinya hal ini akan merubah sistem yang sebelumnya telah dibuat.
“Sebelumnya suami bertugas mencari nafkah dan istri mengurus rumah. Namun karena musibah yang terjadi, tugas yang sebelumnya telah terbagi, kini dialihkan ke sang istri. Dan pada umumnya diawal membangun sistem yang baru tersebut seringkali terjadi shock dengan situasi yang ada,” ujar Dosen Fakultas Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, Happy Cahaya Mulya.
Dalam hal ini, yang perlu mendapatkan bantuan pertama adalah pihak yang mengalami musibah atau dalam kasus ini adalah Sapari. Ia harus bisa berdamai dengan dirinya dan kondisi saat itu. Tentunya hal ini tidak mudah, terlebih di awal proses berdamai.
Proses penerimaan diawali dengan proses penolakan atas kondisi tersebut, lalu ada proses kemarahan dalam diri, penyesalan, dan lain sebagainya. Dalam situasi inilah dukungan dari seorang istri sangat diperlukan.
“Pada tahapan berdamai dalam tanda kutip ini, istri bisa memberikan pengertian pada suami bahwa situasinya memang sulit, dan membuat semuanya sudah tidak seperti dulu lagi, sehingga support dari pasangan ini menjadi sangat penting terutama pada saat itu,” lanjutnya.
Setelah sang suami mulai dapat berdamai dengan kondisi tersebut, langkah berikutnya adalah mencari sistem yang baru. Di mana dalam sistem yang baru itu diperlukan kejujuran dari masing-masing pasangan dan diperlukan pula pemahaman atas kebutuhan dari masing-masing pasangan.
“Misalkan kondisinya berbeda, sang suami sudah tidak bisa mencari nafkah, nah saat seperti itu sang istri harus bagaimana, sedangkan kondisi finansial tetap berjalan. Jadi diperlukan pembicaraan jujur dengan pasangan yang adaptif atau tidak menyakiti hati satu sama lain,” ucapnya.
Disamping itu, selain menjadi dukungan sosial untuk suami, sang istri juga memerlukan bantuan. Hal ini dikarenakan, sang istri harus menghadapi perubahan situasi yang tiba-tiba terjadi. Dan dari kebanyakan kasus, sering terjadi adanya ketidakjujuran pada diri sendiri, dan menyebabkan rasa tidak adil dengan keadaan.
“Sang istri harus beradaptasi dengan segala hal yang seketika berubah, yang sebelumnya mengerjakan bareng-bareng sekarang tanggung jawab dilimpahkan ke istri. Kebanyakan disaat seperti ini akan muncul rasa tidak adil melihat pasangannya yang tampak tidak melakukan apa-apa dan tidak jarang istri yang menutupi rasa lelahnya dengan tujuan semua dilakukan untuk keluarga,” katanya.
Hal seperti inilah yang harus dihindari, sehingga diperlukan pula waktu berbincang dengan suami, saling mengeluarkan keluh kesah, saling menguatkan, saling membantu, serta memberikan pengertian agar melihat kondisi ini secara objektif.

Dalam proses ini, peran keluarga juga menjadi sangat penting terutama di masa awal penerimaan. Keluarga dapat membantu terkait emosional dengan cara mendengarkan keluh kesah sang anak tanpa menghakimi, karena pada dasarnya manusia itu sangat butuh untuk didengarkan. Selain itu, keluarga juga dapat membantu dalam hal yang sifatnya sehari-hari yang bertujuan fisiologis. Seperti, kebutuhan makan, kebutuhan keuangan, dan kebersihan rumah.
Jika proses tersebut telah berhasil dilalui, istri sudah mulai beradaptasi dengan keadaan yang baru, maka hal selanjutnya yang perlu dilakukan adalah memberikan pengertian pada sang anak, karena dia juga merupakan salah satu sistem dalam keluarga.Dan selama kedua orang tua selalu ada untuk sang anak serta kebutuhan anak baik secara psikis maupun fisik terpenuhi, maka perkembangan mentalnya akan cenderung aman.
Penanganan pada tiap anak pun berbeda tergantung pada tingkat kedewasaannya. Jika saat itu anak masih berada di fase bermain-main, maka perlu diberikan pemahaman tentang perubahan yang terjadi. Orang tua bisa mendorong aktivitas lain yang tetap bisa dilakukan meskipun tidak seperti dulu.
“Nah yang perlu dipahamkan misalnya adalah bermain sepak bola sedangkan dengan kondisi yang sekarang sudah tidak mungkin, diberikan pengertian bahwa dengan kondisi ini sang ayah tidak bisa menemani bermain itu tapi masih bisa menemani bermain hal lain. Jadi bukan tidak bisa sama sekali tetapi masih ada yang bisa dilakukan, agar anak tidak merasa kehilangan,” katanya.
Selanjutnya, jika sang anak secara umur telah beranjak dewasa maka dalam memberikan pemahaman akan lebih mudah. Orang tua dapat memberikan pengertian mengenai keadaan yang telah berubah dan secara otomatis mengubah sistem yang sebelumnya telah dibangun bersama.
“Kalau anak sudah relatif dewasa, memang secara kapasitas logika dan kapasitas berfikir kan sudah bisa diajak ngobrol, jadi diberi pemahaman untuk bersama membangun sistem yang baru dan mempersiapkan diri juga bahwa suatu saat sang anak ikut membantu mencari nafkah,” pungkas Happy. (fos/hk/red)
Tags: keluarga, Kisah Difabel, Pernikahan, Psikologis
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





