Kisah Pernikahan Difabel, Komitmen Jadi Kunci

Yovie Wicaksono - 3 May 2021
Nur Aini dan Kuncoro. Foto : (Super Radio/Nirwasita Gantari)

Kekuatan cinta dan komitmen nyatanya tidak hanya milik Kuncoro dan Nur Aini saja. Di kawasan Medokan Ayu, Super Radio berhasil menemui Sapari dan Sunarti. 

Mereka adalah suami istri yang harus berjuang dalam menghadapi ujian hidup di tengah pernikahannya yang awalnya baik-baik saja, sampai suatu hari, Sapari mengalami kecelakaan saat hendak berangkat bekerja yang mengubah hidupnya.

“Tahun 1994 saya berumah tangga dan dikaruniai anak pertama pada tahun 1995, kemudian anak kedua lahir pada 2003. Tidak ada kendala apapun dalam pernikahan kami, sampai pada tahun 2014, sebuah kejadian yang tidak mengenakkan terjadi pada saya,” ujar Sapari.

Sapari dan Sunarti. Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

Kejadian tersebut bermula dari kecelakaan motor yang dialaminya pada Oktober 2014 ketika hendak berangkat bekerja, dimana kaki kirinya di atas lutut tergencet motor dengan bibir saluran air sehingga ia tak sadarkan diri dan harus dibawa ke rumah sakit. 

Setelah menjalani perawatan selama 5 bulan, kaki kirinya semakin membengkak lantaran ada infeksi di tulang sumsumnya dan pada 13 Maret 2015, sekira 18.00 WIB, kaki kiri Sapari terpaksa harus di amputasi karena penyakit yang dialaminya semakin parah dan dikhawatirkan menyebar ke organ tubuh lainnya. 

“Saat itulah saya merasa bahwa semuanya hancur seketika. Apalagi saya ini kepala keluarga, satu-satunya tulang punggung keluarga,” kata pria berusia 48 tahun ini.

Setelah mengalami kecelakaan itu, Sapari dan istri menarik diri dari lingkungan sekitar lantaran malu dan lain sebagainya. Butuh waktu sekira satu tahun lamanya untuk keduanya  bisa saling menerima kondisi dan keadaan yang ada.

“Dulu saya malu kalau dibonceng suami kemana mana pakai motor roda 3, tapi kemudian saya pikir lagi, bahwa kondisi ini tidak terjadi hanya untuk satu dua bulan saja, tapi ini terjadi selamanya, lalu saya harus merasa malu sampai kapan. Toh dulu saat suami saya baik-baik saja saya mau menerima, masa sekarang saat kondisinya seperti itu saya tidak mau menerima. Akhirnya saya mengikuti kata hati saya, menerima apa adanya dan berusaha ikhlas, bahwa ini semua adalah takdir,” ujar Sunarti, perempuan asal Kediri ini.

Meski kehilangan satu kaki, dan harus istirahat selama satu tahun dari pekerjaan, rezeki tak pernah berhenti mengalir untuk keluarganya. Bahkan, perusahaan tempatnya bekerja tetap memberikan gaji meski tidak penuh, dan mau menerima Sapari kembali bekerja sebagai teknisi. 

Sapari beruntung karena rekan kerja, dan tetangga juga tak lelah dalam memberi dukungan untuknya. Begitu juga dengan istri dan kedua anaknya yang mampu memberikan kekuatan baru bagi Sapari untuk bangkit kembali dalam menjalani hidup.

“Ujian ini terlalu berat bagi saya, mungkin kalau bukan istri saya, saya sudah ditinggal dan tidak mau menerima kondisi saya. Karena banyak kasus seperti itu, orang yang awalnya non difabel kemudian menjadi difabel ditinggalkan oleh pasangannya karena tidak bisa menerima kondisinya,” ujar Sapari sambil tersenyum melihat istrinya.

Sunarti dan Sapari yang berada diatas motor roda tiga miliknya. Foto : (Super Radio/Nirwasita Gantari)

Di usia pernikahannya yang menginjak 27 tahun, Sapari dan Sunarti telah melewati banyak kerikil kehidupan. Bagi mereka, apapun yang terjadi kepada pasangan, harus bisa menerima meskipun tidak mudah. Karena itu sudah menjadi pilihan sekaligus konsekuensi saat memutuskan untuk menikah.

Bagi Sapari, Sunarti adalah perempuan luar biasa yang selalu setia, sabar, pengertian, dan mendukung dirinya. Begitu pula sebaliknya, dimata Sunarti, Sapari adalah suami yang tangguh, pekerja keras, dan selalu sabar.

“Menikah itu asyik, bagaimana dengan karakter yang berbeda tapi harus jalan bersama,  tak melihat kelebihan maupun kekurangannya. Bagaimana kita saling mengingatkan saat salah satu ada yang berjalan menyimpang, saling mengisi dan mendukung, serta beribadah dan taat kepada Allah,” tandas pria asal Banyuwangi ini.

Pages: 1 2 3

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.