Kisah Pernikahan Difabel, Komitmen Jadi Kunci

Yovie Wicaksono - 3 May 2021
Nur Aini dan Kuncoro. Foto : (Super Radio/Nirwasita Gantari)

Pentingnya Sistem Keluarga

Perjalanan pernikahan Kuncoro – Nur Aini dan Sapari – Suparti adalah contoh bagaimana pentingnya saling mengisi, mendukung, komitmen, dan juga komunikasi yang baik. Apalagi dalam teori psikologis, pernikahan memerlukan suatu sistem yang bekerja dengan baik dalam sebuah keluarga. 

Ketika terdapat suatu permasalahan yang membuat sistem tidak terlaksana dengan baik, maka diperlukan adanya sistem yang baru. Seperti pada kasus Sapari dan Sunarti yang di pertengahan pernikahan mereka, Sapari mengalami kecelakaan yang mengakibatkan dirinya menjadi seorang difabel. 

Ketika dihadapkan pada situasi tersebut, maka hal pertama yang harus dilakukan adalah menyadari bahwa nantinya hal ini akan merubah sistem yang sebelumnya telah dibuat.

“Sebelumnya suami bertugas mencari nafkah dan istri mengurus rumah. Namun karena musibah yang terjadi, tugas yang sebelumnya telah terbagi, kini dialihkan ke sang istri. Dan pada umumnya diawal membangun sistem yang baru tersebut seringkali terjadi shock dengan situasi yang ada,” ujar Dosen Fakultas Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, Happy Cahaya Mulya.

Dalam hal ini, yang perlu mendapatkan bantuan pertama adalah pihak yang mengalami musibah atau dalam kasus ini adalah Sapari. Ia harus bisa berdamai dengan dirinya dan kondisi saat itu. Tentunya hal ini tidak mudah, terlebih di awal proses berdamai.

Proses penerimaan diawali dengan proses penolakan atas kondisi tersebut, lalu ada proses kemarahan dalam diri, penyesalan, dan lain sebagainya. Dalam situasi inilah dukungan dari seorang istri sangat diperlukan.

 “Pada tahapan berdamai dalam tanda kutip ini, istri bisa memberikan pengertian pada suami bahwa situasinya memang sulit, dan membuat semuanya sudah tidak seperti dulu lagi, sehingga support dari pasangan ini menjadi sangat penting terutama pada saat itu,” lanjutnya. 

Setelah sang suami mulai dapat berdamai dengan kondisi tersebut, langkah berikutnya adalah mencari sistem yang baru. Di mana dalam sistem yang baru itu diperlukan kejujuran dari masing-masing pasangan dan diperlukan pula pemahaman atas kebutuhan dari masing-masing pasangan.

“Misalkan kondisinya berbeda, sang suami sudah tidak bisa mencari nafkah, nah saat seperti itu sang istri harus bagaimana, sedangkan kondisi finansial tetap berjalan. Jadi diperlukan pembicaraan jujur dengan pasangan yang adaptif atau tidak menyakiti hati satu sama lain,” ucapnya.

Disamping itu, selain menjadi dukungan sosial untuk suami, sang istri juga memerlukan bantuan. Hal ini dikarenakan, sang istri harus menghadapi perubahan situasi yang tiba-tiba terjadi. Dan dari kebanyakan kasus, sering terjadi adanya ketidakjujuran pada diri sendiri, dan menyebabkan rasa tidak adil dengan keadaan.

“Sang istri harus beradaptasi dengan segala hal yang seketika berubah, yang sebelumnya mengerjakan bareng-bareng sekarang tanggung jawab dilimpahkan ke istri. Kebanyakan disaat seperti ini akan muncul rasa tidak adil melihat pasangannya yang tampak tidak melakukan apa-apa dan tidak jarang istri yang menutupi rasa lelahnya dengan tujuan semua dilakukan untuk keluarga,” katanya.

Hal seperti inilah yang harus dihindari, sehingga diperlukan pula waktu berbincang dengan suami, saling mengeluarkan keluh kesah, saling menguatkan, saling membantu, serta memberikan pengertian agar melihat kondisi ini secara objektif.

Ilustrasi. Foto : (Thinkstock)

Dalam proses ini, peran keluarga juga menjadi sangat penting terutama di masa awal penerimaan. Keluarga dapat membantu terkait emosional dengan cara mendengarkan keluh kesah sang anak tanpa menghakimi, karena pada dasarnya manusia itu sangat butuh untuk didengarkan. Selain itu, keluarga juga dapat membantu dalam hal yang sifatnya sehari-hari yang bertujuan fisiologis. Seperti, kebutuhan makan, kebutuhan keuangan, dan kebersihan rumah. 

Jika proses tersebut telah berhasil dilalui, istri sudah mulai beradaptasi dengan keadaan yang baru, maka hal selanjutnya yang perlu dilakukan adalah memberikan pengertian pada sang anak, karena dia juga merupakan salah satu sistem dalam keluarga.Dan selama kedua orang tua selalu ada untuk sang anak serta kebutuhan anak baik secara psikis maupun fisik terpenuhi, maka perkembangan mentalnya akan cenderung aman.

Penanganan pada tiap anak pun berbeda tergantung pada tingkat kedewasaannya. Jika saat itu anak masih berada di fase bermain-main, maka perlu diberikan pemahaman tentang perubahan yang terjadi. Orang tua bisa mendorong aktivitas lain yang tetap bisa dilakukan meskipun tidak seperti dulu. 

Nah yang perlu dipahamkan misalnya adalah bermain sepak bola sedangkan dengan kondisi yang sekarang sudah tidak mungkin, diberikan pengertian bahwa dengan kondisi ini sang ayah tidak bisa menemani bermain itu tapi masih bisa menemani bermain hal lain. Jadi bukan tidak bisa sama sekali tetapi masih ada yang bisa dilakukan, agar anak tidak merasa kehilangan,” katanya.

Selanjutnya, jika sang anak secara umur telah beranjak dewasa maka dalam memberikan pemahaman akan lebih mudah. Orang tua dapat memberikan pengertian mengenai keadaan yang telah berubah dan secara otomatis mengubah sistem yang sebelumnya telah dibangun bersama. 

“Kalau anak sudah relatif dewasa, memang secara kapasitas logika dan kapasitas berfikir kan sudah bisa diajak ngobrol, jadi diberi pemahaman untuk bersama membangun sistem yang baru dan mempersiapkan diri juga bahwa suatu saat sang anak ikut membantu mencari nafkah,” pungkas Happy. (fos/hk/red)

Pages: 1 2 3

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.