Kisah Kedekatan Bung Karno dan Bung Hatta

Sementara itu, Peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Asvi Warman Adam menyebut adanya rekayasa Orde Baru untuk membenturkan Soekarno dan Mohammad Hatta. Dimana dalam buku disebarkan pada masa Orde Baru mengatakan Bung Karno melecehkan Bung Hatta dan juga pendiri bangsa lainnya Sutan Sjahrir.
“Saya bertanya di mana, di mana sumbernya, apa dokumennya? Dan dikatakan bahwa itu ditulis di dalam buku Bung Karno (berjudul) Penyambung Lidah Rakyat yang diterbitkan oleh Gunung Agung pada masa Orde Baru,” kata Asvi.
Asvi pun akhirnya menanyakan ke Syamsul Hadi, dari Yayasan Bung Karno. Syamsul adalah orang yang berperan memperbaiki atau revisi dari terjemahan buku Karya Cindy Adams, penulis berkebangsaan Amerika Serikat, mengenai Bung Karno.
Dan ternyata, rekayasa itu ada dalam dua alinea tambahan atau rekayasa ala Orde Baru. Salah satu teks atau alinea itu dituliskan Bung Karno seolah tidak membutuhkan Hatta dan Sjahrir yang dikatakan menolak memperlihatkan diri di saat pembacaan Proklamasi.
“Kemudian Syamsul Hadi itu memeriksa buku aslinya yang berbahasa Inggris dan ternyata tidak ada dua alinea yang sangat melecehkan itu, sama sekali tidak ada dalam bahasa Inggrisnya. Jadi kalau begitu, ada orang yang menambahkan dua alinea itu dan itu dibaca sepanjang Orde Baru,” tegas Asvi.
Ia juga memaparkan fakta tentang kepemimpinan Dwitunggal masa awal Republik Indonesia berdiri yakni Soekarno-Hatta. Menurut Asvi, Bung Karno dan Bung Hatta selalu bersama dalam memperjuangkan kemerdekaan hingga keduanya memimpin bangsa bersama.
“Tidak ada proklamasi kemerdekaan tanpa Bung Karno. Tidak ada proklamasi kemerdekaan tanpa Bung Hatta. Tidak ada proklamasi kemerdekaan tanpa Bung Karno dan Bung Hatta,” tutur Asvi.
Kemudian, sejarah membuktikan, Bung Karno adalah penggali Pancasila, sementara Bung Hatta lah pengawal dan penyelamat Pancasila.
“Bung Hatta lah yang pada tanggal 18 Agustus 1945 membicarakan dengan beberapa tokoh Islam tentang penghapusan 7 kata (Piagam Jakarta) dan mencantumkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Kalau tidak ada Hatta, 7 kata itu akan tetap ada sampai sekarang,” tandas Asvi. (*/red)
Tampilkan SemuaTags: Asvi Warman Adam, Bapak Bangsa, Bung Karno dan Bung Hatta, Guru Besar Universitas Indonesia (UI), HUT Mohammad Hatta, Kisah Kedekatan Bung Karno dan Bung Hatta, LIPI, megawati soekarnoputri, Meutia Farida Hatta, Peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, proklamator, Sejarah bangsa, Sri Edi Swasono
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





