Manfaatkan Waktu Luang, Pelajar di Kediri Budidaya Ikan Cupang dan Kura-kura Brazil

Yovie Wicaksono - 5 December 2020
Ferdiyansah Dwi Sakti memperlihatkan salah satu koleksi ikan cupang yang dimilikinya. Foto : (Super Radio/Rahman Halim)

SR, Kediri – Seorang pelajar yang tinggal di lereng kaki Gunung Wilis mengisi kegiatan kesehariannya dengan budidaya ikan cupang dan kura-kura Brazil. Remaja ini bernama Ferdiyansah Dwi Sakti, yang tinggal di Dusun Karangnongko, Desa Joho, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri.

Menurut pemuda berusia 18 tahun tersebut, budidaya ikan cupang itu ia geluti pada awal tahun 2020 lalu.

“Saya mulai budidaya ikan cupang sejak awal 2020 lalu, sebelum booming seperti sekarang. Saya tertarik karena ikan ini memiliki warna yang beragam,” ujar remaja yang akrab disapa Ferdi ini.

Karena ketertarikannya itu, ia kemudian belajar cara budidaya ikan cupang secara otodidak  melalui literatur YouTube dan sumber lainnya.

“Kemudian saya dibelikan dua pasang ekor indukan ikan cupang sama bapak, jenisnya Giant Multy Galaxy. Harganya saat itu sudah mahal Rp 500 ribu. Dua pasang jenis ikan itu saya kawinkan akhirnya berhasil. Saat itu bertelur sekitar lebih dari  400,” kata ragil dari dua bersaudara ini.

Beberapa bulan berjalan, Ferdi mengaku ikan cupang yang dimilikinya terus bertambah, bahkan saat ini mencapai kisaran ribuan ekor.

“Ikan cupang kalau sudah bertelur bisa mencapai ribuan, namun perlu diketahui juga bahwa angka kematiannya juga tinggi bisa mencapai 80 persen,” jelasnya.

Ferdi lantas kembali menjelaskan jika budidaya ikan cupang dirasa sangat mudah ketimbang ikan hias lainnya. Selain memiliki ketahanan fisik yang kuat hidup di air, ikan ini juga tidak membutuhkan filter ketika sudah berada di dalam kolam.

“Ganti air cuma tiga kali sekali, mudah perawatannya. Semuanya saya kerjakan sendiri. Bapak cuman bantu paling pasang lampu saja,” ungkapnya.

Dari dua ribu ekor ikan cupang yang dimilikinya saat ini, ada lima jenis yang telah berhasil ia budidayakan antara lain jenis Avatar, Nemo Gold, Nemo Galaxy, Multi Colour dan Giant.

“Paling laku itu plakat termasuk Avatar, kecuali yang Giant. Yang ekor-ekor pendek itu namanya plakat,” tuturnya.

Harga ikan cupang yang dijual bervariatif dari harga puluhan ribu hingga jutaan rupiah. Nilai ekonomis ikan cupang sendiri ditentukan dari beberapa faktor, antara lain besar kecil ukuran, warna, serta ekornya.

“Paling rendah saya jual harga Rp 70 ribu, kalau yang harga ratusan ribu cupang jenis Nemo Gold dan Multi Colours dan Avatar,” kata remaja yang mengaku sejak SD menyukai pelihara hewan ini.

Dari hasil usaha budidayanya selama satu tahun itu, Ferdi mengaku sudah berhasil menjual  ratusan ekor ikan cupang. Lebih lanjut, ia menolak untuk menyebut omset keuntungan yang ia didapat selama ini.

“Alhamdulillah. Cukuplah buat ngopi dan jajan sehari-hari,” elaknya.

Semua penjualan ikan cupang dipasarkan melalui media sosial seperti Facebook, Instagram dan YouTube. Selain itu kedepan ia berencana akan merambah penjualan melalui online shop. Pembeli ikan cupang inipun mayoritas berasal dari luar daerah seperti Subang, Malang, dan Surabaya.

Setiap kali kirim, terkadang ia melayani pemesanan  mencapai 20 sampai 30 ekor. Paling banyak ikan yang dibeli seharga Rp 200 ribu untuk jenis Giant Koi, dan Giant Nemo.  Disamping itu juga ada konsumen yang membeli ikan cupang harga paling murah Rp 70 ribu. Kebanyakan para pembelinya adalah user murni.

Selama menekuni budidaya ikan cupang, Ferdi merasa tidak pernah kesulitan dalam membagi waktu. Saat proses belajar daring berlangsung, ia selalu sempatkan untuk wajib ikut. Ketika belajar daring selesai, disaat waktu senggang, menginjak sore selalu ia pergunakan untuk membersihkan kolam dan sejumlah tempat penyimpanan ikan dan kura-kura. Khusus pada malam hari, giliran memberi makan ikan peliharaannya.

“Banyak waktu longgar, mengisi waktu luang setelah selesai mengikuti metode belajar daring dari sekolah. Kalau belajar daring mulai jam 7 sampai jam 2 siang,” paparnya.

Tidak hanya menjual ikan  cupang Ferdi juga melayani penjualan kura-kura brazil. Rintisan usaha  ini baru dilakoninya selama sebulan.

Meski baru satu bulan, ia sudah berani menjual kura-kura berukuran mini ini dengan harga bersaing, dimana harga eceran untuk kura kura brazil dijual per ekor kisaran Rp 20 – Rp 25 ribu.

“Sebenarnya saya lebih fokus ke budidaya ikan cupangnya, tetapi kalau ada yang mau beli kura-kura tetap saya layani. Harganya, kalau diluar bisa Rp 30 – Rp 35 ribu,” beber Ferdi.

Sementara itu ayah dari Ferdi, Sunawan merasa sangat  bersyukur melihat putranya sudah bisa hidup mandiri. Menurut Pria yang berprofesi sebagai peternak lebah ini, apapun usaha yang dilakukan putranya selalu ia dukung asalkan mengarah pada kegiatan  yang positif.

“Dari pada ikut kegiatan yang tidak jelas diluar, seperti main game. Lebih baik usaha seperti ini. Saya selalu mendukung,” ujar Sunawan yang juga dikenal sebagai pedagang madu Kaliandra Sumber Podang. (rh/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.