Potret “Cinta dan Perselingkuhan” Uskup Surabaya Monsinyur Didik
Lukisan bunga mawar yang sebagian warna merahnya berasal dari darah Monsinyur Didik. Mengering dan menghitam seiring Waktu di Gereja Hati Kudus Yesus Katedral Surabaya, Selasa (11/3/2025).(foto:niken oktavia/superradio.id).
Pengunjung bercengkerama mengagumi salah satu karya lukis Monsiyur Didik yang menampilkan toleransi beragama dalam potret Paus Fransiskus berpelukan dengan Imam Besar Masjid Al-Azhar Kairo, Ahmed El-Tayeb dalam momen penandatangan Dokumen Abu Dhabi tentang Persaudaraan Manusia. di Gereja Hati Kudus Yesus Katedral Surabaya, Selasa (11/3/2025). (foto:niken oktavia/superradio.id)
Tak hanya umat Katolik, pengunjung dari lintas agama pun turut menikmati hasil karya Monsinyur Didik yang dipamerkan di Gereja Hati Kudus Yesus Katedral Surabaya, Selasa (11/3/2025).(foto:niken oktavia/superradio.id)
Monsinyur Didik menjelaskan kepada pengunjung tentang hasil karya lukisnya yang menampilkan sosok Yesus di Gereja Hati Kudus Yesus Katedral Surabaya, Selasa (11/3/2025).(foto:niken oktavia/superradio.id).
Monsinyur Didik saat berbagi pengalaman seninya di depan wartawan, pelajar dan mahasiswa di Gereja Hati Kudus Yesus Katedral Surabaya, Selasa (11/3/2025). (foto:niken oktavia/superradio.id)
Inklusivitas terlihat ketika Teman Tuli pun turut antusias mendengarkan pemaparan tentang pameran lukisan Uskup Surabaya didampingi dengan Juru Bahasa Isyarat. di Gereja Hati Kudus Yesus Katedral Surabaya, Selasa (11/3/2025).(foto:niken oktavia/superradio.id)
SR, Surabaya – Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Katedral Surabaya membuka pintu bagi masyarakat umum dengan menggelar pameran lukisan Uskup Surabaya, Monsinyur Agustinus Tri Budi Utomo atau yang akrab disapa Monsinyur Didik. Pameran yang bertema “Bishop’s Love Affair” berlangsung di Aula Maria Gereja Hati Kudus Yesus Katedral Surabaya, menampilkan 18 lukisan yang dipamerkan mulai 25 Februari hingga 23 Maret 2025.
“Saya setuju menggunakan kata affair. Affair bisa saja menjurus pada relasi yang heboh dan penuh drama, tapi bagiku, faktanya aku punya love affair (drama percintaan). Tidak bisa dipungkiri bahwa lukisan-lukisan ini adalah sebuah affair. Affair-nya adalah jatuh cintaku sekaligus perselingkuhanku dari gerejaku sendiri. Dengan siapa? Dengan Tuhan. Satu-satunya perselingkuhan yang dianjurkan adalah selingkuh dengan Tuhan. Justru selingkuhmu dengan Tuhan akan merekatkan relasi dengan keluargamu,” ujar Monsinyur Didik dalam acara talk show bertajuk “Bishop’s Love Affair: Sharing Session on Art and Faith”, Selasa (11/3/2025)
Melukis, bagi Monsiyur Didik memiliki makna dan nilai tersendiri. Sejak kecil ia sudah mengekspresikan perasaan melalui gambar. Salah satu pengalaman yang berkesan dan menjadi hal pertama yang memotivasinya adalah ketika pertama kali jatuh cinta.
“Waktu SD kelas 6 jatuh cinta pertama. Saya tidak berani ngomong. Bagimana mengekspresikannya? Maka setiap hari saya menghafalkan wajah gadis yang saya cintai itu. Karena dulu foto belum ada. Saya menghafalkan wajah Lilik. Di rumah, saya bertahap gambar itu dan saya tempel di balik lemari baju. Setiap buka lemari itu saya seneng ketika melihat potretnya,” papar uskup yang ditahbiskan pada Januari 2025 silam
Sejak itu, Monsinyur Didik mengaku, jika senang dengan sesuatu, maka ia akan mengekspresikannya dengan menggambar. “Kebanyakan hasil lukisan saya adalah ketika saya sedang mencintai sesuatu,” jelasnya
Salah satu pengalaman unik Monsinyur Didik adalah ketika memenangkan lomba lukis setingkat Kecamatan dan memenangkan hadiah berupa Al-Qur’an. Hal ini menjadi kenangan yang berkesan. Tak ada rasa kebencian, sebab Monsinyur mengaku, sejak kecil hidup dalam lingkungan yang penuh keberagaman. Lahir di Desa Pandansari, Kecamatan Sine, Kabupaten Ngawi, Monsinyur Didik tumbuh dalam budaya Islam Kejawen yang dekat dengan Nahdlatul Ulama. Banyak keluarganya yang beragama Islam, sehingga ia tidak pernah merasa resah dengan perbedaan agama.
Pameran ini mendapat respons positif dari para pengunjung, termasuk Freddy Istanto, pendiri Surabaya Heritage Society. Lukisan-lukisan Monsinyur Didik, menurutnya, memiliki makna kontekstual dan teramat dalam. Bukan hanya perjalanan keimanan tapi juga kemanusiaan. “Lukisan bagus itu banyak, tetapi lukisan bukan hanya konsumsi mata, melainkan juga konsumsi hati dan konsumsi iman,” kesan Freddy.
Dibuka setiap hari, masyarakat bisa mengunjungi pameran Uskup Didik tanpa dipungut biaya dari pukul 09.00 hingga 20.00 di Gereja Hati Kudus Yesus Katedral Surabaya Jl. Polisi Istimewa No. 15, Surabaya.(nio/red)
Tags: gereja katedral, lukisan, monsiyur didik, superradio.id, surabaya, Uskup Surabaya
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.




