Anom Surahno Dorong GMNI Cetak Pemimpin Teknokratik & Adaptif
SR Surabaya – Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Asisten I) Sekdaprov Jatim, Anom Surahno, memberikan wawasan strategis mengenai tantangan kepemimpinan di tengah pesatnya perkembangan teknologi.
Hal ini disampaikannya saat menjadi narasumber dalam Sekolah Kader Vol. 2 yang digelar oleh DPC Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Surabaya Raya di Surabaya.
Dalam forum tersebut, ia menekankan bahwa di era digital yang serba cepat ini, setiap calon pemimpin harus memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan tanpa kehilangan objektivitas dalam mengambil keputusan.
Menurut Anom, perubahan zaman yang didorong oleh disrupsi teknologi menuntut pola kepemimpinan yang berbeda dibandingkan masa lalu. Kader GMNI sebagai calon pemimpin masa depan diharapkan tidak hanya menguasai teori ideologi, tetapi juga fasih dalam menavigasi tata kelola pemerintahan yang berbasis digital.
Ia menilai bahwa sinergi antara nilai-nilai perjuangan dan kecakapan teknokrasi adalah kunci utama dalam menghadapi kompleksitas dinamika pembangunan saat ini.
Dalam pemaparannya, Anom menggarisbawahi pentingnya keterbukaan pikiran bagi seorang pemimpin dalam menyikapi arus informasi.
“Di era digital seperti sekarang, pemimpin itu harus adaptif. Artinya, harus mampu menyesuaikan diri dengan segala bentuk perubahan teknologi dan sosial yang terjadi sangat cepat,” ujar Anom saat membedah materi mengenai kepemimpinan dan teknokrasi di hadapan para peserta.
Selain aspek adaptasi, Anom juga menyoroti aspek objektivitas yang sering kali tergerus oleh derasnya arus informasi di media sosial. Bagi seorang pemimpin, kemampuan untuk membedakan antara fakta dan opini menjadi sangat krusial agar kebijakan yang diambil tepat sasaran.
“Seorang pemimpin juga harus objektif. Keputusan yang diambil tidak boleh hanya berdasarkan asumsi atau tekanan opini publik di dunia maya, tapi harus berdasarkan data dan realitas yang ada di lapangan,” tegasnya lagi.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa literasi digital bukan sekadar kemampuan menggunakan gawai, melainkan kemampuan untuk mengolah informasi demi kepentingan publik. Anom berharap kader GMNI bisa menjadi pionir dalam pemanfaatan teknologi untuk mempercepat pelayanan kepada rakyat. Menurutnya, inovasi dalam pembangunan berkelanjutan hanya bisa dicapai jika pemimpin memiliki kemauan untuk belajar dan mengintegrasikan teknologi ke dalam kebijakan pembangunan.
Mantan Ketua BKD Jatim itu juga menekankan bahwa menjadi pemimpin yang adaptif berarti harus siap menghadapi kritik dan masukan dari masyarakat yang kini lebih mudah tersampaikan lewat kanal digital. Pemimpin tidak boleh antikritik, melainkan harus menjadikan kritik tersebut sebagai bahan evaluasi untuk perbaikan sistem. Ia mengajak para kader untuk mulai melatih kepekaan objektif tersebut selama dalam masa pendidikan organisasi.
Kegiatan Sekolah Kader Vol. 2 ini juga menghadirkan pembicara ahli lainnya, termasuk Nonot Suryono dari Dewan Kehormatan Peradi Jatim dan perwakilan dari Kadin Jatim. Kehadiran berbagai pakar dari latar belakang berbeda ini bertujuan untuk memberikan pandangan komprehensif bagi kader GMNI Surabaya mengenai bagaimana memadukan politik, teknokrasi, dan kewirausahaan demi kemajuan ekonomi daerah yang berkelanjutan.
Anom Surahno memberikan pesan penyemangat agar para peserta tidak pernah berhenti berinovasi. Ia meyakini bahwa dengan sikap adaptif dan objektif, kader GMNI akan mampu menjawab tantangan zaman dan membawa perubahan positif bagi masyarakat luas. Masa depan kepemimpinan di Jawa Timur, menurutnya, berada di tangan anak-anak muda yang mampu menyelaraskan kemajuan teknologi dengan integritas yang kuat. (js/red)
Tags: Adaptif, anom surahno, Kepemimpinan, sekolah kader gmni, superradio.id, surabaya
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





