Jelang Natal, Pedagang Aksesoris Kerohanian di Puhsarang Sepi Pembeli

Yovie Wicaksono - 18 December 2020
Pedagang cinderamata di wisata religi Gua Maria Lourdes, Desa Puhsarang, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Foto : (Super Radio/Rahman Halim)

SR, Kediri – Jelang perayaan Natal, sejumlah pedagang cinderamata di wisata religi Gua Maria Lourdes, Desa Puhsarang, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, sepi pembeli. 

Kondisi yang dialami oleh para pedagang ini terjadi sejak beberapa waktu lalu hingga diujung akhir pergantian tahun saat ini. Turunnya daya beli pengunjung ini tidak lepas dari situasi pandemi Covid-19. 

Meski pihak pengelola telah membuka kembali tempat wisata setelah sempat tutup beberapa bulan, hal ini belum membawa pengaruh pada penambahan jumlah pengunjung yang signifikan. 

“Kalau dulu sebelum pandemi corona, banyak pengunjung yang datang dari luar kota. Ini karena pandemi pengunjung yang datang belum banyak. Dulu  pengunjung yang datang paling banyak dari Surabaya, Malang, Banyuwangi,” ujar Lucia Amini, penjaga toko aksesoris kerohanian Ana Souvenir.

Toko Ana Souvenir sendiri menjual beraneka ragam aksesoris kerohanian antara lain, lilin, kaos, serta patung salib dan lain sebagainya. Aksesoris kerohanian yang dijual ini ada yang diperoleh dari luar daerah, mancanegara dan buatan Kediri. 

“Kalau salib kecil ini di dapat dari Surabaya, buatan asli Italia. Harganya Rp 100 ribu. Kalau seperti rosario ini bikinan kita sendiri. Kalau paling murah rosario kita jual Rp 10 ribu, paling mahal kisaran Rp 65 – 85 ribu,” jelasnya. 

Selain beragam aksesoris, disini juga menjual salib yang terbuat dari pahatan kayu. Untuk harga, paling mahal dijual Rp 5 juta dan paling murah dijual Rp 225 ribu. Harga tersebut ditentukan dari bentuk dan ukuran. “Semua tergantung dari besar kecilnya ukuran,” ujarnya. 

Lebih lanjut, perempuan berusia  37 tahun ini mengaku, dari 100 lebih aksesoris yang dijual ditoko,  barang paling banyak dicari oleh pengunjung adalah lilin yang digunakan pengunjung sebagai sarana doa di Gua Maria Lourdes. 

“Yang dibeli kebanyakan lilin dan tempat air. Lilin digunakan untuk berdoa. Lilin kita jual bervariasi antara Rp 5 – 10 ribu. Kalau lilin berukuran besar harganya Rp 45 ribu, bahkan ada yang lebih.  Tempat air berukuran kecil dijual Rp 8 ribu,” katanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, wisata religi Gua Maria Lourdes dibuka untuk umum sejak 1 Oktober 2020 lalu dengan penerapan protokol kesehatan secara ketat. Meski statusnya sudah dibuka untuk umum, gua ini menerapkan aturan pengunjung yang boleh masuk hanya yang berusia antara 11-60 tahun.

Jumlah jemaat yang diizinkan masuk juga dibatasi, yakni hanya 100 orang per hari. Pengunjung yang dari luar daerah diwajibkan untuk membawa rekomendasi surat sehat.

Meski sudah dibuka, namun ada beberapa titik lokasi yang berada di dalam masih ditutup, di antaranya Jalan Salib, Pondok Rosario, Bukit Tabor dan Pendopo Emaus. 

Bagi pengunjung yang hendak berziarah ke makam para uskup, dibatasi selama 90 menit berada di dalam.

Karena masih dalam kondisi pandemi, para pengunjung diwajibkan untuk memakai masker dan membawa hand sanitizer. Pihak pengelola juga telah menyediakan sejumlah tempat untuk cuci tangan. 

Semenjak dibuka lagi, jumlah pengunjung yang datang belum begitu banyak. Itupun berasal dari Kediri dan sekitarnya (rh/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.