Tekun Kumpulkan Uang di Kresek, Penjual Bubur Sidoarjo Berangkat Haji
SR, Surabaya – Mimpi menuju Tanah Suci sering kali dianggap sebagai kemustahilan bagi mereka yang berpenghasilan pas-pasan. Namun, bagi pasangan suami istri asal Sedati, Sidoarjo, keyakinan, ketekunan , dan niat tulus akan selalu menemukan jalannya menuju Ka’bah.
Sosok tersebut adalah Mochammad Nurhasan yang kini berusia 78 tahun, didampingi istri tercintanya, Dawama, yang berusia 73 tahun. Pasangan lansia ini menjadi potret nyata perjuangan jemaah haji Indonesia yang berangkat dengan penuh kesahajaan. Meski usia tak lagi muda, semangat mereka untuk menunaikan rukun Islam kelima tetap membara.
Keseharian pasangan ini jauh dari kemewahan, karena mereka menyambung hidup dengan berjualan lontong dan bubur. Lapak sederhana di depan rumah mereka yang berlokasi di wilayah Sedati menjadi saksi bisu setiap peluh yang menetes demi mengumpulkan rupiah demi rupiah. Dari setiap porsi bubur yang terjual, terselip doa agar suatu saat mereka bisa diundang menjadi tamu Allah.
“Hasil keuntungan dari berjualan bubur dan lontong bisa meraih omset Rp100 ribu perhari. Dari keuntungan itu disisihkan Rp200 ribu perminggu lewat arisan di kampung,” kata Nurhasan di Asrama Haji Surabaya.
Hal yang paling menyentuh dari kisah mereka adalah cara mereka menyimpan uang hasil jualan yang sangat tradisional. Alih-alih menyimpannya di bank, Mochammad Nurhasan dan Dawama memilih untuk ‘nyelengi’ di dalam sebuah kantong plastik atau kresek berukuran besar. Uang recehan hingga lembaran kertas dikumpulkan dengan sabar di dalam wadah sederhana tersebut selama bertahun-tahun.
Perjuangan panjang ini pun berbuah manis dan menjadi kebanggaan bagi keluarga besar mereka. Diketahui, pasangan ini telah dikaruniai 5 orang anak, 10 cucu, hingga 3 cicit yang semuanya menjadi saksi hidup bagaimana kerja keras orang tua mereka membuahkan hasil. Keberangkatan mereka ke Tanah Suci bukan hanya kemenangan pribadi, melainkan kebahagiaan bagi seluruh keturunan mereka.
Saat ini, Mochammad Nurhasan dan Dawama tergabung dalam jemaah haji Kloter 53. Kehadiran mereka di antara ribuan jemaah lainnya memberikan warna tersendiri, terutama bagi mereka yang mengenal latar belakang perjuangan hidup pasangan penjual bubur ini dari nol hingga bisa menginjakkan kaki di tanah para nabi. (js/red)
Tags: ibadah haji, jual bubur, sedati, sidoarjo, superradio.id
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.



