Jawa Timur Tempat Reproduksi Radikalisme, Usia Produktif Kelompok Paling Rentan
Proses Deradikalisasi Dianggap Jalan di Tempat
Berbeda dengan proses propaganda, rekrutmen, hingga pendanaan yang semakin masif dilakukan kelompok teroris melalui daring selama masa pandemi, menurut Al Chaedar, proses deradikalisasi justru jalan di tempat.
“Karena metodenya yang salah. Saya melihat bahwa metodenya terlalu kaku dan tidak liberal dalam artian tidak sesuai dengan perkembangan yang ada. Harus ada evaluasi secara menyeluruh,” ujarnya.
Menurutnya, deradikalisasi yang ideal seharusnya terlebih dahulu melihat bagaimana proses terjadinya radikalisasi pada napiter, kemudian berusaha melakukan deradikalisasi secara perlahan dan runut dengan meruntuhkan pola pikir mereka yang takfiri, cenderung anti kemanusiaan, anti sipil, dan sebagainya yang harus didekonstruksi.
“Setelah tertangkap mereka itu harus didekonstruksi pemikiran-pemikirannya. Ini sangat penting dilakukan, kalau tidak itu kita hanya akan menggarami laut saja,” kata Al Chaedar.
Ia mengatakan, pada dasarnya seseorang terlahir sebagai pluralis. Namun dengan berjalannya waktu seseorang mengalami perubahan sikap beragama menjadi konservatif, apabila mengalami perubahan pemikiran yang lebih buruk lagi akan berada di tahap intoleransi, fundamentalis, radikal, dan yang terparah berada di tahap teroris.
“Kalau sudah terjerembab ke tahap teroris ini yang parah. Dan itu harus didekonstruksi agar naik menjadi radikal, lalu naik lagi fundamentalis, intoleran, konservatif, dan tahap yang lebih baik lagi,” ujarnya.
Setidaknya membutuhkan waktu 3 hingga 6 bulan bagi seorang napiter untuk bisa kembali menjadi seorang yang moderat dan bisa kembali berada di tengah-tengah masyarakat. Sekalipun ia tak menampik adanya kemungkinan seseorang kembali menjadi teroris setelah menjalani deradikalisasi apabila proses tersebut tidak berjalan dengan baik atau “tidak selesai”.
Sama halnya dengan tantangan pencegahan, Al Chaedar mengatakan, adanya sikap egosentrisme dari aparat ataupun birokrat keamanan yang belum sinkron menuangkan program-programnya untuk melakukan deradikalisasi menjadi tantangan terberat dari upaya deradikalisasi.
Proses Deradikalisasi
Sebagai salah satu orang yang pernah terjerumus dan terpapar paham terorisme, Ali Fauzi merasa miris dengan apa yang terjadi. Karena itu, untuk menebus kesalahannya di masa lalu ia mendirikan suatu yayasan bernama Lingkar Perdamaian.
Yayasan tersebut menjadi salah satu upaya deradikalisasinya untuk menyembuhkan para pelaku teroris dari paham radikalisme. “Jadi binaannya itu ada 123 orang mayoritas dari Jawa Timur. Daerah Surabaya, Mojokerto, Pasuruan, sekitar situ,” ucapnya.
Meski awalnya tak mudah dan membutuhkan proses panjang untuk mengubah pemahaman tersebut, namun Ali Fauzi tetap tak gentar untuk mendidik anak binaannya demi tercipta kedamaian di Indonesia.
“Memang awalnya agak berat, satu kali, dua kali, tiga kali, bahkan lima kali pertemuan itu kadang-kadang masih mentok, baru selanjutnya semuanya bisa cair,” jelasnya.
“Sebagaimana kita paham bahwa radikalsisai butuh waktu, maka deradikalisasi juga butuh proses, dan ini kami latihkan semenjak mereka di lapas. Kita sudah melakukan pendekatan, yang bersangkutan ini kedekatannya dengan siapa yang sudah di luar nanti kita bawa ke lapas, biasanya kalau sudah dekat dengan kawan itu, nah dari apa pintu itu kita mengarahkan pelan-pelan. Maka ketemulah dengan teman yang moderat,” imbuhnya. (fos/hk/red)
Tampilkan SemuaTags: Al Chaedar, Ali Fauzi, bnpt, Ciri-Ciri Orang Terpapar Radikalisme, Jawa Timur Tempat Reproduksi Radikalisme, media sosial, radikalisme, terorisme, Upaya Pencegahan Radikalisme
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.







