Jawa Timur Tempat Reproduksi Radikalisme, Usia Produktif Kelompok Paling Rentan

Yovie Wicaksono - 19 August 2022

SR, Surabaya – Perkembangan radikalisme di Indonesia, terus meningkat. Direktur  Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Ahmad Nurwakhid menyebut ada 33 juta penduduk yang terpapar radikalisme.

Dari data tersebut, mantan Kepala Instruktur Perakitan Bom Jamaah Islamiyah, Ali Fauzi menyebut Jawa Timur menjadi salah satu wilayah yang terindikasi terpapar dan menjadi tempat atau bibit pelaku terorisme.

“Jawa Timur itu dikenal sebagai tempat reproduksi, banyak pelaku teroris dari Jawa Timur. Kemudian sampai 2022 juga penangkapan terduga teroris masih terus ada bahkan di tahun 2022 ini aja lebih dari 30 terduga teroris ditangkap,” ujarnya.

Penduduk usia produktif (15-64 tahun), khususnya pada jenjang pendidikan SMA/SMK/MA hingga perguruan tinggi (S1) menjadi kelompok paling rentan terpapar paham radikalisme bahkan terorisme.

Mereka memang menargetkan orang di usia produktif yang cenderung pendiam dan lemah secara mental. “Kan kelompok teroris itu memberikan dua, support moral dan support material,” tutur Ali Fauzi.

Saat ini, jaringan radikalisme banyak yang menargetkan perguruan tinggi untuk merekrut anggota bahkan leader dalam suatu aksi teror. “Kalau mahasiswa biasanya dimanfaatkan intelektual mereka baik untuk program digital berbasis online. Rekrutmen di apa misalkan sipil, di desa, di kota, mereka punya jobdesk itu,” ujar Ketua Yayasan Lingkar Perdamaian ini.

Sementara itu, mantan anggota Negara Islam Indonesia (NII) Al Chaidar mengatakan, generasi muda rentan terpapar lantaran mereka cenderung mencari jati diri, pengakuan, memiliki energi yang berlebih, dan mereka sudah independen atau tidak lagi di bawah kontrol keluarga.

“Itu periode krusial ya, karena mereka tidak lagi di bawah kontrol keluarga dan disitulah kelompok- kelompok teroris membangun jaringan terorisme dengan menjadi keluarga fiktif mereka,” katanya.

Begitu juga dengan anak muda yang memiliki latar belakang tidak bekerja atau memiliki banyak harta, pendidikan agama yang kurang ataupun pendidikan agama yang cukup tapi mengalami kekeringan spiritual, juga menjadi sasaran empuk bagi kelompok teroris.

“Yang mereka (kelompok teroris, red) tawarkan adalah sesuatu yang abstrak (surga, red), tidak bisa dilihat dalam kehidupan sekarang, tetapi hanya bisa dilihat setelah kematian dan proses untuk mencapai kematian itu membutuhkan pengalaman spiritual yang kuat dan mereka yang mengalami kekeringan spiritual ini yang kemudian menjadi sasaran kelompok teroris dan kebanyakan memang berhasil,” ujarnya.

Tampilkan Semua

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.