Surabaya Grunge Community: Jaga Skena Musik Era 90-an

Rudy Hartono - 14 June 2026
Ngobrolin Penyanyi Indonesia  bersama musisi dari SGC Surabaya Grunge Community di program Nusantara Bagus NGOPI! Super Radio 88.5 FM. Sabtu (13/6/2026). (Berdiri dari kiri ke kanan) Aufa, Aying (Libido Band), Dewa (Dancind Doll), Fris (Band Kausar) dan Tatoc (Avoida Band). (foto: diva/superradio.id)

SR, Surabaya – Musik Grunge yang meledak di era 90-an tetap terjaga eksistensinya di Kota Pahlawan melalui wadah Surabaya Grunge Community (SGC). Komunitas ini menjadi ruang bagi para musisi untuk terus menjaga semangat kejujuran dalam bermusik sekaligus memastikan ekosistemnya tetap hidup.

SGC terbentuk secara organik sejak tahun 1995 tanpa niat awal untuk menjadi organisasi formal. Para musisi dari berbagai band seperti Libido dan Hebola sering bertemu saat tampil di panggung-panggung kampus di Surabaya, mulai dari ITS, UNAIR, hingga Unesa.

Aying, personel Libido Band, mengenang bagaimana kesamaan selera musik menyatukan mereka saat itu. “Awalnya sih kita enggak niat bikin komunitas organisasi apa gitu ya. Jadi saat itu kan tahun 90-an itu lagi jaya-jayanya musik Grunge,” ujar Aying saat talk show di program Nusantara Bagus NGOPI! Super Radio 88.5 FM, Sabtu (13/6/2026). .

Komunitas Surabaya Grunge Community) Aufa (kiri) dan Aying saat talk show. (foto: diva/superradio.id)

Fokus pada Inklusivitas dan Regenerasi

Setelah lebih dari dua dekade, fokus utama SGC kini bergeser menjadi fasilitator bagi regenerasi musisi baru. Dewa dari band Dancing Doll menekankan bahwa komunitas ini sangat terbuka bagi siapapun yang ingin berkarya tanpa membatasi genre musik tertentu.

“Harapan kami di sini, kami hanya ingin untuk terus membuat musik Grunge di Surabaya ini ya tetap regenerasilah. Regenerasi itu tujuan utama kami,” tegas Dewa.

Keterbukaan ini menjadi daya tarik utama. Band yang ingin bergabung tidak dibebani persyaratan teknis yang rumit. Bahkan, band yang belum memiliki singel orisinal pun tetap dipersilakan untuk tampil dalam kegiatan komunitas.

Tatoc dari Avoida Band  menjelaskan betapa inklusifnya wadah yang mereka bangun ini.

“Kalau untuk persyaratannya enggak ada sih. Enggak harus punya singel atau mau rilis singel. Kalau pengin mau gabung ke Surabaya Grunge, monggo bebas,” jelas Tato.

Kiri ke kanan: Dewa, Tatoc, dan Fris saat on air talk show di studio Super Radio 88.5 FM. Sabtu (13/6/2026). (foto: diva/superradio.id)

Ruang Belajar dan Berbagi Ilmu 

Selain sebagai ajang tampil, SGC juga menjadi tempat bagi anggotanya untuk belajar dan berkembang melalui bimbingan antaranggota. Hal ini dirasakan langsung oleh Fris dari band Kuasar yang mendapatkan banyak masukan teknis dari para senior sejak bergabung di tahun 2021.

“Awalnya ya mulai dari nol. Akhirnya juga lama-kelamaan dikasih referensi terus disuruh, ‘Oh, harus kayak gini vokalnya, jangan kayak gitu terus tenggorokanmu nanti sakit.’ Dikasih coaching gitu,” ungkap Fris menceritakan pengalamannya di komunitas.

Gerakkan Ekonomi Lewat Event Rutin

SGC aktif menggerakkan skena musik lokal melalui dua program utama: Grunge Boiler Room: Acara musik rutin yang digelar setiap bulan. Satu lagi, Grunge Hole: Festival besar yang diadakan setahun sekali.

Tidak hanya fokus pada musik, setiap acara SGC juga merangkul pelaku UMKM lokal Surabaya untuk saling mendukung dan memberikan dampak ekonomi yang positif.

Bagi musisi lokal atau penikmat musik yang ingin berkolaborasi dan bergabung dengan keluarga besar SGC, informasi lengkap mengenai kegiatan mereka dapat dipantau melalui akun Instagram resmi @surabayagrunge. (dv/red)

 

Tags: , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.