Ini Catatan Kusnadi Terkait Rencana Perumusan Sastra Pesantren PWNU Jatim

Yovie Wicaksono - 18 October 2022

SR, Surabaya – Ketua DPRD Provinsi Jawa Timur Kusnadi mengapresiasi rencana perumusan sastra pesantren dalam konteks kekinian oleh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim.

Menurutnya, pesantren berperan besar dalam perubahan sosial masyarakat yang lebih terarah dan didasari ilmu keislaman Rahmatan Lil Alamin.

“Inilah peran besar pesantren yang dalam konteks itu pola pendekatan yang dilakukan salah satunya dengan sastra,” ujarnya saat menjadi pembicara di Seminar Sastra Pesantren PWNU Jatim, Senin (17/10/2022).

Sastra merupakan ruh kehidupan pesantren. Hal ini telah terjadi sejak dulu, dimana saat itu para Wali menyebarkan Islam lewat akulturasi budaya, dan sastra adalah adalah salah satunya. “Dalam kehidupan ini tidak ada satupun yang lepas dari nilai-nilai budaya,” ucapnya.

“Dengan agama hidup kita jadi terarah, dengan pendidikan hidup kita jadi mudah dengan budaya hidup kita jadi indah. Itu tidak lepas dari kerja kebudayaan dan inilah yang disebut sastra,” lanjutnya.

Untuk itu, perumusannya perlu beriringan dengan perkembangan zaman. Di era digitalisasi ini sastra yang akan jadi pedoman tersebut harus disesuaikan dengan kondisi masyarakat agar mudah dipahami.

“Karena sastra harus dipahami semua orang. Jadi apa yang mereka bawa, mereka baca itu jadi milik mereka sehingga jadi pegangan hidup,” tuturnya.

Pesantren, lanjutnya, juga perlu memperhatikan konteks penulisan agar  sastra tersebut tidak disisipi hal yang melanggar nilai-nilai kemurnian Islam dan menimbulkan perdebatan tak berkesudahan. 

“Dengan sastra berfungsi sebagai social engineer, bahayanya kalau sisipan itu yang kemudian banyak terjadi memberi makna berbeda dari tulisan asli, bahayanya disitu,” jelasnya.

Kusnadi pun berharap, rencana perumusan sastra ini dapat memberi manfaat bagi seluruh pihak dan tidak meninggalkan nilai-nilai budaya nusantara.

“Proses belajar yang dilakukan di pesantren adalah proses belajar yang cakrawala. Santri diharapkan menjadi media dalam sosial untuk bagaimana masyarakat bisa dilahirkan menjadi tatanan baru yang dilandaskan dengan aqidah islamiyah,” ungkapnya.

“Ini tantangan kita ke depan. Semoga nanti dengan bimbingan para kyai, ulama tantangan ini bisa kita hadapi dengan baik dan kita kembali ke ruh dari lahirnya sastra pesantren sebagaimana yang menjadi cita-cita kita semua,” pungkasnya. (hk/red)

Tags: , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.