Cara Mbah Gimbal agar Korban Longsor Ditemukan

Yovie Wicaksono - 17 February 2021
Mbah Gimbal saat duduk bersila di atas sisa puing reruntuhan bangunan rumah warga. Foto : (Super Radio/Rahman Halim)

SR, Kediri – Disaat tim gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI, Polri beserta sejumlah relawan sedang fokus melakukan pencarian korban longsor di Dusun Selopuro, Desa Ngetos, Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Selasa (16/2/2020), seorang laki laki berusia 60 tahun dengan dandanan rambut gimbal, memakai topi capir  terlihat sedang duduk bersila di atas sisa puing reruntuhan bangunan rumah warga sambil berdoa. Di depannya terlihat sebuah sedekah berupa dupa, buah kelapa serta rokok.

Lelaki tua ini menamakan dirinya mbah Gimbal. Dia adalah ketua relawan arek-arek Jawa Timur. Selain membawa misi ritual berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar korban  bencana longsor segera ditemukan dan tidak diturunkan hujan, tujuan lainnya ia datang ke lokasi bencana untuk memberikan bantuan logistik.

“Saya kan ketua relawan dimana ada bencana alam, bukan disini aja saya pasti hadir. Sebagai ketua tim relawan arek-arek Jawa Timur, saya punya tugas di pundak saya ini adalah dimana bencana alam saya pasti datang dengan membawa pasukan sembako, nasi bungkus dan lain-lain,” ujarnya.

“Ritual tadi supaya tidak hujan, segera ditemukan jenazah yang tertimbun longsor,” imbuh mbah Gimbal.

Selesai ritual doa, entah karena kebetulan atau tidak,  dua jenazah korban longsor akhirnya berhasil ditemukan oleh tim Basarnas.

“Kebetulan waktunya ketemu, bukan karena doanya mbah Gimbal lah. Karena kerjasama dari tim SAR yang luar biasa. bukan dari ritualnya mbah Gimbal. Percaya yang menemukan Allah,” ujar lelaki yang mengklaim dirinya sebagai pelaku budaya ini.

Ia pun mencoba menjelaskan arti makna sesajen atau sedekah yang ia gunakan untuk ritual doa. “Sesajen tadi itu adalah simbolis, ojok kali dengan uri-uri budaya yaitu sedekah bumi. Gara-gara teknologi semakin canggih lupa dengan budaya ini yang harus diingat kembali. Tiga rokok itu simbolis bahwa angka 3 itu kekuatan mistik alam. 7 dupa itu lambang minta pitulungan atau minta tolong. Sementara bunga itu wewangian untuk membuat senang mbau rekso. Termasuk kopi pahit dan degan ijo, itu adalah tradisi leluhur yang perlu kita uri-uri,” ungkapnya.

Ia menilai, kegiatan spiritual yang ia lakukan ini hanya sebatas tradisi budaya leluhur. Disinggung mengenai masih ada beberapa korban lagi yang masih  belum ditemukan, mbah Gimbal berharap segera ditemukan .

“Segera ketemu makanya, supaya jangan hujan. Kalau hujan  kan ngerepotin petugas,” kata Paijo nama asli dari mbah Gimbal.

Lebih lanjut, ia sedikit bercerita tentang dirinya jika selama 35 tahun, ia sengaja membikin rambutnya terlihat gimbal dan tidak pernah memakai sandal saat bepergian kemanapun. (rh/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.