Imlek, Penghuni Gedung Setan Jaga Tradisi Leluhur
SR, Surabaya – Imbas pandemi Covid-19, perayaan Tahun Baru Imlek, di Gedung Setan, kawasan Banyu Urip Surabaya tak seramai tahun-tahun sebelumnya. Hanya ada beberapa anak berbaju merah yang berkunjung ke rumah tetangga dan mendapatkan angpao dari pemilik rumah.
Tak seperti kawasan Pecinan lainnya, tak ada lampion maupun ornamen khas Imlek yang menghiasi gedung yang dihuni generasi ketiga dan keempat pengungsi Tionghoa tahun 1948 ini.
Perayaan Imlek bagi sekira 58 KK penghuni Gedung Setan merupakan tradisi leluhur. Salah satu keluarga setempat yang masih menjaga tradisi adalah Ang Tik Haij. Ia mengadakan sembahyang leluhur sebagai bentuk penghormatan kepada orang tua dan anggota keluarga yang sudah meninggal dunia.
“Ini untuk menghormati papa (Ang Djoen Hien), mama (Kho Ho Ma Niio),ย kakak saya nomor 3 (Ang Sien Eng) dan kakak nomor 8 (Wiwin Wulandari) yang telah meninggal dunia,” ujar anak bungsu dari 10 bersaudara ini.
Ang Tik Haij mempersembahkan tiga jenis buah yang masing-masing jenis terdiri dari lima buah, seperti jumlah keturunan. Kemudian kue dan makanan kesukaan almarhum beserta nasi dan tiga macam minuman, yakni air putih, teh dan kopi.
“Kami memanggil almarhum, bahwa hari ini imlek untuk pulang makan dan ini di suguhkan sampai lilinnya habis, kemudian bertanya kepada almarhum apa seluruh proses persembahyangan sudah boleh berakhir,” ujar Sugianto, suami kakak pertama Ang Tik Haij.
Sugianto tak memungkiri bahwa tahun ini ia merasa sedih karena tidak bisa berkumpul bersama keluarga besar saat Imlek. Oleh karenanya, ia berharap, di Tahun Kerbau Logam ini pandemi segera berakhir dan semua kembali pulih.
“Dan tentunya tahun ini pengharapan kami supaya corona pergi dan kita doakan semoga tahun depan bisa berkumpul kembali,” harapnya. (fos/red)
Tags: imlek, Imlek di tengah pandemi, Penghuni Gedung Setan, sembahyang leluhur, Tradisi Leluhur
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





