Hari Bumi, Aktivis Gelar Aksi Tolak Penggunaan Plastik Sekali Pakai

Yovie Wicaksono - 22 April 2022
Aksi teatrikal menolak sampah plastik terutama sachet di depan Gedung Negara Grahadi, Jumat (22/4/2022). Foto : (Super Radio/Hamidiah Kurnia)

SR, Surabaya – Sejumlah aktivis lingkungan menggelar aksi teatrikal menolak sampah plastik terutama sachet di depan Gedung Negara Grahadi, Jumat (22/4/2022).

Dalam aksi tersebut, dihadirkan sejumlah manekin yang ditempel dengan sachet hasil temuan para aktivis hingga poster bertuliskan bahaya sampah plastik.

“Sachet ini yang akan menjadi mikroplastik dan bisa masuk ke tubuh manusia lalu mengganggu hormon di dalam tubuh,” ucap Korlap Aksi Peringatan Hari Bumi, Muhammad Kholid Basyaiban.

Kholid mengatakan, aksi ini berawal dari kekhawatiran terhadap banyaknya pencemaran sampah mikroplastik di Kali Surabaya.

Berdasarkan data di tahun 2021, teridentifikasi sekira 2 ribu lebih timbunan sampah di Kali Surabaya dan Porong yang 59 persennya merupakan sampah sachet.

“Dari audit di mangrove kita berhasil mendata 10 polutan produsen penyumbang pencemaran di muara kali Surabaya. Peringkat pertama dari Wings Food, lalu Indofood, Unilever, dan Santos Jaya,” ujarnya yang merupakan koordinator legal dan advokasi Ecoton.

Keberadaan plastik juga tergolong sampah residu dan sulit terurai. Sehingga cenderung memiliki senyawa kimia berbahaya yang menjadi mikroplastik, dan masuk mencemari air hingga biota air yang dikonsumsi manusia.

“Kehadiran mikroplastik di dalam tubuh manusia disinyalir melalui 3 jalur utama yakni dari sistem pencernaan, sistem pernapasan dan paparan,” ujarnya.

Dengan mengusung tema Selamatkan Manusia dari Sachet, pihaknya mengkampanyekan tiga pesan kepada Pemerintah, perusahaan, dan masyarakat.

Pertama, pemerintah daerah maupun pusat wajib membuat kebijakan/regulasi tentang pelarangan plastik sekali pakai, sebagai langkah memutus kran masuknya sampah plastik ke lingkungan, terutama ke sungai.

Kemudian, perusahaan penghasil limbah plastik harus bertanggung jawab untuk memulihkan lingkungan sesuai pasal 15 Undang-Undang Nomor 18 tahun 2008 tentang pengolahan sampah. 

“Diharapkan masyarakat yang lewat melihat aksi kita dapat melakukan hidup sehat. Mengurangi penggunaan kresek, sedotan plastik, jadi bisa diganti dengan tumbler atau alat makan sendiri,” pungkasnya.

Sekadar informasi, aksi tersebut melibatkan sejumlah komunitas yakni, Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (ECOTON), BEM Universitas Airlangga, komunitas Co Ensist Fakultas Pertanian UTM Madura, River Warrior dan Mahasiswa Ilkom UNTAG. (hk/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.