IWD 2026 Surabaya: Perempuan Bersatu Tuntut Perlindungan Kelompok Minoritas
SR, Surabaya – Ratusan massa aksi memperingati Hari Perempuan Internasional atau International Women’s Day (IWD) 2026 memadati area depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Senin (9/3/2026).
Massa mulai berkumpul dan membuka mimbar orasi tepat pada pukul 13.00 WIB untuk menyuarakan perlawanan terhadap stigmatisasi dan perampasan ruang hidup yang dialami perempuan serta kelompok rentan. Aksi ini menegaskan bahwa perjuangan perempuan bukan sekadar perayaan, melainkan upaya mengubah cara pandang dunia yang masih diskriminatif.
Dalam orasinya, salah satu aktivis mengkritik tajam stigma sosial yang sering membatasi mimpi perempuan, terutama dalam menempuh pendidikan tinggi. Ia menegaskan bahwa perempuan adalah rahim peradaban yang melahirkan nilai-nilai kehidupan dan generasi masa depan. “Apabila baik perempuan maka baiklah negara tersebut, dan apabila rusak perempuan maka rusaklah negara itu,” tegasnya
Solidaritas tanpa syarat juga disuarakan bagi kelompok minoritas dan kawan-kawan kuir yang hingga kini masih menghadapi ancaman kriminalisasi serta persekusi. Massa mendesak agar negara segera menghentikan segala bentuk narasi kebencian dan memberikan perlindungan hukum yang setara bagi semua warga negara tanpa diskriminasi. “Kita adalah barisan pelindung bagi teman-teman yang hari ini masih diburu dan dieksekusi,” seru orator di tengah kerumunan massa aksi.

RM, seorang pekerja buruh perempuan yang turut turun ke jalan, memberikan kesaksian mengenai minimnya apresiasi terhadap peran perempuan di sektor kerja. Ia menyatakan bahwa motivasi utamanya bergabung dalam aksi ini adalah agar suara pekerja perempuan tidak lagi dianggap sebelah mata oleh pemberi kerja maupun negara.
“Saya ikut aksi ini karena ingin perempuan didengar, bukan hanya dipandang sebelah mata. Pengalaman saya sebagai pekerja perempuan sering dianggap kurang penting,” ungkap RM.
Selain isu sosial, massa membawa tuntutan spesifik terkait kesejahteraan pekerja, termasuk desakan pengesahan RUU Pelindungan Pekerja Rumah Tangga (PPRT) dan kesetaraan upah bagi pekerja perempuan berusia di atas 40 tahun. Mereka juga menuntut pemerintah melakukan evaluasi total terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) agar benar-benar layak dan sehat bagi ibu hamil serta anak-anak. Tuntutan ini muncul sebagai respons atas kebijakan yang dianggap belum sepenuhnya berpihak pada kebutuhan dasar kelompok rentan.

Isu lingkungan pun menjadi sorotan utama, di mana massa mendorong penerapan kebijakan yang memiliki perspektif ekofeminisme. Mereka menuntut pengetatan aturan terhadap industri ekspansif yang memicu kerusakan ekologi serta mendesak adanya perlindungan anti-SLAPP bagi para pejuang lingkungan yang sering dikriminalisasi. Kebijakan tata kelola sampah berbasis zero waste turut disuarakan sebagai bagian dari upaya mewujudkan keadilan iklim yang transparan dan demokratis.
Massa juga melayangkan kritik keras terhadap praktik militerisme dan kolonialisme yang masih berdampak pada perempuan di berbagai wilayah, termasuk Papua. Mereka mendesak pencabutan pasal militerisasi dalam UU TNI serta penghapusan komando teritorial demi menjamin kedaulatan sipil dan hak menentukan nasib sendiri. “Hapuskan kolonialisme, kapitalisme, dan militerisme terhadap perempuan Papua,” teriak massa saat membacakan poin tuntutan ke-23.
Aksi IWD Surabaya 2026 ditutup dengan komitmen bersama untuk terus menjaga solidaritas melalui semboyan “Ayo Rek! Saling Jogo, Saling Nguatno“. Massa berjanji tidak akan berhenti bergerak selama masih ada diskriminasi dan selama suara rakyat masih dibungkam oleh kekuasaan. Dengan seruan “Hidup perempuan yang melawan!”, peserta aksi membubarkan diri secara tertib setelah seluruh tuntutan disampaikan ke publik.(js/red)
Tags: aksi, grahadi, hari perempuan, iwd, superradio.id, surabaya
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





