Peringati Tragedi Bom 13 Mei, Menggugah Rasa dan Solidaritas Puluhan Komunitas

Rudy Hartono - 14 May 2026
Rohaniawan GKI yang juga anggota Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Surabaya, Pendeta Andri Purnawan menyampaikan  orasi dan refleksi peringatan tregedi bom 13 Mei di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Diponegoro Surabaya, Rabu (13/5/2026) malam. (foto: giy/superrdio.id)

Surabaya, SR — Peringatan delapan tahun tragedi bom Surabaya digelar di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Diponegoro Surabaya, Rabu (13/5/2026) malam, melalui kegiatan bertajuk Solidaritas Surabaya Inklusif. Acara ini menjadi ruang refleksi bersama lintas komunitas untuk merawat persaudaraan, pengampunan, serta semangat keberagaman di Kota Pahlawan.

Kegiatan yang dimulai pukul 18.00 WIB tersebut dihadiri lebih dari 25 komunitas dengan estimasi peserta sekitar 150 hingga 200 orang. Sejumlah komunitas lintas agama, mahasiswa, media, komunitas buku, hingga kelompok pergerakan turut hadir dalam peringatan tragedi bom 13 Mei 2018 yang mengguncang gereja Santa Maria Tak Bercela (SMTB) di kawasan Ngagel, GKI di Jalan Diponegoro, dan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) di Jalan Arjuno.

Perwakilan panitia sekaligus anggota Pemuda Katolik Kota Surabaya, Immanuel Erlangga, mengatakan acara berjalan lancar dengan antusiasme peserta yang cukup tinggi.

“Jadi acara hari ini kalau menurut saya berjalan dengan lancar yang pasti. Memang ada satu dua kekurangan, tapi saya lihat antusias dari peserta-pengunjung itu cukup tinggi,” ujarnya.

Ia menegaskan, tema Solidaritas Surabaya Inklusif diangkat bukan untuk membuka luka lama, melainkan untuk merawat persaudaraan yang telah terbangun setelah tragedi bom Surabaya.

Lebih dari 25 komunitas hadiri peringatan tregedi bom 13 Mei di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Diponegoro Surabaya, Rabu (13/5/2026) malam. (foto: giy/superrdio.id)

“Peringatan ini tidak untuk membuka luka lama, tapi kita merawat persaudaraan yang sudah terjalin yang sudah terbangun bahwa dari awal dari adanya bom ini tidak menjadikan kita terus-menerus terpuruk. Kita membangun suatu barisan yang solid saling menguatkan satu sama lain,” tuturnya berharap.

Menurut Immanuel Erlangga, pelibatan komunitas tahun ini dibuat lebih luas agar semangat inklusivitas dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas, tidak hanya terbatas pada komunitas lintas agama.

“Nah bedanya di tahun ini komunitas tidak hanya lintas agama. Ada juga komunitas buku, ada komunitas media, komunitas mahasiswa, komunitas pergerakan juga dan lain-lain. Jadi skupnya lebih luas,” bebernya.

Ia menambahkan, banyak anak muda yang mulai tidak mengenal detail tragedi bom Surabaya karena peristiwa tersebut telah berlalu delapan tahun. Karena itu, kegiatan ini diharapkan dapat menggugah kepedulian generasi muda terhadap pentingnya solidaritas sosial.

“Maka niat kami ini adalah untuk menggugah rasa. Setelah itu kita refleksikan apa selanjutnya yang mau kita lakukan bersama. Apa yang bisa dilakukan masing-masing orang yang hadir di sini untuk menjaga kota Surabaya ini menjadi lebih inklusif,” pungkas Erlangga.

Sementara itu, Angel, salah satu peserta kegiatan dari komunitas Orang Muda Katolik (OMK) Santo Mikael Surabaya, mengaku kegiatan tersebut membuat dirinya lebih memahami tragedi bom Surabaya yang terjadi saat dirinya masih kecil.

“Saya pernah dengar berita-berita tentang peristiwa itu, cuman waktu saya kecil, jadi belum tahu detailnya. Tapi sekarang saya merasa kayak ada tersambung dengan peristiwa yang dulu begitu ya,” ungkapnya.

Angel berharap tragedi serupa tidak kembali terjadi di Surabaya.

“Ke depan tidak boleh ini terjadi lagi di kota Surabaya. Terutama bagi teman-teman anak-anak muda gitu ya cukup itu terjadi 8 tahun yang lalu saja. Ke depannya kita harus lebih bersolidaritas, harus lebih bersatu,” kata dia.

Lapak venue baca buku humaniora  karya menjadi jujugan   berbagai komunitas di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Diponegoro Surabaya, Rabu (13/5/2026) malam. (foto: giy/superrdio.id)

Dalam kegiatan tersebut juga disampaikan orasi refleksi oleh anggota Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Surabaya sekaligus rohaniwan GKI, Pendeta Andri Purnawan. Ia menyoroti ancaman sosial yang menurutnya kini berpotensi menjadi “bom” baru di masyarakat, yakni kemiskinan dan kesulitan ekonomi.

“Sekarang ini, radikalisme, terorisme, itu tidak lagi menjadi concern. Tapi ada satu bom yang sangat potensial meledak di Indonesia dan bahkan di semesta dalam waktu dekat yaitu bom kemiskinan,” tandasnya.

Menurut Andri, kondisi ekonomi yang sulit dapat memicu gejolak sosial apabila masyarakat kehilangan solidaritas.

“Dan satu-satunya jalan bagi kita untuk meredam bom kesusahan hidup itu adalah solidaritas. Dan cinta itu selalu hubungannya dengan solidaritas,” tegas pria yang juga Wakil Ketua I Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Wilayah Jawa Timur ini.

Ia juga menilai, penghormatan terhadap perbedaan agama sudah menjadi hal mendasar yang seharusnya dimiliki masyarakat saat ini.

“Saling menghormati di dalam perbedaan, merayakan perbedaan, iku yo wis ketinggalan zaman. Karena kalau tidak begitu, itu namanya kita primitif,” ujar Pendeta Andri.

Selain doa dan refleksi bersama, kegiatan juga diisi pembacaan puisi, aksi teatrikal dan mengheningkan cipta untuk para korban tragedi bom bunuh diri di Surabaya 2018. (giy/red)

 

Tags: , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.