UKT PTN Naik Bikin Mahasiswa Bergolak, Begini Penjelasan Universitas Brawijaya

Rudy Hartono - 16 May 2024
Wakil Rektor Bidang Keuangan dan Sumber Daya UB, Prof. Dr. Ali Syafaat, SH., MH. (kanan) saat memberikan penjelasan tentang UKT di PTN yang naik . (foto: rri)

SR, Malang – Uang Kuliah Tunggal (UKT) bagi mahasiswa perguruan tinggi negeri mengalami kenaikan. Hal ini menimbulkan gejolak di kalangan mahasiswa yang merasa UKT terlampau mahal. Bahkan di media sosial hastag #TurunkanUKTUB sempat trending.

Wakil Rektor Bidang Keuangan dan Sumber Daya Universitas Brawijaya (UB) Malang, Prof Dr Ali Syafaat SH MH mengakui bahwa perubahan UKT di PTN ini dikarenakan adanya perubahan Permendikbudristek yang baru disahkan pada Februari 2024 tentang standar satuan biaya operasional PTN.

“Dari Permendikbudristek tersebut diikuti dengan keputusan menteri tentang biaya kuliah tunggal. Di dalam permendikbudristek tersebut salah satunya berisi tentang penentuan komponen apa saja Standar Satuan Biaya Operasional Perguruan Tinggi (SSBOPT). Itu biaya yang harus ditanggung seorang mahasiswa untuk dapat menikmati pendidikan di PTN,” kata Prof Ali, Kamis (16/5/2024).

Berdasarkan SSBOPT itu, digunakan menentukan biaya kuliah tunggal untuk satu orang mahasiswa per semester, serta menjadi dasar Dikti untuk menentukan anggaran dari pusat berupa rupiah murni untuk gaji PNS, dan bantuan operasional untuk perguruan tinggi.

Menurut ketentuan, dalam UKT itu harus ada golongan 1 dan 2 yang nilainya Rp 500 ribu dan Rp 1 juta per semester. Selanjutnya, perguruan tinggi dapat menentukan biaya UKT lain maksimal sama dengan BKT.

“Sehingga mahasiswa yang membayar UKT dengan nilai maksimal BKT, artinya dia bisa membiayai dirinya sendiri. Sementara lainnya bisa dibuat berdasarkan kategori sesuai kondisi masing-masing,” ujarnya.

“Kita diminta menentukan biaya kuliah tunggal per prodi yang berdasarkan pencapaian standar mutu berdasarkan akreditasi, lokasi wilayah kampus, jenis prodi. Ini biayanya berbeda-beda karena setiap prodi memiliki kebutuhan yang berbeda,” sambungnya.

Dari hasil penentuan dari kampus ini, kemudian dikoreksi oleh Dikti dan keluarlah rekomendasi biaya kuliah tunggal. Ali mengakui memang ada beberapa prodi di UB yang UKT nya mengalami kenaikan.

“Ada beberapa yang naik signifikan misalnya Fakultas Teknologi Pertanian, Fakultas Hukum dan Fakultas Vokasi yang membutuhkan sarana pembelajaran lebih memadai. Namun ada juga yang turun misalnya di ilmu sosial,” tutur mantan Dekan Fakultas Hukum ini.

Berdasarkan pada BKT tersebut, maka UB menyusun kebijakan untuk menentukan golongan UKT dadi sebelumnya ada 8 golongan, naik menjadi 12 golongan.

“Dengan semakin banyaknya golongan ini, harapannya kita bisa lebih presisi menentukan kondisi ekonomi orang tua mahasiswa. Selain itu jarak antara satu golongan dengan lainnya bisa lebih seimbang,” tandasnya. (*/rri/red)

Tags: , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.