Guru Besar FKH Unair : Potensi Rabies juga Berlaku pada Manusia

Yovie Wicaksono - 1 October 2019
Ilustrasi. Foto : (okezone.com)

SR, Surabaya – Guru besar Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (Unair) Prof. Dr. Suwarno menjelaskan, potensi terjangkit rabies atau anjing gila juga berlaku pada manusia.

Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan, setiap tahun rabies menyebabkan sekitar 59.000 kematian.

Jika dikalkulasi, terdapat seratus orang lebih yang meninggal karena rabies tiap harinya. Sebanyak sembilan puluh sembilan persen kasus rabies terjadi karena gigitan anjing yang terinfeksi virus. Sementara satu persen terjadi pada kucing, kera, dan musang.

Ironisnya, 40 persen korban tergigit anjing rabies dan meninggal adalah usia anak-anak. Postur tubuh anak-anak yang kecil membuat mereka rawan mendapat gigitan di area kepala. Selain itu, menurut Prof. Suwarno, banyaknya korban anak-anak juga disebabkan mitos yang berkembang di masyarakat terkait tindakan yang dilakukan saat seseorang dikejar anjing.

“Nasihat orang tua dulu kalau dikejar anjing itu harus duduk jongkok (agar anjing berhenti mengejar, Red). Itu yang salah,” ujar Prof. Suwarno, Selasa (1/10/2019).

Sebab, lanjutnya, anjuran tersebut justru dapat menyebabkan anjing menyerang dan menggigit di sekitar area kepala. Gigitan di area kepala akan mempercepat perjalanan virus rabies menyerang syaraf otak dan kelenjar ludah.

Penyebaran virus rabies dari hewan ke manusia hanya dapat terjadi melalui gigitan atau liur hewan yang mengenai luka terbuka. Semakin dalam gigitan, maka semakin berbahaya resiko yang ditimbulkan. Virus rabies memiliki masa inkubasi 5 hingga 14 hari. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa masa inkubasi virus rabies bisa jauh lebih lama, yakni dua hingga tiga tahun.

“Masa perjalanan virus rabies adalah delapan milimeter perhari. Biasanya seseorang yang digigit oleh hewan terjangkit rabies bisa meninggal dalam waktu lima hari. Karena virus ini menyerang otak, jika seseorang digigit di lengan atau kaki maka membutuhkan masa inkubasi yang cukup lama untuk sampai ke otak,” paparnya.

Gejala seseorang yang terinfeksi virus rabies di antaranya demam, mual, mulut berbusa, hidrophobia atau takut air, rasa nyeri hebat saat menelan, kejang hingga kelumpuhan menjelang kematian.

“Apabila seseorang tergigit hewan pembawa rabies, luka gigitan harus segera dibersihkan dengan air mengalir kemudian diberi desinfektan. Selanjutnya, korban harus segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapat penangan lanjutan. Dokter akan memberikan serum dan vaksin anti rabies,” jelas dosen FKH Unair tersebut.

Kendati demikian, Prof. Suwarno menyebutkan, rabies seratus persen dapat dicegah melalui vaksinasi. Dengan menyuntikkan virus yang telah dimatikan atau inaktif ke dalam tubuh hewan dan manusia, maka tubuh akan membentuk sistem kekebalan untuk menangkal virus rabies.

Vaksin anti rabies dapat diberikan pada siapapun. Namun orang yang dianjurkan untuk melakukan vaksin anti rabies adalah orang yang berisiko tinggi terinfeksi virus tersebut. Kelompok orang tersebut adalah pemilik hewan, dokter hewan, peternak hewan, pekerja laboratorium atau peneliti yang berhubungan dengan hewan, dan profesi lain yang melakukan kontak langsung dengan hewan.

Kabar baiknya, Jawa Timur merupakan provinsi yang masuk ke delapan daerah bebas rabies bersama dengan  Papua, Nusa Teggara Barat, Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Yogyakarta, Jawa Tengah, dan DKI Jakarta. Masih sedikitnya daerah bebas rabies di Indonesia menunjukkan bahwa endemisitas rabies masih tinggi. Sehingga masyarakat diimbau tetap waspada dan berhati-hati ketika membawa hewan peliharaan mengunjungi daerah lain.

Pemilik hewan peliharaan utamanya anjing dan kucing dianjurkan untuk memberikan vaksin secara berkala pada hewan peliharaan. Pemeriksaan kondisi kesehatan dan kekebalan imun hewan sebelum mengajaknya bepergian ke luar kota juga penting dilakukan untuk mengantisipasi penularan virus dari hewan lain saat berada di wilayah endemis rabies. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.