Diabetes Bisa Terjadi pada Anak

Yovie Wicaksono - 18 November 2019
Ilustrasi. Foto : (aspiretrainingteam.co.uk)

SR, Jakarta – Divisi Endokrinologi Anak FKUI-RSCM, Jose Rizal Latief Batubara mengatakan jika selama ini banyak yang mengira diabetes hanya terjadi pada kelompok usia dewasa, nyatanya siapapun bisa mengalami kadar gula tinggi, bahkan anak-anak.

“Selama ini kita berpikir kalau diabetes terjadi pada orang tua, ibu-ibu, bapak-bapak, tapi ternyata pada anak banyak sekali. Yang terdaftar secara resmi kepada kami sekitar 2000 an kasus,” kata Jose, Senin (18/11/2019).

Menurut Jose, kejadian diabetes mellitus pada anak jumlahnya terus meningkat, tidak hanya di dunia namun juga di Indonesia. Di dunia, hampir 70 ribu kasus setiap harinya, sedangkan di Indonesia hampir setiap hari dan setiap bulan ada kasus baru.

Dijelaskan, ada 2 jenis diabetes pada anak yaitu diabetes tipe-1 dan tipe-2. Diabetes mellitus tipe-1 terjadi karena kerusakan sel beta pankreas sehingga tidak bisa memproduksi insulin. Dikatakan, insulin penting untuk merubah gula menjadi energi. Karena insulin tidak bisa diproduksi, gula darah tidak bisa diubah sehingga gula darah tetap tinggi.

“Penyakit ini merupakan penyakit bawaan yang tidak bisa dicegah, namun bisa dikendalikan,” kata Jose.

Untuk diabetes mellitus tipe-2 paling serius ditemukan pada orang dewasa serta pada orang yang memiliki berat badan berlebih (obesitas). Pada tipe ini insulinnya ada, namun kerja pankreas tidak normal.

Jose mengatakan, anak penderita diabetes memiliki gejala klinis seperti berat badan turun drastis, gatal-gatal, sering buang air kecil bahkan sampai mengompol, sering merasa haus hingga ingin minum terus, kesemutan, dan lain-lain. Ia pun menyarankan agar segera memeriksakan diri ke dokter agar segera mendapatkan penanganan.

Pasalnya, karena sering dianggap tidak ada diabetes pada anak, orang tua sering tidak sadar. Padahal, penanganan diabetes harus dilakukan sesegera mungkin supaya bisa ditangani dengan cepat.

“Kalau punya keluarga yang punya gejala diabetes seperti gampang haus, lapar, lemas, tidak ada tenaga harus dicek. Kalau tidak ditangani dengan benar dan cepat, di ICU bisa meninggal dia,” kata Jose.

Karenanya, bagi penderita diabetes harus dilakukan upaya-upaya pengendalian supaya tidak terjadi komplikasi yang lebih parah. Jose menyebutkan, ada beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk anak penderita diabetes, diantaranya melakukan suntik insulin seumur hidup untuk mengontrol kadar gula darah, menjaga nutrisi seimbang, melakukan upaya preventif dengan memberikan edukasi, serta harus rutin olahraga. Upaya-upaya tersebut bertujuan untuk mengontrol metabolic.

“Untuk kebutuhan kalori lakukan dengan diet seimbang, 50-55 persen karbohidrat, protein 15-20, lalu 30 persen lemak, harus sesuai dengan kebutuhan tubuh jangan dikurangi, karbohidrat harus dihitung untuk pemberian insulin,” ujarnya.

Ia menambahkan, pada anak diabetes sangat dianjurkan untuk berolahraga karena dengan olahraga maka sensitivitas pada insulin juga semakin meningkat, jadi harus bergerak.

Hal serupa disampaikan Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes, Cut Putri Arianie. Dikatakan bahwa perubahan tren penyakit menyebabkan Penyakit Tidak Menular yang salah satunya diabetes kini terjadi di usia produktif.

“Tren penyakit tidak menular meningkat di usia 10 sampai 14 tahun, kalau dulu penyakit orang tua, sekarang bukan lagi. Yang terkena sekarang bukan hanya orang tua, tapi usia produktif,” katanya. (ns/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.