Dikit-Dikit Healing, Benarkah Generasi Z Rapuh dan Manja?

Yovie Wicaksono - 25 March 2022

SR, Surabaya – Fenomena healing yang tengah ramai di kalangan generasi z belakangan ini sering dianggap sebagai sesuatu yang berlebihan oleh beberapa kalangan.

Lantas, benarkah fenomena ini menjadi bukti bahwa generasi z adalah generasi yang rapuh dan manja?

Menanggapi hal ini, Dosen Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, Michael Seno Rahardanto mengatakan, generasi z memang memiliki karakteristik yang berbeda dari generasi sebelumnya. 

Orang yang lahir di tahun 1996 keatas tersebut, sejak lahir terbiasa dengan teknologi dan media sosial yang berjalan optimal.  

Pengaruh lingkungan inilah yang membuat generasi sekarang menjadi lebih inovatif, tanggap dan kritis. Namun, disaat bersamaan juga membuat kemampuan bertahan atau persistennya lebih rendah dari generasi sebelumnya.

“Gen z itu punya ciri-ciri, mereka self driver punya kemauan yang keras, pragmatis, harga dirinya tinggi, dan yakin bahwa nilai-nilai yang dia percayai itu benar,” ujarnya.

Keinginan meraih segala sesuatu dengan instan, dan cepat, menjadikan sebagian besar dari mereka, menunjukan karakteristik yang mungkin dianggap menyebalkan oleh generasi sebelumnya.

Misalnya ketika bekerja ingin segera naik gaji, saat merasa perasaannya tersakiti ingin segera menyelesaikan dengan curhat, hingga healing, sehingga sering dianggap manja oleh orang yang lebih tua.

“Kalau orang zaman dulu mungkin akan bilang kalau perasaannya gak enak ya ditahan aja, sabar aja, ikhlas aja. Tapi gen z tidak,” ungkapnya.

Padahal, hal ini karena seiring berkembangnya teknologi, gen z menjadi lebih paham tentang pengelolaan masalah, sehingga healing menjadi salah satu solusi yang dilakukan.

Danto menyebut, keputusan untuk rehat sejenak atau healing bukanlah hal yang keliru asalkan dilakukan dengan bijak dan berusaha menyerang sumber masalahnya.

Jangka waktunya juga beragam tergantung pada seberapa besar intensitas tekanan dan trauma yang dialami. Misalnya pada korban pelecehan seksual.

“Tergantung masalahnya, kalau masalah itu sebenarnya bisa diselesaikan, hanya melakukan healing tidak efektif karena tidak akan menyelesaikan sumber masalah,” jelasnya.

Secara psikologi, ada dua strategi yang bisa dilakukan untuk menyikapi masalah, yakni problem focused coping dan emotion focused coping.

Problem focused coping adalah upaya untuk keluar dari masalah dengan menyerang sumber masalahnya. Sedangkan emotion focused coping lebih berfokus pada mengelola emosi agar lebih ikhlas menerima masalah.

“Emotion focused coping itu bisa dipakai kalau masalahnya gak bisa diselesaikan. Misalnya bencana alam, keluarga meninggal,” jelasnya. (hk/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.