BRIN Sarankan UMKM Terapkan Strategi 5-3-2 dalam Digital Marketing

Rudy Hartono - 26 April 2026
Ahli Muda Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Raden Dwiarto menjadi pembicara dalam Bimbingan Teknis tentang Digital Marketing untuk UMKM Sidoarjo di Hotel Luminor, Sidoarjo, Sabtu (25/4/2026). (foto: anton/superradio.id)

SR, Sidoarjo – Ahli Muda Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Raden Dwiarto mengenalkan strategi pemasaran produk dengan memanfaatkan telepon selular kepada pelaku UMKM Sidoarjo dalam kegiatan bimbingan teknis (Bimtek) tentang Digital Marketing di Hotel Luminor, Sabtu (25/4/2026). Bimtek itu diprakarsai BRIN bersama Anggota Komisi X DPR RI Puti Guntur Soekarno.

Menurutnya, potensi pasar digital di Indonesia sangat besar, dengan lebih dari 210 juta pengguna internet dan 167 juta pengguna aktif media sosial. Barang dan jasa bisa ditransaksikan melalui berbagai platform digital seperti Instagram, Facebook, WhatsApp Business, Tiktok, hingga marketplace seperti Shopee dan Toko Pedia.

“Dengan hanya bermodal ponsel dan internet, UMKM sudah bisa memulai usaha digital dengan jangkauan yang jauh lebih luas dibandingkan penjualan konvensional,” kata Dwiarto menyebut salah satu keunggulan marketing digital dibandingkan pemasaran konvensional.

Keunggulan lainnya, UMKM tidak perlu menyewa ruko mahal, efisiensi biaya iklan, kosumen bisa mengakses serta bertransaksi produk sepanjang waktu 24 jam selama 7 hari, bahkan UMKM  bisa membangun kepercayaan dan identitas merek (brand awarness) secara profesional.

Ahli Muda BRIN Raden Dwiarto (tengah) bersama para UMKM dalam giat Bimbingan Teknis Digital Marketing kepada UMKM Sidoarjo, di Hotel Luminor Sidoarjo, Sabtu (25/4/2026). Bimtek ini diprakarsai BRIN bersama anggota Komisi X DPR RI Puti Guntur Soekarno. (foto: istimewa)

Dalam momen itu, Dwiarto juga mengenalkan salah satu pendekatan efektif dalam mempengaruhi keputusan konsumen  berbelanja, yakni pembuatan konten produk yang diunggah ke media sosial menggunakan pola 5-3-2.  “Dalam dunia pemasaran digital dan pengelolaan media sosial, rumus 5-3-2 adalah aturan emas untuk menjaga keseimbangan konten agar akun tidak terlihat seperti “mesin jualan” yang membosankan,” ungkap Dwiarto.

Dijelaskannya rumus 5-3-2 memuat 5 Konten Kurasi (Edukasi & Nilai) tujuannya membangun otoritas dan kepercayaan.  Kemudian 3 Konten Orisinal mengunggah detil produk, brand, hingga promosi jualan. Terakhir  2 Personal mengunggah profil atau ulasan konsumen/pelanggan.

Selain itu Dwiarto juga menekankan pentingnya konsistensi dalam mengunggah produk ke media sosial maupun market place. Ia menyarankan UMKM fokus pada satu atau dua market place saat menjual produk atau jasa.

Acara Bimtek Digital Marketing ini diikuti seratus pegiat UMKM Sidoarjo dari berbagi jenis usaha. Mereka antusias mengikuti bimtek hingga selesai. Mayoritas UMKM yang hadir adalah pengusaha dari kalangan emak-emak. Ada peserta yang mengaku sulit memulai penjualan digital karena gagap teknologi. Ia mengusulkan adanya Bimtek untuk praktek langsung membuat konten atau mengunggah ke media sosial atau market place.

Anggota Komisi X DPR RI Puti Guntur Soekarno saat memberi kata sambutan secara daring saat pembukaan Bimbingan Teknis Digital Marketing kepada UMKM Sidoarjo, di Hotel Luminor Sidoarjo, Sabtu (25/4/2026). (foto: istimewa)

Realita Pahit Ekosistem Digital UMKM

Sementara itu, Puti Guntur Soekarno saat memberi kata sambutan jarak jauh melalui daring,mengkhawatirkan masa depan UMKM di tengah derasnya arus disrupsi ekonomi di era digital. Problemnya mayoritas pelaku UMKM masih terjebak dalam pola pemasaran konvensional. Padahal, Indonesia tercatat sebagai negara dengan pengguna ponsel terbesar di dunia.

“Saat ini kita hidup di era disrupsi, di mana ruko atau rumah toko telah bergeser menjadi etalase digital.  Jangan sampai pergeseran sistem pemasaran ini membuat rakyat kecil menjadi sekadar penonton atau bahkan bekerja murah bagi mesin-mesin kapitalisme digital global,” tegas politisi PDI Perjuangan itu.

Puti memaparkan realita pahit di balik megahnya angka pertumbuhan ekonomi digital nasional. Berdasarkan data tahun 2026, ekonomi digital Indonesia tercatat sebagai yang terbesar di ASEAN dengan nilai mencapai 90 miliar USD. Ironisnya, Badan Pusat Statistik mencatat kontribusi pelaku UMKM yang memanfaatkan niaga elektronik atau e-commerce  baru sekitar 42,02 persen.

Atas kerisauan itu, Cucu proklamator Bung Karno itu  menggandeng BRIN untuk memberikan Bimtek tentang Digital Marketing kepada para pengusaha UMKM di Kabupaten Sidoarjo.  Puti menilai BRIN memiliki kewajiban moral untuk tidak tinggal diam melihat kondisi ini.

“BRIN tidak boleh hanya diam sebagai menara gading. Hasil riset BRIN tidak boleh hanya berakhir di rak perpustakaan, melainkan harus bisa dipahami dan diterapkan pelaku UMKM. Mari kita jadikan Bimtek digital marketing hari ini menjadi ajang penyuluhan sekaligus program nyata yang menyejahterakan rakyat,” pungkas Puti. (ton/red)

 

Tags: , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.