Perlunya Peningkatan Kualitas Tata Kelola dan Jejaring Destinasi Desa Wisata di Sidoarjo
SR, Surabaya – Desa wisata menjadi destinasi primadona pascapandemi. Bahkan, diperkirakan sebanyak 44 persen wisatawan memilih berwisata ke desa wisata pascapandemi Covid-19. Terkait hal itu, diperlukan pentingnya tata kelola dan jejaring destinasi desa wisata yang baik.
“Karena saat ini banyak sekali progres dari desa wisata, tapi ada juga yang jalan ditempat karena tidak bisa berkembang dan tidak bisa mengangkat perekonomian serta kesejahteraan warga setempat,” ujar Anggota Komisi X DPR RI Puti Guntur Soekarno dalam Forum Peningkatan Kualitas Tata Kelola dan Jejaring Destinasi Desa Wisata Kabupaten Sidoarjo yang diselenggarakan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Deputi Bidang Pengembangan Kualitas Tata Kelola dan Jejaring Destinasi Desa Wisata Kabupaten Sidoarjo, di Sidoarjo, Selasa (25/7/2023).
Cucu Bung Karno ini optimis, desa wisata khususnya di Sidoarjo terus berkembang dan maju. Terlebih, daerah ini memiliki potensi wisata yang luar biasa, mulai dari wisata edukasi, agrowisata, alam, budaya, hingga kuliner.
“Desa wisata ini harus dilihat secara komprehensif, sebuah entitas besar yang hidup, dimana didalamnya terdapat tradisi, adat, manusia dan interaksinya termasuk dengan alam yang harus terus dirawat. Kearifan lokal harus jadi poin penting dalam pembangunan desa wisata,” tandasnya.
Puti menambahkan, dalam mengembangkan tata kelola dan jejaring destinasi desa wisata harus memanfaaatkan teknologi digital yang berfungsi memperluas promosi.
“Kita juga harus adaptif, kreatif, berdaya saing tinggi untuk pengembangan desa wisata agar berkembang dengan baik,” pesan Puti.
Sementara itu, Koordinator Pengembangan Destinasi Kemenparekraf Wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur, Wisnu Sri Wijaya Recodemus mengatakan, paradigma pariwisata di Indonesia mengalami perubahan pasca pandemi Covid-19. Dimana wisata bukan lagi bersifat massal atau mass tourism tetapi lebih pada costumize tourism atau wisata yang lebih personal.
“Jika dulu mementingkan quantity (kuantitas kunjungan), sekarang lebih mengutamakan quality (kualitas kunjungan) yang mana ini menjadi keuntungan bagi kita untuk mendorong destinasi desa wisata. Maka dari itu kita perlu mewujudkan destinasi yang berkelanjutan,” kata Wisnu.
Untuk itulah, imbuh Wisnu, acara ini bertujuan meningkatkan kualitas destinasi desa wisata agar memiliki nilai ketertarikan, daya saing, dan berkelanjutan serta sebagai upaya meningkatkan lama tinggal wisatawan, sekaligus menguatkan tata kelola desa wisata.
Wisbu berpesan kepada pelaku sektor pariwisara untuk mendorong peningkatan kualitas destinasi desa wisata pasca pandemi, selain potensi desa, yakni Sertifikasi CHSE (Cleanliness, Health, Safety, Environment Sustainability).
Hal lainnya adalah meningkatkan kualitas keramahtamahan dan pelayanan, kesiapan mitigasi bencana, serta menyiapkan tata kelola sampah yang baik.
“Jadi bagaimana cara wisatawan yang datang tak hanya berkunjung, namun bisa mendapatkan wawasan, pengalaman, dan pengetahuan menarik saat berkunjung, sehingga setelah mereka pulang akan bercerita dan mengajak orang lain untuk berkunjung ke desa wisata tersebut. Mereka singgah dan membeli produk hasil desa itu,” katanya.
“Disinilah pentingnya Penerapan Sapta Pesona yaitu Aman, Tertib, Bersih, Sejuk, Indah, Ramah dan Kenangan,” sambungnya.
Berdasarkan data Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Sidoarjo, terdapat sebanyak 21 desa wisata di kota delta yang diakui dan memiliki Surat Keputusan (SK).
“Harapannya 21 desa wisata ini digarap dengan serius. Pesannya, harus kolaboratif dan sinkron antara BUMDes, PemDes, bersama pengelola destinasi agar pengembangan desa wisata ini bisa maksimal,” pungkas Kepala Disporapar Kabupaten Sidoarjo, Joko Supriyadi. (fos/red)
Tags: Destinasi Desa Wisata di Sidoarjo, Kemenparekraf, Peningkatan Kualitas, puti guntur soekarno
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.







